Oleh : Ilhamsyah Mirman
//forumsumbar//
PERJALANAN panjang rendang (atau randang) tidak dapat dipisahkan dari segala kekhasan etnik Minang. Sebagai sukubangsa perantau dengan mobilitas tinggi maka untuk meneroka membutuhkan bekal yang awet dalam aneka perjalanan panjangnya menuju rantau, termasuk dalam menjalani prosesi ibadah haji ke tanah suci Mekkah.
Ditunjang dengan karakter dasar jiwa wirausaha yang mengagungkan cita rasa masakan, maka bukanlah sesuatu yang mengherankan kuliner induk makanan ini menempati posisi terhormat dalam khasanah budaya dan relung kehidupan masyarakat Minang. Termasuk sebagai andalan menopang ekonomi rumah tangga, dengan membuka usaha rumah makan dengan rendang sebagai menu andalannya.
Keadaan yang sudah berjalan berbilang abad, seperti tertera di kesusasteraan Melayu klasik Hikayat Amir Hamzah sekitar tahun 1550an, atau resep masakan rendang di suratkabar perempuan Soenting Melajoe, terbit tahun 1912, yang membuat antusias orang-orang Eropa sehingga pesanan pembuatan rendang membludak dari noni Belanda dan para perantau Minang di Hindia Belanda.
Bahkan pakar sejarah kuliner Universitas Padjajaran Fadli Rahman dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara, menyebutkan bahwa rendang sempat digunakan sebagai bekal ransum peperangan dimasa pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1940an.
Demikian panjangnya perjalanan rendang ini menemani kita.
Memasuki era modern saat ini, reputasi rendang kian menjulang saat Indonesia melempar program diplomasi gastronomi ‘Rendang Diplomacy’ pada tahun 2010 yang diikuti oleh polling CNN Travel, yang umumnya kita semua tahu hasilnya, dengan menempatkan rendang sebagai pamuncak.
Liputan dan pengakuan para pakar kuliner dari lembaga yang kredibel selalu menempatkan rendang pada posisi terhormat dan layak untuk dinikmati publik. Tentu Gordon Ramsay bersama William Wongso pada tayangan National Geographic seperti menjustifikasi pamungkas akan legenda rendang ini.
Yang menjadi ciri khas dari kuliner ini, selain dari segi rasa dan proses pembuatannya, filosofi dibalik keberadaan rendang itu sendiri sangat menarik dan mengandung ajaran kebijakan yang tumbuh dari tradisi kearifan lokal Minangkabau.
Bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani manusia, rendang dalam adat budaya Minangkabau memiliki sarat makna dan selalu menjadi faktor determinan pada setiap prosesi adat di masyarakat.
Keterkenalan dan keunggulan spesifik yang belakangan ini membuat dilema. Ancaman terhadap orisinilitas rendang dengan kian banyaknya orang yang melihat potensi ekonomi rendang, tentu menarik para pelaku usaha untuk mendiversifikasikan produknya dengan komoditi ini, terutama untuk pasar ekspor.
Faktanya, sampai saat ini yang mampu memaksimalkan keuntungan dari keberadaan rendang dalam skala industri hanya segelintir pengusaha, yang umumnya bukan berada atau berasal dari Sumatera Barat.
Dalam berbagai iven promosi, pameran dagang maupun ajang diplomasi kuliner di dunia internasional, praktis tidak pernah terdengar para pemain lokal menjulang sampai mancanegara. Padahal tidak sekali dua pemerintah Indonesia mengadakan jamuan kenegaraan maupun iven mempromosikan produk kuliner di depan diplomat, investor dan tokoh dunia, dimana pengenalan makanan tradisional menjadi salah satu menu andalannya. Tentu amat disayangkan.
Ada hal mendasar sebagai penyebab tidak dilibatkannya pewaris sah makanan terlezat sedunia ini. Bisa karena minimnya modal, promosi yang kurang atau sistem produksi tidak memenuhi standar industri dan persyaratan administrasi usaha. Kondisi yang dikenal dengan istilah kurang profesional ini secara teknis seharusnya bukanlah menjadi masalah yang berarti. Dengan kerjasama antara para pengusaha dan dukungan real berupa keberpihakan dari pimpinan pemerintah daerah, serta pembinaan oleh instansi terkait, dalam hal ini dinas perindustrian maupun dinas koperasi & UMKM, kendala ini bisa diatasi.
Para pakar dalam berbagai aspek tersebut telah ada di tengah masyarakat dan pelaku usaha. Mereka eksis di berbagai iven yang digelar oleh instansi terkait, baik di ranah maupun rantau, termasuk paling akhir ajang memasak rendang di TMII Jakarta akhir Desember 2019 yang lalu.
Pada tingkatan daerah atau pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Barat, teranyar dua pekan yang lalu kelurahan Kubu Gadang, kota Padangpanjang membuat iven marandang khusus untuk remaja puteri dan ibu-ibu muda di bawah usia 35 tahun. Kegiatan yang melibatkan masyarakat ini menjadi karya mereka semua yang telah memiliki keahlian dan jam terbang yang panjang bersinggungan dengan rendang ini.
Dari kacamata orisinilitas kuliner, para pelaku inilah yang paling berhak dan sah merumuskan segala ihwal tentang rendang, tentu dengan dukungan penuh para pengambil kebijakan dalam berbagai tingkatan, agar rendang mampu menyejahterakan masyarakat banyak dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Pemerintah daerah, dengan dukungan para pelaku usaha, pakar dan pemerhati kuliner perlu membentuk semacam dewan atau lembaga yang merumuskan sekaligus memperjuangkan rendang di ranah strategis agar potensi yang sudah mensejarah ini bisa real membahagiakan kita semua.
Pada organ inilah dititipkan masa depan rendang di Sumatera Barat dengan tugas menyusun regulasi, membuka peluang pasar, mengomunikasikan dan sosialisasi di ranah dan rantau, serta menggulirkan program pelatihan khusus rendang. Sudah cukuplah masing-masing pelaku usaha dibiarkan berjuang sendiri-sendiri.
Sekiranya bisa berjalan, maka langkah menghidupkan komoditi dengan kandungan lokal seratus persen ini, diyakini mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Mulai dari para pemasok bahan baku utama, seperti kelapa dari Pariaman, cabai dari Koto Baru, sapi atau kerbau dari peternak di Payakumbuh serta aneka bumbu dari halaman masyarakat dan ladang luas di Kabupaten Solok, sebagai misal.
Memang tidak mudah, namun dengan kesadaran perlunya berorganisasi, diantaranya melalui wadah Komunitas Rendang Minangkabau (KRM), berbagi peran dan upaya penguatan dukungan para pihak terkait inilah maka mimpi rendang mendunia yang dinikmati oleh masyarakat Minang bukan hanya mimpi. Semoga.
Penulis adalah : Penikmat Rendang, sekaligus Penggerak Komunitas Rendang Minangkabau (KRM)






















