
PADANG PARIAMAN, forumsumbar – Setelah melalui proses pembangunan selama hampir lima tahun, Masjid Al Fauzan yang berdiri megah di Nagari Katapiang Kecamatan Batang Anai, diresmikan pada Sabtu (6/6/2026). Dengan desain arsitektur unik menyerupai kapal, masjid ini digadang-gadang menjadi ikon baru wisata religi sekaligus simbol kebangkitan budaya maritim di Sumbar.
Peresmian berlangsung khidmat dan dihadiri Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis (JKA) Walikota Pariaman Yota Balad, unsur Forkopimda Padang Pariaman, pejabat Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Niniak Mamak yang berulayat di Nagari Katapiang Bahrun Rangkayo Rajo Sampono, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memadati kawasan masjid.
Dalam sambutannya, Bupati Padang Pariaman JKA menyampaikan apresiasi atas terwujudnya pembangunan Masjid Al Fauzan yang memiliki karakter arsitektur berbeda dari kebanyakan masjid pada umumnya. Menurutnya, kehadiran masjid berbentuk kapal tersebut tidak hanya memperkaya khazanah arsitektur Islam di daerah, tetapi juga menjadi daya tarik baru yang memperkuat identitas religius Kabupaten Padang Pariaman.
“Masjid Al Fauzan memiliki keunikan yang luar biasa dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung. Kehadirannya tentu akan menambah ikon religius di Kabupaten Padang Pariaman,” ujar Bupati JKA.
Namun demikian, Bupati menegaskan bahwa nilai utama sebuah masjid bukan terletak pada kemegahan bangunannya, melainkan sejauh mana keberadaannya mampu menjadi pusat pembinaan umat dan memakmurkan kehidupan keagamaan masyarakat.
Ia berharap, Masjid Al Fauzan dapat menjadi tempat yang menghadirkan kenyamanan beribadah, memperkuat ukhuwah Islamiyah. Sekaligus membangun semangat generasi muda, untuk lebih dekat dengan nilai-nilai agama.
“Semoga dengan berdirinya masjid ini, masyarakat semakin termotivasi untuk datang ke masjid, memperbanyak ibadah, dan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat,” katanya.
Senada dengan itu, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy mengaku terkesan dengan konsep dan kualitas bangunan Masjid Al Fauzan. Menurutnya, meskipun bukan satu-satunya masjid berbentuk kapal di Indonesia, masjid tersebut merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia lihat.
“Mungkin ini memang bukan satu-satunya masjid berbentuk kapal di Indonesia, tetapi menurut saya ini salah satu yang paling bagus dan berasal dari Sumbar,” ungkap Vasko.

Ia menilai desain kapal yang diusung Masjid Al Fauzan memiliki makna filosofis yang mendalam dan sangat relevan dengan sejarah masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu dikenal memiliki tradisi maritim yang kuat.
Karena itu, keberadaan masjid ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga mampu menumbuhkan kembali kesadaran generasi muda terhadap pentingnya dunia pelayaran, kemaritiman, dan semangat bahari yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumbar.
Vasko juga mengapresiasi berbagai fasilitas yang tersedia di lingkungan masjid, termasuk penginapan gratis bagi para musafir yang melintas. Menurutnya, fasilitas tersebut mencerminkan fungsi masjid sebagai rumah umat yang terbuka bagi siapa saja.
“Semoga masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Padang Pariaman dan Sumbar serta mampu menghadirkan kenyamanan dalam beribadah bagi siapa saja yang datang,” ujarnya.
Di balik kemegahan Masjid Al Fauzan, tersimpan gagasan besar yang lahir dari kecintaan para alumni dunia pelayaran terhadap budaya maritim.
Salah seorang pengurus sekaligus Imam Masjid Al Fauzan, Ustaz Nurul Huda, menjelaskan bahwa konsep bangunan berbentuk kapal berasal dari para penggagas dan donatur yang merupakan alumni Akademi Ilmu Pelayaran (AIP).

Menurutnya, para alumni yang tergabung dalam korps alumni tersebut memiliki visi untuk menghadirkan simbol kebangkitan budaya maritim melalui gerakan Minang Bahari.
“Desain Masjid Al Fauzan ini memang dibuat menyerupai kapal. Penggagas dan donaturnya merupakan alumni Akademi Ilmu Pelayaran yang tergabung dalam korps alumni. Mereka memiliki semangat untuk mengembangkan budaya maritim melalui gerakan Minang Bahari,” jelasnya.
Ia menuturkan, pembangunan masjid dimulai pada September 2021 setelah seluruh proses administrasi dan perizinan diselesaikan. Setelah melewati perjalanan panjang selama hampir lima tahun, masjid tersebut akhirnya berdiri sempurna dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Lebih jauh, Nurul Huda mengungkapkan bahwa desain kapal sengaja dipilih untuk menghadirkan daya tarik tersendiri. Harapannya, masyarakat yang datang karena rasa penasaran terhadap bentuk bangunan akan terdorong untuk mengenal lebih dekat fungsi masjid dan akhirnya menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Harapan para donatur, masjid berbentuk kapal ini dapat menarik masyarakat untuk berkunjung. Mungkin awalnya datang karena penasaran atau ingin berfoto, tetapi kemudian mereka juga terdorong untuk beribadah dan merasakan kenyamanan beribadah di dalam masjid,” tutupnya.
Dengan arsitektur yang ikonik, filosofi maritim yang kuat, serta fasilitas yang mendukung kebutuhan jamaah dan musafir, Masjid Al Fauzan kini hadir sebagai landmark baru di Padang Pariaman. Lebih dari sekadar bangunan ibadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat syiar Islam, ruang pembinaan umat. Sekaligus menjadi destinasi wisata religi, yang mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia.
(Kominfo/AS)






















