
Oleh: Widya Mardiah
(Mahasiswi Fakultas Hukum Unand)
ERA hari ini, kosmetik kian semakin digandrungi banyak kalangan, tak hanya perempuan, laki-laki yang menggunakan kosmetik pun dianggap merupakan hal yang lumrah dan dihargai keberadaannya.
Di Indonesia sendiri, dahulu kosmetik bukanlah suatu hal yang biasa untuk digunakan bagi laki-laki. Faktanya, berdasarkan temuan sejarah, kosmetik memang ditujukan untuk laki-laki. Bukti awal penggunaan kosmetik, ditemukan pada makam Firaun Mesir kuno, kemudian bukti arkeologi penggunaan kosmetik bisa ditelusuri sejak zaman Mesir kuno dan Yunani kuno.
Menurut sejumlah sumber, perkembangan awal kosmetik bisa diketahui sejak bangsa Mesir kuno menggunakan minyak jarak sebagai pengganti balsem, atau penggunaan krim kulit yang terbuat dari lilin lebah, minyak zaitun dan air mawar pada zaman Romawi.
Kosmetik lebih dari hanya sekedar guratan warna, ia adalah refleksi dari keberanian untuk mengekspresikan diri. Ibarat kata dalam lirik lagunya Nadin Amizah ‘semua aku dirayakan’, di masa kini kebiasaan itu bukan lagi hak paten perempuan, tetapi bagi setiap individu yang ingin merayakan keunikan mereka.
Bak palet warna yang tak terbatas, kosmetik adalah cermin identitas, menyingkap cerita yang tak terucap dan kepercayaan diri yang tak terbendung.
Bagi laki-laki maupun perempuan, kosmetik adalah seni diri- sebuah kanvas yang melukiskan jiwa, melampaui batasan gender, dan merangkul kecantikan dalam segala bentuk.
Setiap lapisan warna yang disapukan di wajah menyimpan rahasia sejarah-perjuangan antara makna keanggunan dan pemberontakan terhadap norma.
Dalam setiap polesan lipstik, sapuan bedak, tersimpan kisah evolusi yang bertansformasi menyatukan tradisi, budaya, juga perwujudan jati diri.
Tak dapat dihindari, karakter utama apiknya penggunaan kosmetik ini adalah pengaruh yang besar dari influencer ternama, mendorong semua individu untuk merawat penampilan, kini kosmetik meluas bukan hanya untuk menutupi kekurangan, tapi juga sebagai bentuk self-care dan peningkatan kepercayaan diri.
Mengikuti perkembangan zaman, banyak brand kosmetik yang berpacu untuk memasarkan produk mereka dengan lebih inklusif, sehingga banyak pria mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan kulit, mulai dari menggunakan produk perawatan seperti sunscreen, pembersih wajah, dan serum anti-aging.
Meskipun rupawan tergambarkan kosmetik itu, namun ternyata penggunaan kosmetik pernah ditentang dalam sejarah barat. Dilansir dari Wikipedia, bahwa pada abad ke-19, Ratu Victoria terang-terangan menyatakan bahwa penggunaan kosmetik adalah hal yang tidak pantas, vulgar, dan hanya boleh digunakan oleh para permain teater.
Namun, pada pertengahan abad ke-20, kosmetik semakin dikenal oleh semua wanita di negara-negara industri di seluruh dunia. Bereformasi dengan cepat, hingga saat ini kosmetik telah menjadi simbol kebebasan bagi semua orang, termasuk pria, untuk mengekpresikan yang tak terucap.
Menggambarkan perubahan dinamis manusia yang lebih inklusif, bahwa beauty privilege adalah hal yang nyata, sehingga mendorong individu untuk merawat diri tanpa terkekang oleh norma-norma gender konvensional.
Kosmetik kini telah menjadi simbol kemerdekaan seorang individu untuk menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. *)
























