
PENGANTAR REDAKSI;
Dari Kobe Jepang, Presiden Internasional ACIKITA Dr Eng Jumiarti Agus berkirim surat/cerita kepada redaksi forumsumbar.com, mengenai aktivitas/kegiatan lembaga ACIKITA yang ia pimpin. Dan juga cerita-cerita/pengalaman menarik tentang kehidupan di Jepang yang enak untuk dibaca. Berikut tulisan dari Jumiarti Agus –yang bersama keluarga telah lama bermukim di Kobe Jepang;
SALAH satu sisi unik kehidupan sekolah di Jepang yang menarik untuk diperhatikan adalah kebiasaan murid-murid berpindah ruangan saat pergantian jam pelajaran. Bukan hanya di tingkat SMP atau SMA, di sekolah dasar pun murid-murid sudah terbiasa bergerak dari satu ruang ke ruang lain sesuai dengan jenis pelajaran dan kegiatan yang akan mereka ikuti.
Jika kita membayangkan sekolah sebagai tempat murid duduk di bangku yang sama dari pagi hingga siang, suasana di sejumlah sekolah Jepang bisa memberikan gambaran yang berbeda. Di sini, kegiatan belajar tidak selalu berlangsung di satu ruang kelas.
Ada waktunya murid menuju ruang musik, hall, lapangan olahraga, ruang berkarya atau art room, ruang kesehatan atau hoken shitsu, hingga perpustakaan. Bahkan, ada pula kegiatan yang berlangsung di ruang menjahit dan ruang memasak.
Dengan pola seperti di atas, sekolah terasa lebih dinamis. Murid tidak hanya berpindah dari satu materi pelajaran ke materi lainnya, tetapi juga berpindah lingkungan belajar sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Musik, Perpustakaan, hingga Dapur Sekolah
Coba bayangkan suasana ketika bel pergantian pelajaran berbunyi. Murid-murid mulai merapikan perlengkapan mereka, memeriksa buku atau alat yang perlu dibawa, kemudian berjalan menuju ruangan berikutnya.
Jika jadwalnya pelajaran musik, mereka menuju ruang musik yang menyediakan berbagai alat untuk mendukung kegiatan bernyanyi dan memainkan instrumen. Ketika waktunya berolahraga, mereka bergerak ke lapangan atau hall, tergantung jenis kegiatan dan kondisi yang tersedia.
Pada pelajaran seni atau art, murid dapat menggunakan ruang berkarya yang mendukung kegiatan menggambar, melukis, membuat kerajinan, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya.
Ketika pelajaran membutuhkan sumber bacaan, mereka menuju perpustakaan. Sementara itu, kegiatan tertentu dapat dilaksanakan di ruang khusus untuk menjahit atau memasak, sehingga murid memiliki kesempatan untuk belajar keterampilan praktis melalui pengalaman langsung.
Ada pula ruang kesehatan yang dikenal dengan istilah hoken-shitsu (保健室), yaitu ruangan yang digunakan untuk kebutuhan kesehatan dan tempat murid memperoleh bantuan ketika merasa tidak sehat. Ruangan ini memiliki fungsi yang berbeda dari ruang pelajaran biasa.
Tentu saja, penggunaan ruangan dan fasilitas tersebut berbeda-beda di setiap sekolah, sesuai dengan fasilitas, jadwal, serta kurikulum yang diterapkan.

Anak SD Pun Sudah Terbiasa Berpindah Ruangan
Hal menariknya, kegiatan berpindah ruangan ini bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan murid yang sudah beranjak remaja. Di sekolah dasar Jepang, murid juga dapat menjalani kegiatan belajar di berbagai tempat sesuai kebutuhan pelajaran.
Pengalaman ini membuat mereka mengenal lingkungan sekolah secara lebih luas. Mereka belajar bahwa setiap ruangan memiliki fungsi dan aturan yang berbeda.
Saat menuju ruang musik, misalnya, mereka perlu mempersiapkan perlengkapan yang sesuai. Ketika akan berolahraga, mereka mengikuti aturan keselamatan dan menggunakan fasilitas dengan tertib. Saat berkegiatan di ruang seni atau memasak, mereka belajar menjaga alat, merapikan tempat, serta mengikuti petunjuk guru.
Dari rutinitas tersebut, anak-anak berkesempatan mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab sejak dini. Mereka tidak hanya belajar memahami materi pelajaran, tetapi juga berlatih mengatur barang bawaan, memperhatikan jadwal, menjaga ketertiban, dan memanfaatkan fasilitas sekolah dengan baik.
Tentu, semua itu tidak terjadi secara otomatis hanya karena murid berpindah ruangan. Peran guru, pembiasaan, dan aturan sekolah tetap menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku tersebut.
Di SMP, Ruang Belajar Bisa Semakin Beragam
Memasuki jenjang SMP, kegiatan berpindah ruangan dapat menjadi semakin beragam karena mata pelajaran dan kebutuhan pembelajaran bertambah.
Selain ruang musik, seni, perpustakaan, dan fasilitas olahraga, murid dapat menggunakan laboratorium sains serta ruang teknologi. Di laboratorium teknologi, misalnya, kegiatan belajar bisa melibatkan penggunaan peralatan, pengenalan teknologi, pembuatan karya, atau praktik sesuai materi yang diajarkan.
Murid tidak sekadar membaca teori dari buku, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat, mencoba, membuat, dan mengamati secara langsung.
Perbedaan fungsi setiap ruangan membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan karakter mata pelajaran. Belajar sains terasa berbeda ketika dilakukan di laboratorium, sebagaimana kegiatan memasak dan menjahit membutuhkan peralatan serta lingkungan yang mendukung praktik.
Inilah salah satu hal yang membuat kehidupan sekolah terasa lebih bervariasi. Setiap pergantian pelajaran dapat menghadirkan suasana, perlengkapan, dan pengalaman yang berbeda.

Sekolah Tidak Monoton, Murid Pun Tidak Terus Duduk di Tempat yang Sama
Berpindah ruangan memberikan perubahan suasana di tengah rutinitas sekolah. Murid memiliki kesempatan untuk bergerak, melihat lingkungan yang berbeda, dan berinteraksi dengan teman-teman ketika menuju ruang berikutnya.
Perpindahan tersebut memang hanya berlangsung dalam waktu singkat. Namun, jika menjadi bagian dari rutinitas harian, aktivitas ini ikut membentuk ritme kehidupan sekolah yang lebih dinamis.
Murid tidak hanya duduk di bangku kelas, mendengarkan penjelasan guru, mencatat, lalu mengerjakan soal. Ada saatnya mereka bernyanyi, berolahraga, membaca buku di perpustakaan, membuat karya, melakukan percobaan, atau mempraktikkan keterampilan sehari-hari.
Dengan demikian, kegiatan belajar tidak hanya berpusat pada penyampaian materi, tetapi juga memberi ruang bagi pengalaman langsung dan aktivitas yang beragam.
Meski demikian, sistem berpindah ruangan juga memerlukan pengaturan yang baik. Jadwal harus jelas, waktu perpindahan perlu diperhitungkan, dan murid harus terbiasa menjaga ketertiban agar kegiatan belajar tetap efektif.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Pengalaman Sekolah di Jepang?
Pengalaman ini memberikan inspirasi bahwa suasana belajar dapat dibangun melalui pemanfaatan ruang dan fasilitas sekolah secara optimal.
Sekolah tidak harus selalu mengandalkan satu ruang kelas untuk semua kegiatan. Jika fasilitas memungkinkan, ruang-ruang khusus dapat digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran. Bahkan, kegiatan di perpustakaan, halaman, atau ruang terbuka pun dapat memberikan suasana berbeda tanpa harus membangun fasilitas yang terlalu rumit.
Bagi sekolah di Indonesia, tentu tidak semua sistem perlu ditiru secara persis. Kondisi bangunan, jumlah murid, ketersediaan ruangan, dan kebutuhan setiap sekolah berbeda-beda. Namun, semangat untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih beragam dapat menjadi inspirasi yang berharga.
Sebab, anak-anak belajar bukan hanya melalui apa yang mereka dengar dari guru atau baca di buku. Mereka juga belajar melalui gerakan, pengamatan, percobaan, kreativitas, dan pengalaman melakukan sesuatu secara langsung.

Sekolah Bukan Sekadar Ruang Kelas
Salah satu sisi menarik sekolah di Jepang adalah bagaimana berbagai ruang dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan sehari-hari. Dari ruang musik hingga laboratorium teknologi, dari perpustakaan hingga ruang memasak, setiap tempat memiliki peran dalam mendukung kegiatan belajar.
Bagi murid sekolah dasar, kebiasaan ini menjadi kesempatan untuk mengenal berbagai aktivitas dan melatih kemandirian. Sementara bagi murid SMP, bertambahnya variasi mata pelajaran membuat penggunaan ruang khusus semakin relevan.
Pada akhirnya, yang menarik bukan semata-mata kebiasaan murid berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak dapat belajar dengan cara yang beragam, aktif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sekolah bukan hanya tempat untuk duduk dan mendengarkan. Sekolah adalah lingkungan tempat anak-anak bergerak, mencoba, berkarya, berinteraksi, dan menemukan pengalaman baru setiap harinya.
Dan mungkin, dari sinilah kita bisa melihat bahwa suasana belajar yang menarik tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Terkadang, pemanfaatan ruang yang tepat dan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung sudah dapat membuat kehidupan sekolah terasa lebih hidup dan tidak monoton.
Di foto yang diisertkan pada postingan ini, terlihat Hime-chan murid pertukaran pelajar dari Indonesia juga bergerak menuju perpindahan ruangan, pengalaman yang tidak semua anak Indonesia merasakannya. Maka setiap anak Indonesia yang datang belajar ke sekolah di Jepang selalu berucap, “Aku senang banget bersekolah di sini.”
Semoga pengalaman mengikuti ACIKITA Student Exchange ini bisa makin menyemangati mereka untuk serius menamatkan sekolah di tanah, dan sukses menuju universitas impiannya.
Aamiin YRA
Bagi yang ingin melejitkan anak-anaknya, ingin mengikuti pertukaran pelajar di sekolah Jepang, bisa menghubungi ACIKITA, WA +81-80-3333-1327.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jumiarti Agus
Presiden Internasional ACIKITA
Kobe, 10 Oktober 2026
#ACIKITAStudentExchange
#sistempendidikanJepang
(Putrie)
























