• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Merantau dan Bahasa Kasar

15 Maret 2023
in Opini
Reading Time: 4min read
Views: 2,888
Monica Milda Fitriani, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

Oleh: Monica Milda Fitriani

SEBELUM lanjut kepada topik dari tulisan, penulis menggunakan ragam bahasa lisan formal, dan di sini penulis juga membahas perbedaan kata kasar di Medan, Makasar dan Sumatera Barat.

Sesuai topik, merantau merupakan tradisi turun temurun yang di lakukan oleh masyarakat Minangkabau. Tradisi ini sudah menjadi identitas masyarakat Minangkabau. Mengapa demikian setiap karya sastra yang berhubungan dengan merantau pasti orang akan mengingat merantau itu adalah tradisi orang Minangkabau. Itu juga di ungkapkan dalam pepatah bisa juga disebut pantun.

Lihat Juga

IHSG Anjlok, Apakah Hanya Kesalahan OJK?

IHSG Anjlok, Apakah Hanya Kesalahan OJK?

1 Februari 2026
52
Masyarakat Adat dan Bencana Hidrometeorologi: Posisi dan Peran dalam Mitigasi

Masyarakat Adat dan Bencana Hidrometeorologi: Posisi dan Peran dalam Mitigasi

30 Januari 2026
34
Sakali Ota Gadang, Sakali Picayo Barubah

Sakali Ota Gadang, Sakali Picayo Barubah

27 Januari 2026
66

Karatau madang dihulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah baguno balum

Maksud dari pepatah ini adalah anak laki-laki saat memasuki usia remaja orang Minang menyebut itu anak bujang mereka di wajibkan untuk merantau.

Adapun tujuan merantau itu; Pertama, memperbaiki perekonomian keluarga. Kedua, untuk mencari pengalaman. Dan, ketiga, mengajarkan untuk hidup mandiri.

Penulis pernah membaca buku cinta terlarang karya Hamka. Novel itu menceritakan kisah percintaan Syamsiyah dan Adnan yang mana mereka di jodohkan dari kecil. Setelah mereka beranjak dewasa dan umur Syamsiyah sudah layak untuk menikah, sementara Adnan belum mempunyai uang untuk menikahi Syamsiyah.

Mereka saling mencintai namun mereka harus terpisah karena Adnan akan pergi merantau demi menikahi Syamsiyah. Adnan berjanji akan merantau selama satu tahun namun sangat di sayangkan Adnan tidak menepati janjinya di karenakan dia belum sukses di daerah perantauannya.

Adnan memiliki tekad dia harus sukses di rantau. Dia harus mendapatkan uang yang banyak demi menikahi calon istrinya. Tapi terpaksa ia belum bisa pulang karena peruntungan belum berpihak kepadanya.

Akhirnya Syamsiyah dipaksa menikah dengan orang lain, maka hubungan mereka harus terputus. Syamsiyah dibawa merantau oleh suaminya, sementara Adnan pulang membawa uang yang sudah di janjikannya. Namun sayang Syamsiyah telah menikah dengan orang lain.

Pada akhirnya Adnan sakit parah dan meninggal. sebelum dia meninggal Syamsiyah bercerai dengan suaminya, dia kembali ke kampung, namun sayang ketika dia menemui Adnan yang lagi sakit dia menyatakan cinta kepada Syamsiyah dan setelah itu meninggal. Tidak lama setelah itu Syamsiyah pergi ke pesta perkawinan di sana dia diracuni oleh saudara dari mantan istrinya dulu mereka meninggal tanpa ikatan pernikahan.

Dari kisah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang anak laki-laki ketika dia pergi merantau dia bertekad harus sukses. Ketika dia belum sampai kepada tujuan awal dia merantau maka dia belum bisa pulang sampai tujuan itu terlaksana. Banyak juga film, puisi dan bahkan juga cerpen yang menceritakan mengenai rantau.

Tradisi merantau sampai saat ini masih dilakukan, contohnya saja di kampung penulis sendiri, yaitu di Kabupaten Solok tepatnya nama nagarinya Tanah Sirah. Banyaknya rumah gadang yang sudah tidak ditempati lagi karena orang-orang yang ada di sana banyak yang merantau. Anak-anak yang telah tamat dari SMA hampir seluruhnya dari mereka memutuskan untuk meninggalkan kampung dengan tujuan mencari pekerjaan, berkuliah dan manggaleh.

Ketika hari Lebaran mereka akan membuat acara pulang basamo pada acara itu berisi seni pertunjukan guna menyambut sanak saudara yang pulang dari perantauan.

Setelah acara itu, hari berikutnya mereka membuat acara lelang apiak ayam. Acara ini dilakukan seperti kita melelang barang harga yang tertinggi itu yang dapat barangnya sama halnya dengan cara ini. Uang yang terkumpul dari acara tersebut akan di masukkan kas kampung. Acara ini dilakukan setiap tahunnya.

Akibat dari merantu banyak rumah gadang yang tidak terurus dan bahkan kampung itu akan menjadi sepi. Perbedaan orang merantau cina dengan orang merantau minang adalah; orang merantau cina saat mereka merantau sudah bertahun-tahun lamanya bisanya dia tidak akan pergi pulang ke kampung halamannya.

Mereka banyak memutuskan untuk menetap dan tinggal hidup selamanya dimana tempat dia merantau. Contohnya saja di Padang. Itu ada nama daerahnya Kampuang Cino. Di sana banyak orang Cina dan bahkan orang-orang keturunan Cina yang tinggal di sana.

Kemudian, merantau minang. Saat mereka sudah bertahun-tahun tinggal di tempat perantauannya, biasanya setelah mereka sukses mereka mereka akan pulang ke kampung halamannya dan bahkan ketika mereka sudah mulai tua mereka akan memutuskan untuk pulang dan menghabiskan hidup mereka di kampung halamannya.

Tak jarang dari mereka saat mendapatkan uang yang lebih biasanya diberikannya kepada sanak saudara untuk membangun kampung halaman mereka. Kebanyakan mata pencarian orang merantau itu adalah berdagang.

Menurut penulis, tradisi merantau itu sangatlah bermanfaat. Dan juga mengajakan untuk hidup mandiri.

Kata-kata kasar

Kata-kata ini disebut ketika lagi marah atau kecewa dengan diri kita maupun orang lain. Contoh seperti kata den, kau, waang. Kata-kata hewan berkaki empat seperti anjiang, dan kata-kata bacaruik.

Mohon maaf sebelumnya karena ini adalah kata yang tidak sopan dan tak pantas untuk di ucapkan contoh : pantek. Orang biasa menyebut ini dengan kata ampek santiang. Kata-kata ini keluar saat kita dalam keadaan emosi, dimana tanpa kita sadari kata itu terucap oleh mulut kita ini membuat orang yang mendengarnya merasa sakit hati dan merasa tersinggung dengan ucapan kita.

Perbedaan kata ‘kau’ di daerah Medan dan Padang. Di Medan kata ‘kau’ ini adalah hal yang biasa, sementara di Padang ketika orang mendengar kata ‘kau’ maka akan dikatakan kasar. Contoh : Kau ini bagaimana, masa itu saja kau tak bisa. di Minang, kau baa ko itu se kau ndak pandai doh.

Di Makasar saat itu ada pertukaran mahasiswa semester, lalu salah satu dari mereka menjelaskan bahwa kata ‘iyo’ itu merupakan kata kasar karena ‘o’ itu penekanan dari huruf ‘o’ itu sangat tinggi, maka mereka menyebut kata ‘iyo’ dengan kata ‘iye’.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Sejarah Film Indonesia: 30 Maret Hari Film Nasional

Next Post

Tradisi Mandi Balimau di Minangkabau

BeritaTerkait

IHSG Anjlok, Apakah Hanya Kesalahan OJK?
Opini

IHSG Anjlok, Apakah Hanya Kesalahan OJK?

1 Februari 2026
52
Masyarakat Adat dan Bencana Hidrometeorologi: Posisi dan Peran dalam Mitigasi
Opini

Masyarakat Adat dan Bencana Hidrometeorologi: Posisi dan Peran dalam Mitigasi

30 Januari 2026
34
Sakali Ota Gadang, Sakali Picayo Barubah
Opini

Sakali Ota Gadang, Sakali Picayo Barubah

27 Januari 2026
66
Re-Launching Gedung Abdullah Kamil: Lonceng yang Baru Digantung atau Bunyi yang Tak Pernah Dipukul
Opini

Re-Launching Gedung Abdullah Kamil: Lonceng yang Baru Digantung atau Bunyi yang Tak Pernah Dipukul

24 Januari 2026
82
193th Padang Pariaman, Menuju Bangkit Lebih Kuat
Opini

193th Padang Pariaman, Menuju Bangkit Lebih Kuat

12 Januari 2026
25
Tradisi Anti Kemiskinan-Kelaparan dalam Manajemen Bencana di Minangkabau
Opini

Tradisi Anti Kemiskinan-Kelaparan dalam Manajemen Bencana di Minangkabau

5 Januari 2026
91
Next Post
Tradisi Mandi Balimau di Minangkabau

Tradisi Mandi Balimau di Minangkabau

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (35,980)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,072)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,249)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,215)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (29,291)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (28,659)
  • Tabuik, ‘Perang Karbala’ di Jantung Kota Pariaman (23,580)
  • Sijunjung Jebol, Seluruh Sumbar Zona Merah Covid-19 (22,389)
  • Blaster, Klub Motor Legendaris Kota Padang (22,384)
  • Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa Termasuk 5 Komjen Calon Kapolri yang Diajukan Kompolnas ke Presiden (22,126)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
137
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
311
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
470
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
216
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
107
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
137
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
118
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
180
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
117

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In