
PADANG, forumsumbar —– Sebuah seruan nurani menggema dari Ranah Minangkabau. Di tengah gelombang duka kemanusiaan di Gaza, Sumbar mengambil bagian dalam aksi dunia melalui puisi—bahasa universal yang melampaui batas politik dan geografis.
Bertajuk “Save and Love Gaza”, kegiatan ini akan digelar Minggu pagi, 22 Juni 2025 di GOR Agus Salim, Padang, demgan menghadirkan suara-suara dari berbagai kalangan, yakni; pemimpin daerah, tokoh perempuan, penyair, seniman, dan komunitas puisi serta literasi.
Acara ini merupakan bentuk nyata partisipasi Sumbar dalam World Poetry Movement (WPM), yang sejak 15 Mei 2025 telah menyerukan pembacaan puisi secara serentak di berbagai negara oleh 179 penyair dari 121 negara.
Seruan ini lahir sebagai bentuk kecaman terhadap kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza dan Palestina secara keseluruhan.
Dari kalangan pemerintah dan organisasi perempuan, akan hadir:
1. Ibnu Azis, Wakil Wali Kota Bukittinggi
2. Dianita Maulin Vasko, Ketua BKOW dan Staf Ahli Tim Penggerak PKK Sumbar, yang juga akan turut membacakan puisi secara langsung.
Sementara itu, dari kalangan penyair dan seniman Sumbar akan turut hadir dan membacakan puisi-puisi mereka:
1. Sastri Bakry, penyair senior, Ketua SatuPena Sumbar, dan Koordinator World Poetry Movement (WPM) Indonesia
2. Dr Andria C Tamsin, penyair senior, dosen Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Padang
3. Yenni Ibrahim: pelaku seni dan penyair senior
4. Zamzami Ismail: penyair senior
5. Fauzul el Nurca; penyair senior
6. Leni Marlina, penyair, penerima anugerah Penulis Berpretasi 2025 dari SatuPena Sumbar, dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang
7. Edrawati, guru, penulis, penyair
8. Nofieana Gusti, penyair, Ketua Forkasmi
9. Hesti Nelvia, penyair perempuan yang mewakili suara anak-anak Palestina
10. Tyo Kurniawan, mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS UNP dan penyair muda berbakat dari PPIPM-Indonesia.
Selain itu, puisi “Berikan Kami Senjata, Wahai Dunia” karya Pipiet Senja akan dibawakan secara dramatis oleh Rhein Eka Triana.
Acara juga akan diisi dengan penampilan seni Islami dari: (1) Grup Nasyid Alfajr, (2) Sumbar Talenta, (3) Barabah Group.
Ketua panitia, Eka Fitriyah Fauzar menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya solidaritas terhadap bangsa Palestina.
“Gaza bukan hanya tentang perang. Ini tentang penjajahan, blokade, dan penderitaan berkepanjangan yang terus dibiarkan. Dengan puisi, kami berusaha menyuarakan hati kami sebagai manusia dan sebagai bagian dari umat Islam,” ujarnya.
Pernyataan Eka diamini oleh anggota panitia lainnya, Suryenti dan Basnurida (Ketua Asosiasi Siti Manggopoh), yang menekankan bahwa pembacaan puisi adalah bentuk perlawanan non-kekerasan sekaligus cerminan cinta kasih umat beriman.

Berikut beberapa puisi yang akan dibacakan:
1. “Gaza Kota yang Terluka” – Sastri Bakry
2. “Di Antara Retakan Tanah” – Leni Marlina
3. “Langit Merah di Ufuk Palestina” – Edrawati
4. “Selamatkan Cinta: We Love Palestina” – Nofieana Gusti
5. “Duka Anak-anak Palestina” – Hesti Nelvia
6. “Berselimut Awan, Berbantal Doa” – Tyo Kurniawan
7. “Berikan Kami Senjata, Wahai Dunia” – Pipiet Senja (oleh Rhein Eka Triana)
Kegiatan ini diselenggarakan oleh World Poetry Movement Indonesia dan didukung penuh oleh berbagai organisasi dan komunitas:
1. SatuPena Sumbar
2. BKOW Sumbar
3. FKPPI
4. DHD 45
5. Asosiasi Siti Manggopoh
6. Forkasmi
7. HWK Sumbar
8. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat)
9. Poetry-Pen International Community
10. World Children’s Literature Community (WCLC)
11. Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia
Dalam budaya Minangkabau yang berakar pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, menyuarakan keadilan adalah bagian dari iman.
Puisi dalam kegiatan ini menjadi senjata spiritual, doa yang berbunyi, dan api kecil yang tetap menyala di tengah pekatnya penderitaan.
Kegiatan ini terbuka untuk umum. Masyarakat Sumbar, khususnya para pecinta seni dan peduli kemanusiaan, diundang untuk hadir menyaksikan sekaligus menyatakan empati dan solidaritas terhadap rakyat Gaza.
Karena sesungguhnya, dibalik puisi yang dibacakan, ada doa-doa yang tak pernah padam—menuju langit, menembus blokade.
(Leni Marlina)























