
Oleh: Uswah Qoimah
KABUPATEN PESISIR SELATAN merupakan sebuah wilayah yang terletak di bagian selatan Provinsi Sumatera Barat. Wilayah ini terletak di sepanjang pantai barat Sumatera, yang berbatasan dengan Samudra Hindia.
Selain Pesisir Selatan, wilayah di pantai barat Sumatera yang bebatasan langsung dengan Samudra Hindia, yang masuk Sumatera Barat, di antaranya, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam dan Kabupaten Pasaman Barat.
Wilayah pantai Barat ini memiliki keanekaragaman budaya dan tradisi yang kaya. Salah satu tradisi yang terkenal di wilayah ini adalah tradisi Tabuik yang diadakan pada hari Asyura, di mana masyarakat membangun replika bahtera nabi Muhammad SAW dan kemudian mengaraknya di sepanjang jalan-jalan utama di Kota Pariaman.
Selain itu, wilayah ini juga memiliki potensi wisata yang menarik, seperti pantai-pantai yang indah di antaranya, Pantai Air Manis, Pantai Carocok, dan Pantai Kata.
Wilayah pantai ini juga terkenal dengan kekayaan alamnya, terutama hasil laut seperti ikan, udang, dan kerang. Selain itu, wilayah ini juga memiliki potensi pariwisata bahari seperti diving, snorkeling, dan surfing.
Kearifan lokal atau kearifan tradisional adalah pengetahuan, kebiasaan, nilai, dan praktik yang dikembangkan oleh masyarakat lokal secara turun-temurun dalam menghadapi permasalahan hidup di lingkungannya.
Kearifan lokal mencakup pengetahuan tentang cara hidup, cara bercocok tanam, cara memanfaatkan sumber daya alam, dan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kearifan lokal seringkali berkaitan erat dengan keanekaragaman budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Penerapan kearifan lokal dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan keberlangsungan lingkungan hidup dan juga meningkatkan kesejahteraan mereka.
Salah satu contoh penerapan kearifan lokal adalah praktik pertanian organik yang dilakukan oleh masyarakat di pedesaan.
Penerapan kearifan lokal juga dapat menjadi solusi bagi beberapa masalah global seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan kerusakan lingkungan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghargai dan memperhatikan kearifan lokal sebagai sumber daya yang berharga dalam menjaga keberlangsungan lingkungan dan kehidupan manusia.
Begitu juga dengan kearifan lokal yang ada di Kabutapen Pesisir Selatan Sumatera Barat, merujuk pada pengetahuan, keahlian, dan tradisi yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat Pesisir Selatan.
Kearifan lokal ini mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti pengelolaan sumber daya alam, budaya, adat istiadat, seni, arsitektur, agama, dan sebagainya.
Berikut beberapa kearifan lokal dari Pesisir Selatan;
1. Tradisi Bailau
Bailau juga dapat diartikan sebagai sastra lisan yang khas dari Pesisir Selatan. Sastra lisan ini biasanya dilakukan oleh seorang perempuan yang disebut tukang ilau. Mereka akan membawakan cerita, legenda, atau mitos secara lisan dengan diiringi musik tradisional seperti gambus atau gendang.
Bailau juga memiliki makna dan filosofi yang dalam. Sastra lisan ini sering kali dianggap sebagai cerminan kehidupan masyarakat Pesisir Selatan, baik dari segi adat, budaya, maupun kepercayaan. Melalui sastra lisan ini, masyarakat setempat dapat menghargai dan memperkuat identitas budaya mereka. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, sastra lisan Bailau tidak begitu populer dan hanya ada di Bayang, Pesisir Selatan.
Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengenalan Bailau kepada masyarakat lebih luas sangat diperlukan untuk melestarikan keanekaragaman budaya Indonesia.
2. Tradisi Parang Pisang
Tradisi Parang Pisang di Surantih Kecamatan Sutera memiliki makna simbolis yang berbeda dari tradisi Parang Pisang di daerah lain. Dalam bahasa Minangkabau, Parang berarti ‘pedang’ atau ‘senjata tajam’, sementara Pisang dapat diartikan sebagai ‘pisang’ atau ‘buah pisang’.
Tradisi Parang Pisang di Surantih diyakini sebagai cara untuk memisahkan bayi kembar yang lahir di daerah tersebut. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, bayi kembar dianggap sebagai tanda buruk dan dapat membawa malapetaka bagi keluarga yang memiliki mereka.
Oleh karena itu, tradisi Parang Pisang dianggap sebagai upaya untuk mengusir makhluk halus atau energi negatif yang terkait dengan kelahiran bayi kembar.
Dalam tradisi ini, seorang ahli spiritual atau tokoh masyarakat setempat menggunakan pedang Parang Pisang untuk melakukan ritual pemisahan bayi kembar. Ritual ini melibatkan pemotongan seutas tali pusar bayi kembar, yang kemudian dipercayai akan memisahkan ikatan roh antara kedua bayi tersebut.
Dalam hal ini, Parang Pisang bukan hanya menjadi senjata tradisional, tetapi juga memiliki makna simbolis yang sangat penting dalam kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
3. Pembuatan Kapal Bagan
Kapal Bagan merupakan salah satu jenis kapal tradisional yang digunakan oleh masyarakat Pesisir Selatan Sumatera Barat untuk melaut dan menangkap ikan. Kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan, teknik pembuatan, dan desain kapal.
Pertama-tama, kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan. Kapal Bagan biasanya dibuat dari kayu jati atau meranti yang dipilih dari hutan-hutan lokal. Bahan-bahan lain yang digunakan termasuk bambu, rotan, dan ijuk.
Semua bahan tersebut dipilih dengan hati-hati dan dipersiapkan dengan baik agar menghasilkan kapal yang kuat dan tahan lama.
Kedua, kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan teknik pembuatan. Kapal Bagan dibuat dengan tangan oleh pengrajin kapal yang berpengalaman. Proses pembuatan dimulai dengan memilih dan memotong kayu yang tepat, kemudian mengukir dan memasang tiang dan balok kayu untuk membentuk rangka kapal. Setelah itu, kapal dilapisi dengan bambu dan diberi lapisan cat yang tahan air.
Ketiga, kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan juga terkait dengan desain kapal. Kapal Bagan didesain agar sesuai dengan kebutuhan nelayan dan kondisi perairan di daerah tersebut. Kapal ini memiliki bentuk yang khas, dengan ukuran yang besar dan lebar, serta berbentuk melengkung di bagian depan dan belakang. Kapal ini juga dilengkapi dengan bagan atau jaring besar yang digunakan untuk menangkap ikan.
Dalam kesimpulannya, kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan masyarakat Pesisir Selatan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan, teknik pembuatan, dan desain kapal. Tradisi ini menjadi warisan budaya yang sangat berharga, karena Kapal Bagan tidak hanya sebagai sarana penangkapan ikan, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan identitas yang kuat bagi masyarakat setempat. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























