
Cahaya di Langit Pagaruyuang
(Untuk Putri Penerus Kerajaan Pagaruyuang Bundo Raudha Thaib)
Oleh: Leni Marlina
1)
Kala itu di langit Pagaruyuang,
Di bawah sayap senja yang tak mengenal lelah,
lahir seberkas cahaya dari Puti Reno,
mengalir dalam arteri Minangkabau,
ilmu dan seni berpadu,
seperti embun yang bersemedi di ujung dedaunan,
menerobos kabut waktu, mengiris sunyi zaman.
Bundo Raudha, demikian kami menyebut namamu,
bukan sekadar nama dalam sejarah,
tapi suara yang menembus bumi,
menyelami akar enau,
menumbuhkan tunas harapan di tanah yang haus,
mengubah hutan menjadi nadi kehidupan,
memintal mimpi di ladang fakultas,
merajut narasi budaya dengan benang ilmu,
di mana ilmu tak lagi sekadar logika,
tetapi roh yang berembus di balik huruf-hurufmu.
2)
Engkau berdiri di puncak harapan,
dengan lengan terbuka,
menerima arus waktu
seperti sungai yang setia mengalir
melalui hutan-hutan yang kau rawat,
membuat hutan itu bernyanyi
dalam nada-nada ilmu dan seni.
Engkau ucapkan kata tanpa tepuk tangan,
namun gema ucapanmu melingkari puncak bukit,
menggetarkan dedaunan yang terdiam.
Dalam karya, kau adalah hujan yang tak terlihat,
menyirami akar-akar pemikiran yang kering,
melahirkan hutan pengetahuan,
di mana kami berteduh dari riuh badai kehidupan.
3)
Upita Agustine,
nama penamu yang tak hanya menggores,
tapi menusuk langit dengan warna-warna baru.
Di panggung yang tak kasat mata,
Engkau melangkah dan beraksi bersama bayang-bayang samudra,
melayarkan gelombang cerita di atas ombak yang sunyi,
mewarnai senja Sumatra
dengan lembayung kata-kata yang tak bakal redup.
Dari bianglala ke laut biru,
di antara dua kutub itu, engkau lukis impian,
di atas kanvas yang utuh,
di mana harapan tumbuh liar,
menciptakan dunia baru,
di mana impian menemukan rumahnya.
Di tengah pusaran waktu yang terus menggulung,
engkau menjadi pelita yang tak padam,
menyulut semangat di hati kami,
menghidupkan semangat yang terselip di benih pemikiran,
mengajarkan kami bahwa mimpi tidak berhenti pada imajinasi,
tetapi menjelma menjadi cahaya yang menuntun langkah dan aksi.
4)
Bundo Raudha,
kekasih budaya, penjelajah imaji,
melampaui batas yang tak tampak,
mengabdi untuk Ibu pertiwi, sebagai akademisi dan sastrawati,
Bundo Kanduang yang menjaga esensi,
memegang erat identitas dan kepercayaan,
membawa Minangkabau ke puncak yang tak terlihat,
di mana keberagaman adalah jembatan
dan kekuatan berakar dari kebersamaan,
engkau berdiri kokoh,
seperti gunung yang tak gentar menantang badai.
Dalam setiap helai karyamu,
engkau hidupkan enau yang tersembunyi,
memberi petani tak hanya alat,
tapi juga impian yang tumbuh dari tanah.
Mengalirkan napas kehidupan ke seluruh negeri,
cahaya harapan yang pantang surut,
melintasi lembah-lembah sunyi,
menyusup ke dalam hati yang terlupakan,
memberikan sayap pada jiwa-jiwa yang tertunduk.
5)
Kami, para milineal dan generasi era digital,
berdiri dalam kekaguman yang hening,
mendengar namamu bergema di dedaunan,
mencium jejakmu yang tercetak di tanah leluhur, Ranah Minangkabau.
Setiap langkahmu membawa kami lebih dekat,
menuju cakrawala di mana impian dan kenyataan bertaut,
di mana harapan menemukan pijakan baru,
di bawah langit yang tak pernah benar-benar gelap.
Bundo Raudha,
ucapan terima kasih takkan pernah cukup,
untuk mewakili teladan dan ilmu yang engkau berikan,
untuk setiap motivasi dan kebaikan yang engkau tebarkan,
untuk setiap mimpi dan inspirasi yang kau nyalakan.
Engkau adalah cahaya bulan Agustus yang takkan pernah redup di sepanjang tahun.
Engkau menjadi penunjuk arah dan panutan
di jalan kami yang masih panjang dan penuh liku dan bebatuan.
Padang, Sumbar, 2020
Sekilas Penulis
Puisi ini dibuat oleh penulis untuk generasi muda dan semua umur dengan harapan suatu hari ada siswa-siswi/ anak muda, mahasiswa, masyarakat umum yang mendeklamasikannya secara langsung atau melalui video di sekolah/ kampus/komunitas, dll, dan berbagi info kegiatannya dengan WCLC. Salam semangat dan hangat dari WCLC (World Children’s Literature Community): https://shorturl.at/acFv1
Puisi ini awalnya ditulis sebagai bagian dari koleksi puisi pribadi Leni Marlina pada tahun 2020. Puisi tersebut diedit dan kemudian dipublikasikan untuk pertama kalinya di media digital pada tahun 2024.
Leni Marlina telah mengabdi sebagai dosen tetap di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) sejak tahun 2006. Penulis juga merupakan pendiri dan kepala beberapa komunitas sastra dan pendidikan, termasuk World Children’s Literature Community (WCLC), POETRY-PEN International Community, serta Komunitas Membaca dan Menulis Puisi Indonesia (PPIPM: Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat).
Selain itu, penulis mendirikan dan memimpin dua kursus bahasa Inggris: ECSC (English Children’s Literature Smart Course) dan MEC (Marvelous English Course), serta komunitas sosial berbasis digital, Starcom Indonesia (Starmoonsun Eduprenuer Community Indonesia). Sebagai anggota aktif dari Perkumpulan Penulis Indonesia SATU PENA Sumatera Barat, penulis juga terlibat dalam kolaborasi internasional, seperti Victoria Writers Association di Australia dan ACC International Writers Community di Hong Kong. *)
























