
JAKARTA, forumsumbar — Pada tanggal 6 April 1970, suasana pagi di Istana Negara tampak biasa-biasa saja. Namun di balik kesederhanaan itu, Presiden Soeharto tengah menyiapkan langkah besar yang nyaris tak diketahui siapa pun —sebuah perjalanan rahasia ke Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Bukan kunjungan kenegaraan, bukan pula acara seremonial dengan penyambutan meriah. Inilah bentuk paling tulus dari kepemimpinan Soeharto: blusukan diam-diam untuk menatap langsung wajah rakyatnya.
Presiden Soeharto berangkat dari Jakarta tanpa iring-iringan mewah, hanya menaiki Toyota Hi-Ace sederhana dengan pengawalan minimal. Bahkan pasukannya pun diminta menjaga jarak agar tak menarik perhatian.
Ia ingin menyaksikan sendiri denyut kehidupan rakyat, mendengar keluh kesah para petani, dan melihat bagaimana kebijakan pembangunan dijalankan di akar rumput.
Perjalanan itu membawanya menyusuri Subang, Indramayu, Tegal, Purwokerto, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur, hingga Sukabumi. Banyak kepala daerah dibuat kalang kabut karena tak tahu sang presiden akan datang. Namun di situlah nilai sejati dari kunjungan ini —kejujuran tanpa topeng protokol.
Dalam buku Selamat Jalan Pak Harto (2008), Sukardi Rinakit menulis bagaimana Soeharto menganggap blusukan sebagai sarana untuk memahami rakyatnya secara nyata. Ia menyadari bahwa memimpin tanpa melihat langsung kondisi rakyat adalah hal mustahil. Dengan wajah serius, Soeharto pernah berkata;
“Untuk membuat semua orang bisa makan telur, bosan makan ayam, mendapat pendidikan dan kesehatan, dibutuhkan perjuangan berat dalam tempo panjang. Tidak mudah mencapai semua itu,” ujar Soeharto.

Kritik, caci maki, hingga tekanan internasional tak jarang menghantam kebijakannya. Namun Soeharto tetap teguh. Baginya, seorang pemimpin harus menyatu dengan rakyat bukan sekadar memerintah dari balik meja kekuasaan.
Dalam catatan Jenderal (Purn) Try Sutrisno di buku Pak Harto: The Untold Stories (2011), perjalanan itu begitu sederhana dan mengharukan. Mereka tidak pernah makan di restoran, melainkan menginap di rumah kepala desa atau rumah penduduk. Logistik dibawa dari Jakarta, lengkap dengan sambal teri dan kering tempe buatan Ibu Tien.
“Kami benar-benar prihatin saat itu. Saya melihat Pak Harto sangat menikmati perjalanan keluar masuk desa itu,” kenang Try Sutrisno, yang ikut bersama Presiden Soeharto.
Dari sinilah lahir banyak program pembangunan rakyat yang tepat guna. Soeharto tidak ingin mendengar laporan dari atas meja ia ingin melihat, merasakan, dan mendengarkan langsung suara hati rakyat kecil.
Perjalanan rahasia itu menjadi potret langka dari kepemimpinan yang membumi, diam tapi sarat makna. Sebuah kisah tentang seorang presiden yang memilih menapaki tanah sawah daripada karpet merah, demi memahami denyut nadi bangsanya.
(Tan)
Sumber: voi.id























