LIMAPULUH KOTA, forumsumbar —Koto Tinggi (Kabupaten Limapuluh Kota) dan Bonjol (Kabupaten Pasaman) sejak zaman Paderi mempunyai hubungan yang erat. Pembuktiannya dari cerita orang tua-tua, dan adanya jejak-jejak sejarah perang terhadap pasukan Belanda yang terjadi di daerah tersebut.
Seperti kisah yang ditulis oleh Komandan Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) Koto Tinggi dan “Harimau Pua” Ilyas Salim dan Syamsari. Adapun BPNK merupakan gerakan terbesar gerilyawan di Sumbar yang ikut melawan Belanda.
Ada tempat-tempat yang menjadi jejak sejarah tadi, di antaranya di atas sebuah bukit yang tidak berapa jauh dari Koto Tinggi terdapat Gua Imam Bonjol dan Benteng Syech Lubuak Aua, serta benteng Belanda di sebuah bukit di Pua Data yang menghadang jalan arah Bonjol.
Jalan yang menghubungkan Koto Tinggi dengan Bonjol bisa kita tempuh dengan berjalan kaki, melalui hutan yang lebat dan sungai yang deras air nya. Tak asing lagi dengan Batang Kuriman, nama seorang pertapa yang menjadi batu di masa dulu, di tempat itu yang sampai sekarang masih jadi Legenda.
Jalan yang bersejarah sejak Tuanku Imam Bonjol, yang terkenal dengan Aia Papo, sebuah sungai kecil yang pernah menjadi tempat pertempuran hebat antara pasukan Paderi dengan Belanda, pun juga kalau kita dari Koto Tinggi menuju Bonjol kita akan menempuh penurunan Batu Badoro, jalan di atas batu terjal yang curam.
Jalan ini sejak tahun 1945 sampai tahun 1950 ramai dilalui orang, sebab Koto Tinggi dan Bonjol, ada kaitan ekonomi yang saling membutuhkan.
Kalau kita lihat sekarang banyak sumando Koto Tinggi yang berasal dari Bonjol dan begitu pula sebaliknya.
Jalan Koto Tinggi-Bonjol ini dapat ditempuh dalam 5 jam perjalanan santai, dan jalan inilah yang ditempuh oleh rombongan pemuda Nawi, anggota BPNK Koto Tinggi yang tergabung dalam pasukan “Harimau Pua”.
Nawi berbadan jangkung dan perawakan tegap, yang sedang menjalankan tugas dari Komandan-nya Ilyas Salim untuk membawa tawanan sebanyak 2 orang (satu Belanda satu lagi Indonesia) ke daerah Pasaman.

Menurut cerita, Belanda itu dikirim ke Indonesia adalah untuk menjadi pegawai, sebab Indonesia sudah aman. Ini diceritakan oleh Belanda tersebut kepada Komandan BPNK Koto Tinggi Ilyas Salim, tapi di atas kapal terbang yang membawanya ke Indonesia dia diberi senjata dan pakaian militer.
Dengan selamat, sampai lah rombongan Nawi tersebut di Bonjol pada sore harinya, jurusan tawanan selanjut nya diserahkan kepada CPM, dan Nawi bermalam di sana.
Keesokkan harinya Nawi berangkat meninggalkan Bonjol menuju Koto Tinggi. Tiba tiba saja pesawat capung menderu di udara di atas daerah Bonjol sambil menjatuhkan bom.
Tuhan tidak membiarkan Belanda leluasa, bom meletus di atas pesawat. Sebab sudah itu pesawat capung tersebut melayang-layang rendah dan jatuh, sayapnya robek sebelah.
Pesawat capung Belanda tersebut jatuh ke sungai, dan kebetulan Nawi tidak berapa jauh dari tempat kejadian itu.
Pemuda Bonjol datang mengerumuni pesawat capung tersebut sambil mancari pilot Belanda yang ada di pesawat itu.
Bersama pemuda Bonjol yang bernama Guru Ali yang bersenjatakan kapak, Nawi ikut bersama sama ke tempat kejadian itu.
Banyak pemuda-pemuda tersebut mencari ke dalam air, sebab di dalam pesawat tidak ditemui pilotnya.
Di pinggir sungai Nawi dan Guru Ali menemui jejak yang mengarah naik ke bukit kecil menuju pinggir hutan. Dengan semangat yang meluap-luap Nawi dan Guru Ali mengikuti jejak tersebut sehingga ditemui kayu yang masih basah bekas dilalui orang.
Tidak berapa lama antaranya, Nawi melihat 2 orang Belanda duduk di atas batu, yang seorang sedang memasang verban pada tangan kawannya yang cedera.
Nawi langsung menyelinap ke pinggir batu yang banyak di situ, guna mendekati musuh, tapi malang, Belanda melihat Guru Ali dan menembakkan pistol nya. Sehingga mengenai bahu Guru Ali, Guru Ali mengeluarkan kata-kata, “Mengapa kau tembak saya???”
Nawi tidak membuang kesempatan yang baik itu, lalu melompati Belanda itu dan sekaligus melakukan tendangan ke tangan Belanda yang memegang pistol. Pistol itu meletus dan terpelanting jauh.
Terjadilah pergumulan antara Nawi dan si Belanda. Hempas menghempaskan, himpit menghimpit. Rupanya Belanda itu mempunyai kemampuan bela diri yang lumayan bagus, sehingga Nawi merasa terdesak.
Di saat-saat yang menegangkan itu, Nawi teringat sebuah pisau yang terselip dipinggangnya dan seketika itu juga Nawi menikamkan pisaunya kepada Belanda tersebut dan Belanda itu menemui ajalnya di tangan Nawi.
Sesudah itu Nawi melihat Belanda yang seorang lagi telah melarikan diri.
Dan waktu Nawi akan melangkahkan kakinya terasa agak pegal, dan dilihat rupanya betis yang sebelah kanan kena peluru waktu dia menyepak Belanda tadi.
Nawi terduduk, dan tak lama kemudian datang lah pemuda-pemuda ke tempat kejadian itu, langsung membawa Nawi dan Guru Ali, yang lain menyusul Belanda yang hilang tadi.
Tidak lama kemudian Belanda yang hilang ditemukan tidak jauh dari situ, sadang bersembunyi di dalam hutan.
Keesokkan harinya Nawi pulang kembali ke Koto Tinggi dengan kaki yang pincang dan membawa sobekan telinga Belanda serta sobekan sayap pesawat capung yang jatuh itu.
Demikian lah kisah Nawi seorang anggota Pasukan BPNK Koto Tinggi, yang dikenal sebagai pasukan “Harimau Pua”.
(Kisah ini ditulis oleh Komandan BPNK Koto Tinggi dan “Harimau Pua” Ilyas Salim dan Syamsari)























