Oleh : Bachtul
//forumsumbar//
MENJELANG naik ferry di Merak untuk menyeberang ke Bakauheni, saya ditelepon oleh Walinagari Batang Barus Kabupaten Solok Syamsul Azwar.
Walinagari yang juga wartawan senior di Kabupaten Solok dan dua periode menjadi Ketua Forwana Kabupaten Solok ini minta dibantu karena orang tua beliau yang terkena stroke, ditolak oleh Rumah Sakit Otak Dr Drs M Hatta (RSOMH) Bukittinggi, yang dulunya bernama Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN), untuk diberi perawatan dengan alasan kamar penuh.
Pikiran saya langsung melayang, kepada siapa saya akan minta tolong? Saya harus berpikir cepat, karena terbayang orang tua Walinagari Batang Barus yang terkena stroke pagi hari, setelah menempuh perjalanan hampir 100 KM dari Lubuk Selasih Kabupaten Solok ke Bukittinggi sedang tertahan di pintu IGD.
Orang pertama yang terlintas dalam ingatan untuk dimintai tolong adalah pak Mahyeldi Gubernur Sumatra Barat.
Tapi saya ragu, karena pesan WA yang saya kirim berisi ucapan terimakasih sebagai pengguna jalan Sitinjau atas peninjauan beliau ke Sitinjau sudah dua hari belum beliau respons.
Saya tidak tahu, apakah beliau merasa terbantu dengan tulisan saya tentang situasi Sitinjau atau malah tersinggung. Tapi saya yakin beliau mungkin sibuk.
Karena sifatnya urgen maka saya putuskan tidak minta tolong ke orang sibuk. Dan lagi masalah ini kan mungkin remeh-remeh saja bagi sebagian orang. Hanya mungkin bagi saya dan sebagian orang yang lain saja dianggap penting.
Akhirnya saya putuskan menelepon beberapa kawan di DPRD provinsi, dan saya teringat dengan salah seorang yang gampang menerima telpon yaitu bung Novrizon anggota Fraksi Demokrat. Bung Novrizon ini bisa diibaratkan “Andre Rosiade-nya“ DPRD provinsi. Selalu gerak cepat menyahuti aspirasi dan kesulitan masyarakat.
Setelah saya jelaskan ke bung Novrizon masalahnya, bung Novrizon langsung menelepon pihak Rumah Sakit Otak Dr Drs M Hatta (RSOMH) Bukittinggi. Tapi tidak ada yang mengangkat telpon ketika dihubungi.
Akhirnya bung Novrizon menyarankan kepada saya, agar Walinagari Batang Barus meminta pertolongan pertama ke petugas IGD Rumah Sakit Otak Dr Drs M Hatta (RSOMH) Bukittinggi.
Tapi apa lacur, setelah saran bung Novrizon dituruti, oknum petugas IGD malah marah dan mencak-mencak kepada Walinagari Batang Barus dan juga mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi, “Siapa yang mau bapak telepon, telepon lah”.
Padahal Walinagari Batang Barus sudah menyampaikan maksudnya dengan sangat sopan dan baik.
Penulis sendiri meyakini bahwa bung Syamsul Azwar telah menyampaikannya dengan baik, karena beliau ini memang terkenal sopan dan santun, apalagi beliau adalah wartawan senior yang banyak bergaul dengan segala lapisan strata sosial dan apalagi beliau dua periode menjadi Ketua Forwana Kabupaten Solok, sehingga sangat teruji-lah dalam soal budi bahasa.
Tidak mau bertengkar karena masalah kesehatan orang tua lebih penting, akhirnya Walinagari Batang Barus mengalah sambil mengurut dada dan segera membawa orang tua beliau ke RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah sakit stroke.
Dan di RSUD Achmad Mochtar ternyata tidak bisa ditangani karena alat CT scan-nya tidak tersedia. Akhirnya orang tua Walinagari Batang Barus dibawa kembali ke Solok.
Mendengar kejadian ini saya teringat kejadian kejadian yang pernah terjadi di pesawat, seperti kisah Munir, Adian Napitupulu, dan terakhir kisah seorang pilot City Link di Surabaya.
Dimana jika ada seseorang mengalami gangguan kesehatan di pesawat, maka pramugari dan atau pilot akan memberi pengumuman apakah ada di antara penumpang yang merupakan tenaga medis atau dokter. Yang diharapkan bisa memberi pertolongan pertama kepada penumpang yang mengalami sakit di atas pesawat.
Kita juga sering melihat kecelakaan di jalan raya, maka secara spontan masyarakat sekitar atau sesama pemakai jalan akan memberi pertolongan pertama kepada korban kecelakaan, sekalipun tidak saling kenal, tidak pula punya peralatan dan obat yang memadai dan bahkan tanpa keahlian bersertifikat.
Tapi atas nama kemanusiaan orang orang di jalanan mencoba saling menolong.
Tapi ironis di Rumah Sakit Otak Dr Drs M Hatta (RSOMH) Bukittinggi, di rumah sakit milik pemerintah ini, orang sakit yang sudah berada di pintu IGD tidak bisa diberi pertolongan walau hanya sekedar pertolongan pertama.
Padahal semuanya lengkap, ada peralatan, obat obatan, tenaga medis, dll. Dan ini adalah ulah oknum. Oknum yang tidak pantas berada di situ.
Maka pada bapak Menteri Kesehatan, tolong oknum tersebut dibina. tolong pada oknum tersebut diberi penyadaran, tolong pada oknum tersebut dipantik lagi rasa kemanusiaannya.
Pak Menteri, masih banyak anak bangsa yang siap mengabdi lebih baik dibanding oknum tersebut. Rakyat tidak rela jika uang negara digunakan untuk menggaji oknum dengan sikap dan mentalitas seperti oknum di rumah sakit stroke Bukittinggi tersebut.
Melalui surat terbuka ini, saya mohon kepada bapak Menteri Kesehatan agar oknum-oknum seperti ini dipinggirkan saja jika tidak mau dibina. Dan kultur serta paradigma pelayanan di Rumah Sakit Otak Dr Drs M Hatta (RSOMH) Bukittinggi ini mohon dilakukan perubahan dengan cepat, agar rasa kemanusiaan kita makin terjaga dan makin bermartabat.
Saya akhiri saja surat terbuka atau tulisan saya ini pak Menteri dan sidang pembaca, karena kapal ferry yang saya tumpangi sudah sampai di pelabuhan Bakauheni Lampung.
Selat Sunda 1 September 2022
Penulis adalah Mantan Anggota DPRD Sumbar






















