
PADANG, forumsumbar — Gaza-Palestina luka yang membuka pintu nurani dunia.
“Injustice anywhere is a threat to justice everywhere.” — Martin Luther King Jr.(Ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana pun).
Ketika dunia tersibukkan oleh gemerlap konten digital, hiburan instan, dan siklus berita yang berubah cepat, Gaza tetap berdarah. Sejak puluhan tahun silam, wilayah kecil yang dikepung ini tak pernah luput dari derita: blokade, bombardir, kelaparan, dan pengusiran massal.
Dalam diamnya banyak negara besar dan dunia internasional, suara dari ujung Barat Sumatera menggema. dari kota Padang, Indonesia, rakyat biasa memilih untuk tidak diam.
Dengan puisi, dengan orasi, dengan doa dan nasyid, mereka menyuarakan sesuatu yang lebih kuat dari kemarahan: cinta dan solidaritas. Mereka berkumpul, menyatukan hati dan suara, dalam sebuah gerakan spiritual dan budaya yang tak mengenal batas negara.
Acara bertajuk “Love & Safe Gaza” yang diselenggarakan di GOR Agus Salim, Padang, pada Minggu pagi, 22 Juni 2025, menjadi salah satu bentuk nyata solidaritas internasional dari Indonesia.
Aksi ini merupakan bagian dari kampanye global yang diprakarsai oleh World Poetry Movement (WPM), organisasi penyair dunia yang bermarkas di Kolombia, dan telah menggerakkan 179 penyair dari 121 negara untuk bersuara bagi Palestina.
Mengapa Gaza? Mengapa Puisi? Mengapa Sekarang?
“To be silent is to be complicit.” — Desmond Tutu. (Diam berarti bersekutu dengan pelaku kekejaman).
Mengapa Padang bersuara? Karena sejarah bangsa Indonesia tidak lahir dari keheningan, tapi dari keberanian. Karena Minangkabau tidak pernah menjadi bangsa penonton, tetapi pelaku sejarah. Karena di dalam darah adat Minangkabau mengalir nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah—yang meyakini bahwa menyuarakan kebenaran adalah bagian dari iman.
Gaza adalah simbol luka, tetapi juga simbol perlawanan. Ketika dunia bungkam, puisi menjadi suara yang tak bisa dibungkam. Ketika senjata hanya menambah kehancuran, orasi dan puisi menjadi bentuk perlawanan non-kekerasan yang mampu menyentuh ruang batin manusia.
Seperti kata Alice Walker, “Poetry is the lifeblood of rebellion, revolution, and the raising of consciousness.” (Puisi adalah darah kehidupan dari pemberontakan, revolusi, dan bangkitnya kesadaran).
Maka dari itu, puisi menjadi senjata pilihan dalam aksi ini: karena ia tidak melukai, tapi membangkitkan. Tidak menghancurkan, tapi menyembuhkan. Dan ia hidup di dalam jiwa orang-orang Minangkabau.
Dari Sumbar untuk Palestina: Rangkaian Aksi
Acara ini dihadiri oleh ratusan masyarakat dari berbagai kalangan. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk menyatakan bahwa mereka tidak tinggal diam. Mereka membawa pesan: bahwa Padang, Sumatera Barat, adalah bagian dari suara dunia yang peduli.
Berbagai tokoh penting hadir:
• Ibnu Azis, Wakil Walikota Bukittinggi, membacakan orasi kemanusiaan.
• Dianita Maulin Vasko, Ketua BKOW Sumbar dan Staf Ahli PKK Sumbar, menyampaikan suara perempuan Sumbar melalui orasi dan nyanyian untuk Palestina.
• Penyair senior Sumatera Barat seperti Andria C. Tamsin, Zamzami Ismail, dan banyak penyiar lainnya tampil membawakan puisi dengan penghayatan tinggi.
Tampil pula hiburan dari Malin Tirih dan kelompok seni seperti:
• Nasyid Al Fajr
• Sumbar Talenta
• Barabah Vocal Group
Acara ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi sastra dan seni, tetapi juga menjadi forum kesaksian kolektif. Dari tausiah yang disampaikan Ustadzah Ayu, hingga orasi dari organisasi seperti DHD 45, seluruh segmen acara membentuk satu kesatuan pesan: bahwa Gaza-Palestina hidup dalam hati kita.
Acara ini gratis dan terbuka untuk umum, memberikan ruang kepada siapa saja untuk hadir, mendengarkan, dan merasakan empati. Open mic di akhir acara menjadi simbol bahwa setiap suara layak didengar.
Barisan Puisi, Bait yang Menjadi Peluru Nurani
Berikut daftar lengkap pembaca puisi beserta karya dan penciptanya:
1. Sastri Bakry – (SatuPena/WPM) – “Gaza, Kota yang Terluka” karya Sastri Bakry
2. Leni Marlina – (Poetry-Pen IC/PPIPM-Indonesia/SatuPena/WPM) – “Di antara Retakan Tanah” karya Leni Marlina
3. Tyo Kurniawan – (PPIPM-Indonesia/Poetry-Pen IC) – “Berselimut Awan, Berbantal Doa” karya Leni Marlina
4. Edrawati – (SatuPena) – “Langit Merah di Ufuk Palestina” karya Era Nurza
5. Rhein Eka Triana – (DHD ’45) – “Berikan Kami Senjata, Wahai Dunia” karya Pipiet Senja
6. Nofieana Gusti Winata – (SatuPena/WPM) – “Selamatkan Cinta (We Love Palestina)” karya Fiana Winata
7. Hesti Nelvia – (ASM/SatuPena) – “Duka Anak-Anak Palestina” karya Ramli Djafar
8. Yenny Ibrahim – “Ketika Kita Diam Saja Melihat 1300 Anak-Anak Dibunuh” karya Yenny Ibrahim
9. Fauzul el Nurca – “Memandang Serpihan” karya Fauzul el Nurca
10. Marniyeti – (HWK Sumbar) – “Gaza, Surga dan Neraka” karya Rizal Tanjung
11. Era Yunus – (HWK Sumbar) – “Setelah Senja Itu” karya Anwar Putra Bayu
12. Sri Juwita Dewhi – (ASM) – “Gaza, Kota Benteng” karya Sri Juwita Dewhi
Kolaborasi Komunitas: Solidaritas yang Ditenun Bersama
Acara ini diselenggarakan oleh World Poetry Movement Nasional (WPM-Indonesia) dengan Koordinator: Sastri Bakry. Acara ini didukung oleh berbagai organisasi dan komunitas diantaranya:
1. Satu Pena Sumbar
2. Tonggak Nagari
3. BKOW Sumbar
4. FKPPI
5. DHD 45
6. Asosiasi Siti Manggopoh (ASM)
7. Forkasmi
8. HWK Sumbar
9. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat)
10. Poetry-Pen International Community
11. World Children’s Literature Community (WCLC)
12. Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia
13. Hamas (Himpunan Media Sumbar)
“Poetry is not a luxury. It is a vital necessity of our existence.” — Audre Lorde. (Puisi bukanlah kemewahan. Ia adalah kebutuhan vital dalam keberadaan kita.)
Dalam dunia yang tereduksi oleh algoritma dan kecepatan, puisi memperlambat kita untuk merenung. Ia mengajak kita berhenti, merasakan, dan mengambil sikap. Dalam puisi-puisi yang dibacakan di Padang, doa-doa yang tak sempat terucap oleh mereka yang terkurung di Gaza, kini menemukan suara.
Dari Tanah Puisi untuk Negeri yang Luka
Acara “Love & Safe Gaza” adalah lebih dari sekadar pembacaan puisi. Ia adalah napas perlawanan dari orang-orang biasa yang menolak tunduk pada keheningan. Ia adalah doa kolektif, luka bersama, dan cinta universal.
Sebagaimana diungkapkan oleh César A. Cruz: “Art should comfort the disturbed and disturb the comfortable”. (Seni harus menghibur yang terluka dan mengguncang yang terlena).
Demikianlah, dari Padang, Sumatera Barat untuk Gaza-Palestina, dari Minangkabau, Nusantara untuk dunia, suara kemanusiaan itu terus menggema. Dengan puisi, dengan orasi, dengan seni, dan dengan puisi.
Informasi lainnya silahkan baca berita sebelumnya:
Dianita Maulin Vasko Ikut Baca Puisi Gaza Bersama Penyair dan Tokoh Sumbar
(Leni Marlina)























