Oleh: Erizal
HENDRI SEPTA sudah penuh naik sebagai Walikota Padang. Ia naik karena Mahyeldi terpilih sebagai Gubernur Sumbar. Janji yang diingkari untuk tak “Nyagub”, akhirnya berbuah manis. Hendri Septa dapat durian runtuh meski tak mendukung Mahyeldi, melainkan Mulyadi.
Artinya, komitmen Hendri Septa terhadap partai jauh lebih besar ketimbang urusan karir politik pribadi. Jika mengutamakan karir politik pribadi, mestinya ia mendukung Mahyeldi sejak awal. Tapi, tidak! Ia dengan terang mendukung Mulyadi-Ali Mukhni, yang diusung oleh PAN.
Jika akhirnya Mahyeldi-Audy menang, itu takdir sejarah yang tak bisa ditolak. Termasuk, ia naik sebagai Walikota Padang menggantikan Mahyeldi. Tapi, setidaknya, ia “bersih” dari aroma permainan politik busuk. Hal itu karena ia tegas mendukung Mulyadi, bukan Mahyeldi.
Artinya, komitmennya terhadap janji politik saat mendampingi Mahyeldi agar tak ikut “Nyagub”, bergeming. Lihatlah, video janji politik itu! Ia termasuk yang bertepuk tangan tanda setuju, saat janji politik itu diucapkan. Ia masih komitmen. Itu etika politik yang bagus.
Tapi, celaka, etika politik itu kini sedang digugat. Baik terhadap Hendri Septa sendiri, partainya (PAN), partai-partai lain, maupun publik itu sendiri. Pasalnya, kursi Wakil Walikota yang kosong dicap bermerek tertentu. Jika tidak, maka semua dicap tak lagi beretika.
Entah siapa yang menyuruh Mahyeldi maju mengingkari janji politiknya? Mestinya, itu yang dicap tak beretika, sejak awal. Oh, Mahyeldi kan menang? Iya, tapi menangnya hanya 32%. Artinya, ada 68% lainnya, yang bisa jadi setuju agar janji politik itu benar-benar ditepati.
Jadi, kalau kini kursi Wakil Walikota itu kosong, mestinya diisi sesuai aturan saja tanpa embel-embel soal etika politik dan segala macamnya. Apalagi disertai dengan gugatan malah bernada ancaman halus dan kasar. Lewat berbagai lini dan cara. Itu tak pas-lah ya.
Masukan saja nama, yang lain juga begitu, nanti dipilih bersama-sama. Jangan lupa lobi, baik Hendri Septa, PAN sebagai mitra koalisi, dan anggota DPRD Kota Padang. Itu semua ada harganya? Tentu. Toh, Hendra Septa duduk sebagai wakil walikota juga tak gratis. Camkan.
Lagian, buat apa pula memusingkan mengisi kursi Wakil Walikota yang kosong? Berapalah peran Wakil Walikota itu? Pakai jargon-jargon etika politik yang sudah diingkari sendiri pula. Bukankah sudah dapat kursi Gubernur? Lebih baik fokus pada meraih kursi capres, jika jalan Jokowi benar yang disalin, sejak awal.
Penulis adalah Pengamat Sosial dan Politik






















