“Itu tandanya kita sudah masuk ke wilayah selatan Pesisir Selatan,” canda saya saat melihat segerombolan sapi menyeberang di jalan raya Painan – Tapan. Keadaan seperti itu dari dulu sering kita temukan. Itu karena daerah selatan memang banyak terdapat sapi, dan saat Hari Raya Idul Adha, atau hari raya kurban, banyak pengurus masjid mencari sapi ke daerah ini untuk disembelih.
Mengingat telah adanya dasar tadi, untuk percepatan peningkatan perekonomian masyarakat, sebenarnya di daerah selatan Pesisir Selatan sudah harus ada usaha untuk peternakan sapi secara massal yang dikelola dengan profesional. Dalam artian harus ada investasi masuk, sehingga bisa menjadi sentra sapi, seperti halnya di Nusa Tenggara.
Minimal kebutuhan sapi untuk wilayah Sumatera bisa dipasok. Kalaupun untuk nasional juga, harus dibangun pelabuhan laut yang bisa tempat bersandar kapal khusus pengangkut sapi (juga untuk kapal-kapal besar lainnya), dan sekalian kapal tersebut lansir ke Mentawai untuk memuat sapi yang ada di sana. Untuk diketahui, di Mentawai kalau serius diusahakan, sebenarnya banyak juga sapi yang bisa dihasilkan.
Bagaimana kita melihat peternakan sapi di Padang Mangateh Kabupaten Limapuluh Kota, seperti itu pula yang dibuat di beberapa titik di selatan Pesisir Selatan. Kemudian diberdayakan masyarakat lokal dengan sistem plasma atau bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag). Masyarakat disupervisi agar sapi yang dihasilkan memang sesuai dengan standar di pasaran, tidak kurus-kurus seperti yang sering kita lihat sekarang ini.
Untuk kongkretnya, bisa saja dibuat perusahaan daerah (perusda) antara Pemkab Pesisir Selatan dengan Pemprov Sumbar. Dimana Pemkab Pesisir Selatan menyiapkan lahan sebagai penyertaan modal, sementara Pemprov Sumbar menutupi yang lainnya. Catatannya, tentunya pengelolaan usaha tersebut harus profesional.
Bisnis peternakan sapi adalah bisnis yang tidak mengenal rugi, sebab kebutuhannya ada terus dan meningkat pada saat-saat tertentu. Bagi sementara orang, beternak sapi itu sebagai lahan investasi. Jadi, sudah terlalu lama Pemprov Sumbar membelakangi selatan, sehingganya terjadi ketimpangan pembangunan di bandingkan dengan Sumbar bagian utara. Sudahlah, mulai saat ini mari kita “melihat ke selatan Pesisir Selatan”.
ISA KURNIAWAN
Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)






















