• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, Mei 14, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Pepatah Petitih dalam Peribahasa Minangkabau: Dima Bumi Dipijak di Sinan Langik Dijunjuang

20 Juni 2023
in Opini
Reading Time: 2min read
Views: 847
Ravika Sari, Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. (Foto : Ist

Oleh: Ravika Sari

(Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

PEPATAH-PETITIH adalah peribahasa Minangkabau yang berisi nasehat dan ajaran dari para sesepuh. Setiap kalimat yang terdapat dalam peribahasa Minangkabau mengandung falsafah dasar Minangkabau yang bersumber dari alam.

Lihat Juga

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
41
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
31
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
99

Kemudian, tradisi merantau ini telah dilakukan sejak turun menurun dari dulu hingga sekarang. Umumnya merantau ini hampir dilakukan oleh setiap laki-laki terutama yang belum menikah (anak bujang) di Minangkabau.

Ini tidak terlepas dari peran dan kedudukan laki-laki dalam sistem sosial masyarakat lebih rendah ketimbang perempuan atau sering disebut kaum ibu (dikenal juga dengan sistem Matrilineal).

Namun kini merantau tersebut telah banyak dilakukan juga oleh perempuan.

Umumnya para perantau ini telah dibekali dengan wejangan, pepatah dan ajaran dari adat untuk dapat beradaptasi di daerah rantau nantinya.

Pepatah itulah yang kemudian dikenal dengan; dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang.

Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi tidak menutup kemungkinan makna dan falsafah hidup yang terkandung pepatah ini telah mengalami perubahan dan tidak menutup kemungkinan hilang ditelan waktu.

Atas dasar itu perlu kiranya dilakukan pengkajian ulang akan makna dan falsafah hidup yang terkandung dalam pepatah ini, terutama bagi perantau Minangkabau di Kota Yogyakarta.

Rumusan masalah dari penelitian ini terkait apa dan bagaimana makna yang terkandung dalam kalimat; dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, yang dipandang dari kacamata semiotika khususnya pemikiran Ferdinand De Saussure.

Tentunya tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan makna filosofis, sehingga pendekatan filosofis menjadi pendekatan yang tepat untuk digunakan.

Selain itu, untuk mengkaji makna maka penulis memilih semiotika menjadi pisau analisis dengan cara kerjanya melihat pada struktur yang dimiliki oleh bahasa yang dalam bahasanya Saussure disebut sebagai tanda.

Di samping itu teori tentang tanda ini juga didasari pada fenomena sosial yang ada terutama dalam suatu masyarakat. Atas dasar ini semiotika yang digagas oleh Ferdinand De Saussure lebih bersifat sosial dengan melihat antara interaksi yang terjadi serta dalam penerapannya didukung oleh berbagai distingsi dan yang menarik dari distingsi ini adalah konsep penanda dan petanda.

Hasil dari penelitian ini adalah; pertama, bahwa pepatah; dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, adalah sebuah pengetahuan dari ajaran adat yang dapat digunakan sebagai pegangan atau pedoman hidup ketika berada di daerah lain (rantauan) dengan memegang teguh prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya.

Prinsip yang dimaksudkan berupa cara pandang masyarakat Minangkabu dalam memahami adat dan sosial dengan melihat dan memadukan unsur-unsur normatif etik terutama dalam kehidupan bermasyarakat.

Di samping itu dengan adanya pepatah ini perantau Minangkabau dapat menjadi inklusif dan mampu menerapkan sistem keterbukaan dalam masa merantaunya.

Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa sampai saat ini belum ada terbentuknya kampung Minangkabau di daerah manapun yang ini berarti masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang bisa menerima perubahan dan mampu untuk beradaptasi dengan baik dengan sosial budaya dan masyarakat setempat.

Dari sinilah demokrasi Masyarakat Minangkabau dapat terlihat, di saat mereka harus mampu untuk bersatu dengan budaya lokal atau baru mereka juga tidak boleh kehilangan jati diri atau dalam hal ini identitas sebagai bagian dari orang Minangkabau dan tetap terjaga dengan baik.

Kedua, jika gunakan semiotika dalam memandang pepatah ini maka makna yang terkandung adalah hasil dari refleksi masyarakat Minangkabau dalam membuat sebuah kebermaknaan dari unsur-unsur alam yang disatukan menjadi sebuah rangkaian bahasa yang terdiri dari berbagai struktur sehingga menbentuk satu jaringan makna.

Ini juga didasari oleh kesepakatan yang telah digunakan oleh masyarakat Minangkabau sendiri dari memberikan arti atau menaruh makna dari sebuah kalimat atau pribahasa. *)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Sultan Minta Kebijakan Pembatasan Mobil Konvensional Hanya Diterapkan di Kota-kota Besar

Next Post

Universitas dengan Satu-satunya Jurusan di Dunia, Unand dengan Prodi Sastra Minangkabau dan UNP dengan Prodi Tata Boga Konsentrasi Kuliner Minang

BeritaTerkait

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan
Opini

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
41
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing
Opini

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
31
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan
Opini

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
99
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman
Opini

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
112
Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan
Opini

Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

25 April 2026
52
Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak
Opini

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak

24 April 2026
47
Next Post
Universitas dengan Satu-satunya Jurusan di Dunia, Unand dengan Prodi Sastra Minangkabau dan UNP dengan Prodi Tata Boga Konsentrasi Kuliner Minang

Universitas dengan Satu-satunya Jurusan di Dunia, Unand dengan Prodi Sastra Minangkabau dan UNP dengan Prodi Tata Boga Konsentrasi Kuliner Minang

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (37,123)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,345)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,584)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,723)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,669)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (32,024)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (31,747)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (30,956)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,080)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (27,708)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
170
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
345
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
495
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
235
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
115
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
150
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
131
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
191
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
128

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In