
“Di Tanah Yang Kehilangan Bahasa”: Kumpulan Puisi Leni Marlina, Zulkifli Abdy dan Herry Tany (PPIM-Indonesia, PPIC, Satu Pena, KEAI, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
/1/
Di Tanah Yang Kehilangan Bahasa
Oleh: Leni Marlina
(UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
di tanah yang kehilangan bahasa
tempat angin pun belajar mengeja duka
bayi-bayi tak sempat menangis
sudah menjadi debu dalam do’a.
di atas perut bumi yang koyak
burung-burung besi menggugurkan malam
tanpa bintang, tanpa alasan
hanya angka—
dan deritanya tak pernah masuk siaran.
aku tak datang membawa senjata
hanya kata
yang kugores di udara
agar langit yang menghitam tahu
masih ada manusia
yang tak bersedia lupa.
tak perlu keris
cukup satu baris puisi
yang dapat memotong sunyi
menjadi pelita kecil
di tengah reruntuhan logika.
lihatlah,
sepasang kaki mungil
berjalan di antara kaca dan bara
namun mata mereka masih menyimpan langit
seperti ingin memaafkan dunia
yang tak pernah menepati janji.
aku bicara kepada embun
karena air yang pertama kali tahu
betapa beratnya luka
yang tak sempat dilahirkan
di antara ledakan dan doa-doa yang dibisukan.
jangan tanyakan siapa yang salah
sebab sejarah telah berkali-kali
ditulis dengan tangan yang bergetar
dan pena yang jatuh
sebelum sempat menulis keadilan.
aku hanya ingin bersuara
di tengah malam yang gugur satu per satu
agar esok
masih ada halaman kosong
untuk anak-anak menuliskan mimpi
dengan huruf paling berani.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/2/
Kota Kaum Urban
Oleh: Zulkifli Abdy
(PPIPM-Indonesia, Satu Pena, KEAI)
Sekelebat berita telah mengusik pagi
Jakarta, kota kaum urban
Terbertik kabar jalan-jalan macet total
Apakah kemacetan ini suatu isyarat
Bahwa kita benar-benar akan berhenti
Jakarta, kota kaum urban
Siang sesak, malam terasa lebih sepi.
Beranda Pagi, Banda Aceh, 29 Mei 2025
/3/
Akar Kata Bangkit dari Gelap
Oleh: Leni Marlina
(UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
kata—
kata patah,
kata remuk,
kata melayang,
kata mengalirkan darah,
ketika langit dilalap api kuasa,
namun kata tak bisa mati—
ia terus menyala,
dari akar tergelap
di sunyi manusia.
saat kata menjelma bisu:
bisu bukan mati,
bisu adalah bisikan dalam badai,
suara lirih yang bersabar
menjadi gema,
gema yang mengguncang
sumur terdalam sunyi.
di tanah yang kehilangan bahasa,
debu hinggap dalam nestapa,
angin mengeja luka peradaban.
kata-kata bukan sekadar suara—
mereka adalah nyawa yang berjaga,
nyala yang tak pernah padam,
bisikan berani
dari makna yang menolak musnah.
diam—
tunggu—
lihat—
dengarkan !
akar kata bangkit dari gelap,
menyentuh langit yang terbelah,
mengoyak malam yang membeku.
dan dari hati yang jernih,
kata menyala,
tak pernah gentar
menyuarakan yang benar.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/4/
Ziarah Sunyi
Oleh: Zulkifli Abdy
(PPIPM-Indonesia, Satu Pena, KEAI)
Kubiarkan diri sendiri
Tatkala menempuh jalan sepi dan sunyi
Hanya berkawan sekeping hati nurani
Yang akan menyatu dengan langkah
Dan hati yang tak pernah berdusta
Yang menemani ziarah panjang
Bertudung langit beralas bumi
Kemana pun diri hendak pergi.
Beranda Pagi, Banda Aceh, 21 Mei 2025
————————–
Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda. Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.
/5/
Nisan Tanpa Nama
Oleh: Herry Tany
(WPM-Indonesia)
betapa angkuhnya
tuan nyonya di hadapan televisi 21 inchi
menonton barisan nisan yang menangis
menderita
menahan luka mendalam
terampas hak jiwanya
terkubur tanpa nama
jangan biarkan aku mati terlalu dini
jangan pula sedetik pun izinkan aku berhenti
mengunjungi puing-puing reruntuhan gaza yang porak poranda
tanpa sebilah keris kalam terhunus
matahari terlalu pagi mengkhianati
pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan
pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang aku temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak Mungkin!”.
tanpa darah
mereka mengering
sebelum mata pena berkarat
sehingga keadilan tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati
ada yang lebih tajam dari sebilah pisau
lebih mematikan dibandingkan racun
lebih cepat dari sebutir peluru
lebih dari semuanya
adalah kekejaman para zionis
aku menolak kembali
negeri drakula menghisap darah
sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan yang menemukan maknanya sendiri
kepalkan tangan mengacung ke langit
hanya kata jawabannya hancurkan!.
Jakarta, 28-12-24
————————–
Herry Tany merupakan nama panggung dengan nama asli Herry Sunandar lahir di Jakarta aktif dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bergerak di bidang Sosial, Politik, Ekonomi dan Kebudayaan juga sebagai Jurnalis, Penulis, Pembaca Puisi, Aktor Teater dan sinematography.
/6/
Kabarkan Tangisku, Wahai Awan
Oleh: Leni Marlina
(UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
Kabarkan tangisku, wahai awan,
di langit yang sunyi oleh propaganda,
di atas tanah yang letih menyimpan kematian
tanpa batu nisan, tanpa nyanyian pulang.
Engkau yang melintasi batas tanpa visa,
yang menyentuh peta tanpa membelah negara—
jadilah saksi bagi mereka yang hilang nama,
yang jiwanya terkubur di antara berita dan lupa.
Turunkan air mataku sebagai hujan yang sabar,
bukan untuk membanjiri,
melainkan untuk membasuh dendam,
agar tumbuh kembali nurani dari debu peperangan.
Awan,
engkau tahu warna luka tanpa harus melihat darah,
engkau dengar jeritan
yang tak sampai ke mikrofon konvensi perdamaian.
Bawalah sedih ini melintasi benua,
dari Gaza ke Kabul,
dari Rohingya ke Afrika yang terbelah—
hingga dunia tak lagi bertanya:
“Siapa pihak yang benar?”
melainkan:
“Siapa yang belum diselamatkan?”
Ajarkan kami untuk menangis tanpa malu,
untuk mendengar tanpa menghakimi,
dan menyentuh tanpa harus menjajah.
Kabarkan tangisku, wahai awan,
sebagai puisi yang turun dari langit—
yang tak mengutuk, tapi mengingatkan.
Yang tak membakar, tapi meneduhkan.
Sampaikan pada dunia,
bahwa air mata adalah bentuk paling jujur dari harapan:
ia jatuh, namun tak pernah hilang.
Ia larut, tapi tak pernah menyerah.
Ia hening,
namun bisa menggerakkan dunia.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/7/
Wahai Angin Temani Aku
Oleh: Leni Marlina
(UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
Wahai angin,
Temani aku,
hembuskan sunyimu di telingaku,
bisikkan rahasia alam yang tak terucap,
ajarkan aku melayang tanpa beban.
engkau angin,
tak terlihat, tak tergenggam,
menyentuh tanpa suara,
mengalir tanpa arah.
lahir sebelum kata,
mati setelah lupa.
engkau bisik dalam doa,
hembus dalam sunyi,
di antara raja dan fakir,
engkau sama — tanpa bentuk.
Wahai angin,
temani aku berjalan di antara bayang,
membawa damai dari ujung dunia,
agar aku tahu, meski tanpa bentuk,
ada kekuatan sejati yang tak terlihat
seorang fakir memintamu tiupkan dirinya,
hingga tinggal cinta.
Engkau tiupkan — dan dia lepas.
bila dunia runtuh,
engkau tetap berhembus,
menjadi napas yang tak hilang,
hanya berubah wujud.
Wahai angin,
temani aku di sini,
dan juga sampai di sana nanti.
Padang, Sumatera Barat, 2025
—————————-
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan dosen asal Sumatera Barat yang aktif dalam berbagai komunitas sastra baik nasional maupun internasional. Sejak 2022, ia bergabung dengan SATU PENA Sumatera Barat (diketuai oleh Sastri Bakry) dan menerima penghargaan dari organsisasi tersebut untuk kategori Penulis Berprestasi 2025. Sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association, dipimpin oleh Anna Keiko) dan Koordinator ACC SHILA untuk Perwakilan Asia sejak 2025, serta anggota World Poetry Movement-Indonesia, Leni terus berkolaborasi untuk menyuarakan kemanusiaan dan perdamaian melalui puisi.
Ia memulai perjalanan internasionalnya saat studi Master of Writing and Literature di Australia dan mengabdi sebagai dosen Sastra Inggris di Universitas Negeri Padang (sejak tahun 2006).
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Kumpulan puisi Leni Marlina dimuat di sejumlah platform digital, diantara dapat diakses publik melalui link official: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/.
Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas sastra, literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)
(Putrie)























