
Oleh: Uswah Qoimah
BULAN RAMADHAN adalah bulan yang paling dinantikan oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia, salah satunya negara Indonesia. Hal ini karena masyarakat Indonesia mayoritasnya beragama islam.
Kali ini saya akan membahas beberapa tradisi yang biasa dilakukan dan mungkin juga sudah mulai dilupakan di Kabupaten Pesisir Selatan. Beberapa tradisi yang akan saya bahas kali ini yaitu mandi balimau, malamang, ziarah, marandang, maobor, mantaan nasi ka rumah mintuo, dan mandoa basamo.
Salah satu tradisi yang paling sering didengar untuk menyambut bulan Ramadhan adalah mandi balimau, bukan hanya di Pesisir Selatan saja, tapi di daerah lain pun juga ada tradisi ini.
Tradisi ini merupakan tradisi yang paling terkenal dibandingkan tradisi yang lain. Ketika akan memasuki bulan suci Ramadhan, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua akan pergi ke sebuah sungai atau tempat pemandian lainnya untuk mandi balimau.
Mandi balimau sudah ada dari dulu di Minangkabau. Dulu mandi balimau ini digunakan untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Orang dulu, mandi balimau menggunakan limau karena dulu belum ada sabun untuk mandi, tetapi seiring perkembangan zaman seperti sekarang orang-orang menggunakan sabun dan shampoo untuk mandi balimau.
Tradisi selanjutnya yaitu malamang. Malamang ini juga cukup terkenal, namun belakangan ini di beberapa daerah di Sumatera Barat tradisi malamang ini mulai tidak terlaksana lagi.
Termasuk Pesisir Selatan, di beberapa daerah tradisi malamang ini mulai tidak terlaksana lagi. Dari beberapa orang yang saya ajukan pertanyaan mengenai mengapa malamang ini mulai tidak dilakukan lagi, rata-rata jawaban mereka sama, yaitu: malamang itu tidak lah mudah dan memakan waktu yang lumayan lama. Tetapi masih banyak juga daerah yang melakukan tradisi malamang .
Selanjutnya ada tradisi ziarah ke kuburan. Sampai saat ini tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat Pesisir Selatan. Bukan hanya di Pesisir Selatan, tetapi juga seluruh Indonesia.
Biasanya yang dilakukan ketika ziarah ke kuburan itu adalah membersihkan makam dan membacakan doa untuk keluarga yang sudah meninggal. Biasanya ziarah ke kuburan ini dilakukan dua minggu atau seminggu menjelang bulan Ramadhan.
Tradisi selanjutnya yaitu marandang. Tidak terlalu banyak daerah yang melakukan tradisi ini, hanya beberapa daerah saja yang masih mempertahankan tradisi ini. Seperti contoh di Pesisir Selatan yaitu di daerah Bayang, tradisi ini masih di lakukan. Walaupun tidak semua masyarakatnya yang melakukan tradisi marandang ini.
Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum puasa dimulai. Randang yang dimasak ini digunakan untuk menjadi lauk ketika sahur pertama dan berbuka puasa pertama di bulan Ramadhan.
Tradisi marandang ini juga ada di daerah lain selain Pesisir Selatan, contohnya di daerah Tanah Datar tradisi marandang masih dilakukan, tetapi bedanya dengan yang ada di Pesisir Selatan itu adalah di Tanah Datar menggunakan daging kerbau, sedangkan di Pesisir Selatan menggunakan daging sapi.
Di Tanah Datar ini biasanya mengadakan sebuah pasar yang khusus untuk menjual bahan-bahan marandang. Biasanya pasar ini diadakan sehari atau dua hari sebelum puasa pertama di mulai. Contoh lain nya seperti di Pariangan. Tetapi bedanya di Pariangan ini bukan merandang, melainkan tradisi memakan daging-dagingan sebelum memasuki bulan puasa, baik itu daging sapi ayam atau daging lainnya.
Selanjutnya kita beralih ke tradisi maobor atau pawai obor. Dari 3 orang yang berasal dari daerah yang berbeda di Pesisir Selatan, maobor atau pawai obor ini hanya ada di daerah Surantih.
Maobor ini dilakukan saat malam sebelum puasa di mulai. Tetapi di Surantih ini maobor atau pawai obor ini lebih sering di adakan sebelum hari raya. Yang ikut maobor atau pawai obor ini bukan hanya anak-anak saja, tetapi juga remaja bahkan ada juga orang dewasa seperti pemuda-pemuda nagari dan juga ada bapak-bapak, biasanya pemuda-pemuda yang sering berkumpul di masjid ikut dalam pawai obor ini.
Tradisi selajutnya adalah maantaan nasi (ronjok) ke rumah mintuo. Informasi mengenai tradisi ini saya dapatkan dari seorang teman saya yang berasal dari daerah Tapan, Pesisir Selatan. Tapi di beberapa daerah lain di Pesisir Selatan juga masih ada tradisi maantaan nasi ke rumah mintuo ini.
Biasanya isi dari ronjok ini yaitu berupa nasi, lauk pauk, dan berbagai macam kue seperti agar-agar, lapek, ondeh-ondeh, kue lapis, dan banyak lagi macamnya. Biasanya tradisi maantaan nasi ke rumah mintuo ini di lakukan pada sehari sebelum hari pertama puasa.
Tradisi terakhir yang akan saya bahas kali ini adalah mandoa basamo (berdoa bersama), tradisi ini masih sering di lakukan, dan bisa sering kita temui di Pesisir Selatan. Tradisi mandoa basamo ini biasa di lakukan seminggu atau 3 hari sebelum puasa. Tradisi mandoa basamo ini bisa dilakukan di rumah dengan seluruh anggota keluarga saja atau bisa juga di mushalla atau di masjid bersama masyarakat kampung lainnya.
Di kampung saya tradisi ini biasanya di lakukan di masjid, dibuatkan sebuah acara khusus dengan berbagai acara seperti pembacaan ayat suci Al-Quran, sepatah kata dari pimpinan nagari, ada tausiah, kuis, qasidah rabana, berdoa bersama lalu makan bersama.
Itulah dia beberapa tradisi menjelang bulan Ramadhan yang ada di Pesisir Selatan, mungkin ada tradisi lain yang terlewatkan oleh saya, karena saya masih belum melakukan survei ke beberapa daerah lain. Saya berharap semua tradisi ini tetap terjaga dengan baik, dan yang mulai hilang agar tetap di jaga sehingga tidak hilang agar tetap bisa sampai ke anak cucu kita nantinya. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























