
Oleh: Mela Putri
MINANGKABAU merupakan masyarakat yang menganut agama Islam meskipun dengan perkembangan sejarah Minangkabau yang dikenal sangat beradat namun juga dipengaruhi oleh berkembangnya pengaruh agama Islam yang berdasarkan dari Al Qur’an.
Penyusunan adat Minangkabau juga didasarkan dari Al Qur’an seperti terdapatnya filosofi Minangkabau yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
ABS-SBK ini adalah sebuah aturan adat yang menyesuaikan dengan ajaran agama Islam yang berlandaskan kitabullah/Al Qur’an dan masyarakat yang memiliki hukum adat dengan ketentuan adat yang sebenarnya yaitu adat menurut susunan agama Islam (syarak).
Pengertian syarak dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah hukum yang bersedia ajaran Islam; hukum Islam, sedangkan pengertian sendi adalah batu pengalas atau pengganjal tiang rumah dan dapat juga berarti alas, dasar, asas dan fundamen.
Dari beberapa buku ataupun tambo menyebutkan bahwa Minangkabau serta adat Minangkabau telah ada sejak tahun masehi bahkan ada yang menyebabkan Minangkabau telah ada sebelum masehi meskipun pada sebelumnya memang belum bernama Minangkabau, karena Minangkabau telah ada sejak dulunya makkah sudah banyak pula adapun tercipta oleh pemangku adat.
Karena adat sangat dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan dan etnis pada waktu itu serta adat merupakan tempat untuk mengatur tata kehidupan masyarakat Minangkabau, maka diambillah sebuah pelajaran bahwa sejarah agama Islam ada empat kitab yang wajib di-imani (rukun iman) yang diturunkan kepada nabi dan rasul untuk mengatur kehidupan masyarakat waktu itu sesuai dengan zamannya dengan kitab terakhir yaitu Al Qur’an (kitabullah) yang berisi wahyu atau firman Allah Subhanahu wa ta’ala (Swt) yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Besar Muhammad Sallallahu alaihi wasallam (Saw).
Maka dengan adanya ajaran agama Islam di Minangkabau terdapat pula perkembangan tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau. Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah berhulu pada diri Nabi Muhammad Saw melalui Abu Bakar as-Siddiq ra, khalifah pertama yang juga salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw.
Hal ini terdapat dalam jurnal manassa yang menjelaskan bahwa dalam penelitiannya dibuktikan tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah masuk dan berkembang di Minangkabau pada awal abad ke-19 masehi melalui kawasan pantai timur Sumatera Barat atas pengaruh dan jasa Syekh Ismail Al- Khalidi Al-Minangkabawi. Jurnal ini memakai konsep tekstologi dalam melakukan penelitian. Tekstologi adalah salah satu cabang ilmu filologi yang memiliki fokus kajian pada isi teks naskah atau kandungan isi dari sebuah naskah.
Serta dengan cara menelusuri dan mengidentifikasi naskah-naskah ajaran tarekat yang ada di Minangkabau yang dituangkan oleh penulis dalam bentuk bait-bait syair (niazm) dalam konteks Minangkabau.
Naskah yang digunakan dalam jurnal ini adalah naskah Al-Manhal, Al-dhb, li-Dhikr Al- Qalb naskah ini adalah naskah yang sangat penting dalam konteks dan dinamika penyebaran tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau.
Alasan yang membuat naskah ini penting adalah sebagai berikut; pertama, naskah ini karangan Syekh Ismail Al Khadili Al Minangkabawi tokoh membawa yang penyebaran jaran tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau.
Kedua, dengan memperhatikan fisik naskah dan sisi penulis atau pengarang dari naskah ini patut diduga bahwa naskah ini adalah Hindu dari naskah-naskah tentang ajaran tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau
Ketiga, penjelasan terhadap ajaran tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah dalam naskah ini pun tergolong unik dan menarik dalam bentuk nazm atau bait-bait yang menyerupai syair lengkap dengan wazan, bahaedan qafiyahnya yang indah .
Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat di Minangkabau karena ajaran ini juga berhulu pada diri Nabi Muhammad Saw yang merupakan nabi besar kaum penganut agama Islam dan orang Minangkabau salah satu penganut agama Islam tersebut. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























