
Baiklah Tidak Ada Janji
Karya: Chairul Harun
Di jalan raya intelijen asyik menghafal nama-nama
Barangkali kita di antaranya
Cuma sebentar saja mereka sibuk
Karna lelah di warung kopi mereka duduk merunduk
Di pusat kota kecapi dan tiupan salung telah mati
Tinggal bisik-bisik bagai wabah bawa malapetaka
Barangkali kita korban di antaranya
Kejadian ini pada musim kemarau di tahun-tahun revolusi
Waktu itu langit berkawal bulan merah
Dan negeri disaput kabut dengki
Dan semua orang gemuruh bentuk sejarah
Apa yang harus kita perbuat, kekasihku?
Aku dan kau duduk terengah di kamar tak berjendela
Mabuk bertengkar tentang hari kemarin yang buntu
Serta sidah badut-badut yang rencanakan nasib kita
Kemudian, karena kita hampir lenyap
Kepalaku bagai kawah neraka menyejuk di pangkuanmu
Maka aku tulis guratan di bibirmu: damailah bumi kita
Walaupun kau cintaku, baiklah tidak ada janji
Karena semua tahu janji telah mengundang bencana
Perang saudara dan pengkhianatan diri sendiri
Yang akibatnya malam ini terlukis di wajah kita
Terasa tenteram bila tak ada hati yang murung
Selama kita terus berdekap
Berkicaulah kau nuriku
Ah, resah masih saja datang padaku
Karena di langit bulan bertambah merah
Mungkin tetesan air-matamu melembutkan zaman
Membasuh bulan menjadi seindah pipimu
Dan pada bibir segarmu barangkali aku bisa tahu
Bahwa besok kita masih sempat bercumbu
Sebelum pembunuh datang mengetuk pintu.
Sumber: Horison (Agustus, 1968)
****
Sedikit cerita mengenai Chairul Harun.
Chairul Harun bersama Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta serta Zaidin Bakry, menerbitkan buku kumpulan puisi “Monumen Safari” pada tahun 1966.
Kumpulan puisi yang kelak dikenang sebagai salah satu tonggak perpuisian modern Sumatera Barat ini pun hadir tanpa perencanaan panjang.
Chairul Harun bersama Rusli Marzuki Saria dan Leon Agusta yang pada tahun tersebut sering duduk-duduk sore di kantor Harian Res-Publika —dianggap sebagai corong sastrawan Manikebu— berpikir penting untuk membuat kumpulan puisi bersama.
Mereka mengajak Zaidin Bakry, seorang ABRI yang waktu itu berpangkat Letnan Kolonel, yang juga dekat dengan para seniman.
Penerbitan buku itu dibantu oleh seorang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Pondok (Pecinan).
(Putrie)























