• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, Agustus 11, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Tradisi Parang Pisang di Surantih Kabupaten Pesisir Selatan

30 Maret 2023
in Opini
Reading Time: 4min read
Views: 2,067
Loren Vinoltia, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

Oleh: Loren Vinoltia

DI DAERAH Surantih Kabupaten Pesisir Selatan mempunyai tradisi unik, yaitu Parang Pisang. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati atau merayakan jika terlahir bayi kembar sumbang, dimana bayi kembar sumbang ini adalah bayi kembar yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Tujuan dari tradisi ini adalah untuk memisahkan batin si bayi agar tidak timbulnya perasaan saling suka satu sama lain ketika mereka sudah dewasa nanti. Sebab tradisi ini meyakini bahwa, bayi yang telah bersama sejak dalam kandungan batin mereka akan menyatu.

Lihat Juga

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda

7 Agustus 2026
24
Jalan Tol dan Tanah Ulayat: Mencari Titik Temu

Jalan Tol dan Tanah Ulayat: Mencari Titik Temu

1 Agustus 2026
28
Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda

Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda

30 Juli 2026
21

Tradisi Parang Pisang ini dianggap unik karena nama dan bentuk perayaannya yang dilakukan dengan melemparkan pisang oleh kedua pihak keluarga.

Parang merupakan bahasa Minang yang berarti perang. Sementara pisang adalah buah pisang. Jadi Parang Pisang memiliki arti; perang dengan menggunakan pisang sebagai alatnya.

Parang Pisang tersebut dilakukan oleh dua keluarga, yaitu keluarga si bayi kembar dan keluarga Induak Bako (keluarga terdekat, seperti kakak atau adik kandung yang perempuan dari pihak bapak/ayah, sedangkan yang agak jauh bisa berasal dari kakak atau adik kandung dari ayah istri).

Kegiatan Parang Pisang ini selalu mampu menarik perhatian masyarakat karena keseruan yang dihadirkan dalam aksi saling lempar pisang tersebut.

Proses Tradisi Parang Pisang

Parang Pisang merupakan suatu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di daerah Surantih. Tradisi ini termasuk ke dalam kearifan lokal masyarakat Minangkabau, khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

Adanya tradisi ini untuk memperingati lahirnya bayi kembar sepasang. Menurut informan yang bernama Rosmai, tradisi ini mulai dilakukan khalayak sejak tahun 1940-an (tetapi bisa jadi, tradisi ini sudah dilakukan jauh sebelum tahun itu).

Tradisi ini bermula ketika masyarakat meyakini sebuah cerita yang dilakukan secara turun-temurun dan terus dilakukan dari generasi ke generasi tentang sebuah keluarga yang memiliki bayi kembar sepasang.

Banyak cerita yang berkembang kemudian dari pengalaman keluarga yang memiliki bayi kembar sepasang tersebut dianggap suatu keanehan dan mereka mempercayai kejadian itu adalah sebagai pertanda yang tidak baik.

Kelahiran bayi kembar laki-laki dan perempuan itu kemudian menjadi sangat tabu di kalangan masyarakat hingga sekarang, yang bisa jadi, keyakinan itu disebabkan oleh cara pandang yang keliru dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang bayi kembar sepasang.

Atas keyakinan itu, masyarakat melakukan tradisi ini sebagai proses ritual untuk menghalau pertanda buruk yang akan terjadi melalui kegiatan yang dikenal dengan Parang Pisang.

Parang Pisang menjadi semacam perayaan untuk memperingati dan mendoakan agar bayi kembar sepasang (laki- laki dan perempuan) tersebut tidak saling jatuh cinta di kemudian hari, yang bagi masyarakat di nagari itu adalah hal yang buruk.

Selain itu, tradisi Parang Pisang ini sekaligus untuk memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa telah lahir bayi kembar sepasang dimana nantinya ketika mereka telah dewasa tidak menimbulkan fitnah di masyarakat jika mereka terlihat jalan berdua. Bagi mereka, menggelar Parang Pisang adalah harapan agar di kemudian hari si kembar itu tak mengalami nasib serupa seperti yang pernah terjadi dulunya, yakni menikah dengan saudara kembarnya.

Prosesi tradisi Parang Pisang dimulai dengan arak-arakan keluarga Induak Bako menuju rumah keluarga si bayi (rumah keluarga perempuan). Mereka membawa bakul (tempat nasi) yang berisi penuh dengan pisang rebus. Pisang tersebut, nantinya bukan untuk dimakan bersama, melainkan sebagai “senjata” untuk dilemparkan ke keluarga perempuan.

Dalam arak-arakan keluarga Induak Bako itu, terdapat pula si muntu, kudo kepang, anak daro. Selama arak-arakan berlangsung diiringi dengan musik tradisional seperti talempong dan sarunai. Kemeriahan arak-arakan ini disaksikan oleh seluruh warga kampung di sekitar.

Setelah tiba di rumah keluarga perempuan, Induak Bako memprotes dengan cara berteriak ke keluarga si bayi karena membiarkan si bayi beda jenis kelamin hidup dalam satu rumah.

Penggabungan dua bayi dalam satu rumah ini dianggap oleh pihak Induak Bako sebagai bentuk awal mulanya malapetaka. Akhir dari proses Parang Pisang ini ditandai dengan ajakan damai oleh keluarga si bayi dengan diberikannya siriah langguai (daun sirih) oleh keluarga si bayi ke Induak Bako. Pemberian siriah langguai merupakan suatu simbol permintaan maaf oleh keluarga si bayi ke Induak Bako. Permohonan maaf itu menjadi akhir dari Parang Pisang tersebut dan kedua belah pihak kumpul kembali.

Namun ada realitas yang berbeda, jika dulu, Parang Pisang dilakukan secara serius, melemparnya dengan sangat kencang (keras), maka sekarang tidak demikian. Parang Pisang dilakukan sambil tersenyum, bahkan ada yang tertawa, dan melemparnya juga tidak terlalu keras, layaknya perang yang sebenarnya.

Pesan dalam tradisi Parang Pisang di atas tentu menjadi unsur yang penting. Sebab, itu menjadi pengetahuan dan narasi kehidupan sosial yang sejatinya dapat dipahami oleh banyak orang.Walau hanya dengan komunikasi (pesan) simbolik, tradisi Parang Pisang juga tidak akan bisa dimengerti, bahkan tidak akan menjadi sebuah tradisi, manakala di dalamnya tidak ada pesan sosial sebagai inti dari proses komunikasi tersebut. Pesan menjadi penting yang terdiri dari rangkaian penggunaan simbol-simbol atau kode-kode.

Pada masyarakat Surantih, menyelenggarakan tradisi Parang Pisang ini adalah serangkaian komunikasi ritual yang memungkinkan mereka berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka. Atau dalam pemahaman kita, komunikasi ritual Parang Pisang itu dapat memberikan rasa nyaman akan keteramalan.

Oleh karena itu, komunikasi ritual Parang Pisang ini dapat dikategorikan sebagai proses penafsiran pesan dari sebuah kelompok masyarakat atas aktivitas religi dan sistem kepercayaan yang mereka anut.

Penafsiran-penafsiran yang dimaksud adalah terhadap simbol-simbol tertentu yang menandakan terjadinya proses komunikasi ritual tersebut. *)

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Rapat Terpadu Kementerian Agama Pasaman Barat Tetapkan Tiga Standar Zakat Fitrah

Next Post

Ekos Albar Sosok yang Gigih, Calon Wakil Walikota Padang

BeritaTerkait

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda
Opini

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda

7 Agustus 2026
24
Jalan Tol dan Tanah Ulayat: Mencari Titik Temu
Opini

Jalan Tol dan Tanah Ulayat: Mencari Titik Temu

1 Agustus 2026
28
Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda
Opini

Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda

30 Juli 2026
21
Rektor Unand Turun Gunung
Opini

Rektor Unand Turun Gunung

25 Juli 2026
110
“Jangan Sampai Ayat Ini Diketahui Para Poligamisme”
Opini

“Jangan Sampai Ayat Ini Diketahui Para Poligamisme”

25 Juli 2026
28
Jika ASN Menolak, Jabatan Melayang; Jika Menurut, Masuk Penjara
Opini

Jika ASN Menolak, Jabatan Melayang; Jika Menurut, Masuk Penjara

22 Juli 2026
36
Next Post
Ekos Albar Sosok yang Gigih, Calon Wakil Walikota Padang

Ekos Albar Sosok yang Gigih, Calon Wakil Walikota Padang

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,807)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,729)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (36,023)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,698)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (35,164)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,620)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (34,251)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (33,095)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,391)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,488)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
188
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
388
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
507
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
252
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
128
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
171
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
139
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
208
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
144

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In