• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, Mei 7, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Tradisi Anti Kemiskinan-Kelaparan dalam Manajemen Bencana di Minangkabau

5 Januari 2026
in Opini
Reading Time: 3min read
Views: 622
Khairil Anwar, Dosen Universitas Andalas. (Foto : Dok)

Oleh: Khairil Anwar
(Dosen Universitas Andalas)

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Gempa bumi, banjir, longsor, dan tsunami menjadi ancaman nyata, terutama di wilayah Sumatera Barat yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik. Seperti kondisi terkini yang di alami sebagian besar wilayah dan masyarakat di Sumatera Barat yang sedang dilanda bencana hidrometereologi.

Namun, di tengah kerentanan tersebut, masyarakat Minangkabau telah lama menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengelola risiko bencana secara mandiri. Jauh sebelum istilah manajemen / mitigasi bencana dikenal secara formal, tradisi dan adat Minangkabau telah membentuk sistem kesiapsiagaan berupa anti kemiskinan dan kelaparan berbasis kearifan lokal.

Lihat Juga

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
90
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
103
Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

25 April 2026
49

Bagi orang Minangkabau, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari sistem nilai. Filosofi “Alam takambang jadi guru” mengajarkan bahwa manusia harus belajar dari gejala dan hukum alam. Pengalaman panjang hidup berdampingan dengan ancaman bencana membuat masyarakat Minangkabau peka terhadap tanda-tanda alam, sekaligus mendorong lahirnya tradisi kemandirian dalam mengelola keselamatan bersama.

Kemandirian ini tercermin pertama-tama dalam cara masyarakat membangun rumah. Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau dan empat rangkiang yang berdiri di halamannya, bukan hanya simbol budaya, tetapi juga wujud nyata mitigasi bencana.

Dibangun dengan struktur kayu yang lentur dan sistem sambungan tanpa paku, Rumah Gadang dirancang agar mampu “mengikuti” guncangan gempa, bukan melawannya. Model rumah panggung juga melindungi penghuni dari banjir serta menjaga sirkulasi udara dan kelembapan.

Rangkiang berfungsi sebagai kekuatan anti kemiskinan dan kelaparan pasca-bencana. Dalam konteks manajemen bencana, arsitektur ini merupakan bentuk mitigasi struktural yang lahir dari pengalaman empiris masyarakat.

Lebih dari itu, Rumah Gadang memiliki fungsi sosial yang penting. Sebagai tempat tinggal kaum, rumah ini menjadi pusat koordinasi keluarga besar. Ketika terjadi bencana, Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat berkumpul, berlindung, dan mengambil keputusan bersama. Artinya, manajemen mitigasi tidak hanya dilakukan melalui bangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan ikatan sosial.

Manajemen mitigasi bencana di Minangkabau juga tampak jelas dalam tata ruang berbasis adat. Masyarakat secara tradisional membedakan kawasan permukiman, lahan pertanian, dan hutan. Daerah rawan longsor atau banjir tidak dijadikan lokasi hunian permanen, sementara hutan di perbukitan dijaga sebagai kawasan penyangga. Pembagian ruang ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang fungsi ekologis lingkungan dan perannya dalam mengurangi risiko bencana.

Aturan adat berfungsi sebagai mekanisme pengendalian yang efektif. Tanpa perlu pengawasan formal, masyarakat patuh pada ketentuan adat karena dianggap sebagai hasil kesepakatan bersama yang menjaga keselamatan kaum. Inilah bentuk kemandirian kolektif: masyarakat mampu mengatur dirinya sendiri dalam mengelola risiko lingkungan.

Dalam struktur sosial Minangkabau, peran lembaga adat sangat penting dalam manajemen mitigasi bencana. Ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai berfungsi sebagai pemimpin informal yang mengelola pengetahuan, informasi, dan pengambilan keputusan. Ketika terjadi kondisi alam yang tidak biasa—seperti hujan berkepanjangan atau perubahan aliran sungai—informasi tersebut segera dibahas dalam musyawarah adat.

Musyawarah menjadi mekanisme utama dalam menentukan langkah antisipatif, mulai dari kesiapsiagaan hingga penanganan darurat. Sistem ini memperlihatkan bahwa mitigasi bencana di Minangkabau bersifat partisipatif dan berbasis komunitas, bukan instruksi satu arah.

Nilai gotong royong memperkuat sistem manajemen bencana ini. Pepatah “saciok bak ayam, sadanciang bak basi” menggambarkan kuatnya solidaritas sosial. Dalam situasi bencana, masyarakat terbiasa saling membantu tanpa menunggu komando formal. Mulai dari evakuasi, penyediaan makanan, hingga perbaikan rumah, semua dilakukan secara kolektif. Modal sosial inilah yang membuat proses tanggap darurat dan pemulihan berjalan lebih cepat.

Tradisi merantau yang melekat dalam budaya Minangkabau juga berkontribusi pada kemandirian dalam mitigasi bencana. Jaringan perantau sering menjadi sumber dukungan penting saat terjadi bencana di kampung halaman. Bantuan dana, logistik, dan informasi mengalir melalui hubungan kekeluargaan yang kuat. Dengan demikian, manajemen bencana tidak hanya berskala lokal, tetapi juga melibatkan jaringan sosial yang luas.

Di era modern, manajemen mitigasi bencana sering dipahami sebagai urusan teknologi, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah. Namun pengalaman Minangkabau menunjukkan bahwa pendekatan tersebut perlu dilengkapi dengan kearifan lokal dan kemandirian komunitas. Sistem adat yang telah teruji oleh waktu mampu membentuk masyarakat yang tangguh dan adaptif.

Tradisi kemandirian merupakan kunci Anti Kelaparan dan Kemiskinan dalam manajemen mitigasi bencana di Minangkabau merupakan warisan berharga yang relevan hingga hari ini. Di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan lingkungan dan iklim, pelajaran dari Minangkabau mengingatkan kita bahwa ketangguhan sejati dibangun dari harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Mitigasi bencana bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga soal nilai, solidaritas, dan kearifan ekologis hidup bersama demi masa depan bumi dan kelansungan hidup manusia. *)

ShareTweetSendShare
Previous Post

IKAT Kota Padang Sepakat Laksanakan Pemeliharaan Lingkungan Salingka Nagari Berdasarkan Kearifan Lokal

Next Post

Nanopartikel Seng Oksida/ZnO untuk Nanoteknologi Berkelanjutan Pengawetan Makanan

BeritaTerkait

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan
Opini

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
90
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman
Opini

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
103
Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan
Opini

Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

25 April 2026
49
Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak
Opini

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak

24 April 2026
47
Catatan dari Halal Bihalal Gonjong Limo Kota Padang; Mambangun Kampuang, Antara Harapan dan Kenyataan
Opini

Catatan dari Halal Bihalal Gonjong Limo Kota Padang; Mambangun Kampuang, Antara Harapan dan Kenyataan

21 April 2026
93
Literacy dan Literary
Opini

Literacy dan Literary

8 April 2026
38
Next Post
Nanopartikel Seng Oksida/ZnO untuk Nanoteknologi Berkelanjutan Pengawetan Makanan

Nanopartikel Seng Oksida/ZnO untuk Nanoteknologi Berkelanjutan Pengawetan Makanan

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,320)
  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (36,072)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,548)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,677)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,635)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (31,545)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (30,980)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (29,907)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,045)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (26,650)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
165
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
343
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
494
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
233
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
115
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
149
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
130
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
191
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
127

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In