
Oleh: Isa Kurniawan
(Koordinator Kapas/Komunitas Pemerhati Sumbar)
WALIKOTA Padang Fadly Amran berhasil menata/mengubah wajah Pasar Raya Padang menjadi glowing –bersinar, bercahaya dan berkilau.
Kalau dibandingkan dengan keadaan Pasar Raya Padang sebelum dilakukan penataan, tampak jauh sekali perbedaannya.
Dulunya semrawut dengan pedagang K5 yang berjualan di badan jalan dan selasar dengan tenda yang acak-acakan. Kini tidak ada lagi.
Dulunya untuk parkir mobil saja susah, karena tempat parkir sudah ditempati oleh pedagang. Sekarang sudah lapang.
Saat ini, kalau kita berjalan dari Simpang Air Mancur sampai ke ujung jalan Permindo, suasananya boleh dikatakan tidak crowded lagi. Ada memang satu titik yang perlu perhatian, yakni simpang tiga bioskop Mulia.
Upaya Walikota Padang Fadly Amran dalam menata Pasar Raya Padang ini mendapat dukungan/apresiasi dari warga kota.

Penataan Pasar
Persoalan menata pasar ini pernah juga dilakukan oleh Walikota Padang saat dijabat oleh Mahyeldi. Tetapi yang ditata itu pasar-pasar satelit, yang keadaannya sudah amat sangat crowded, seperti Pasar Bandar Buat, Pasar Siteba, Pasar Lubuk Buaya dan lainnya.
Dalam pandangan banyak pihak, dengan keadaan yang sudah kronis di pasar-pasar satelit tersebut, akan susah untuk menata/menertibkannya. Tapi Mahyedi sukses menatanya, seperti yang kita lihat sekarang ini, keadaannya sudah jauh lebih baik.
Sukses Mahyeldi dalam menata pasar-pasar satelit tersebut mungkin menjadi inspirasi/motivasi bagi Fadly Amran dalam menjalankan programnya menata Pasar Raya Padang –juga penataan lanjutan pada pasar-pasar satelit.
Dalam penataan yang dilakukan tidak ada gejolak/penolakan, tentu tidak juga. Yang namanya keadaan yang sudah lama dilakoni oleh para pedagang dengan segala dinamikanya, kemudian berubah. Tentu ini ada resistensinya.
Di sinilah kepemimpinan itu diuji. Yang penting tegas. Berjalan sesuai dengan hukum dan aturan yang ada. Mengenai persoalan pedagang, satu satu dicarikan jalan keluarnya/solusinya.
Pro dan kontra dalam menjalankan sebuah kebijakan itu, sudah biasa. Ada yang suka. Ada yang tidak suka, karena kepentingannya terusik/terganggu ya diberikan pengertian secara baik.

Sekilas Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang merupakan komplek pasar tradisional terbesar yang menjadi pusat perdagangan utama di Kota Padang. Pasar ini berlokasi di Kampung Jao (atau Kampung Jawa), Kecamatan Padang Barat. Pasar ini didirikan pada zaman kolonial Belanda oleh seorang kapitan Cina bernama Lie Saay.
Pada masanya Pasar Raya Padang menjadi kawah candradimuka bagi para pedagang sebelum mengadu untung di rantau. Banyak pedagang-pedagang sukses dimana Pasar Raya Padang merupakan tempat “sekolah” awalnya.
Dalam perkembangannya, Pasar Raya Padang pernah menjadi sentra perdagangan bagi masyarakat di Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Bengkulu pada era 1980-an.
Kebakaran besar sering melanda Pasar Raya Padang. Dalam catatannya, sudah beberapa kali terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan Pasar Raya Padang.
Memasuki tahun 2000, Pasar Raya Padang mulai mengalami kemunduran seiring hilangnya Terminal Lintas Andalas dan Terminal Goan Hoat yang memiliki peran vital dalam mobilitas warga dan komoditas. Kedua terminal tersebut berubah mejadi pusat perbelanjaan modern Plaza Andalas dan SPR Plaza.
Sementara itu, para pedagang K5 yang sebelumnya berjualan di lingkungan terminal beralih memakai sebagian besar badan jalan sehingga membuat semrawut kondisi pasar. Puncak kemunduran Pasar Raya adalah bencana gempa bumi 2009 yang menghancurkan infrastruktur pasar.
Saat ini, di Pasar Raya Padang Fase VII sudah berdiri megah bangunan pasar yang dulunya bocor di sana-sini, sekarang sudah bagus. *)























