• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, April 23, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Catatan Perjalanan Rafles Rajo Endah ke Lombok #2: “Lombok Praya, Satu Bandara dengan Banyak Nama”

6 Juli 2025
in Wisata
Reading Time: 5min read
Views: 705
Bandara Internasional Lombok, satu bandara dengan banyak nama. (Foto : Rafles)

Oleh: Rafles Rajo Endah
(Wartawan Senior)

PERNAHKAH anda mendengar nama Bandara Selaparang, Bandara Internasional Lombok atau Lombok International Airport, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM) dan Bandara Internasional Lombok atau Lombok Praya International Airport. Kalau pernah, apakah anda berfikir itu nama dari lima Bandara yang ada di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat atau NTB? Kalau iya berarti anda salah, karena kelima nama itu adalah nama dari satu Bandara yang sama di Pulau Lombok.

Bandara ini pertamakali bernama Bandara Selaparang, terletak di pinggiran (sekarang di pusat) Kota Mataram. Setelah beroperasi selama lebih dari setengah abad Bandara ini kemudian dipindahkan dan diperluas sesuai dengan ketentuan penerbangan internasional ke daerah Praya yang merupakan ibukota Kabupaten Lombok Tengah dan berganti nama menjadi Bandara Internasional Lombok atau Lombok International Airport.

Lihat Juga

Catatan Perjalanan Rafles Rajo Endah ke Lombok, NTB #1: “Misteri di Balik Kabut Gunung Rinjani”

Catatan Perjalanan Rafles Rajo Endah ke Lombok, NTB #1: “Misteri di Balik Kabut Gunung Rinjani”

29 Juni 2025
95
Catatan Perjalanan Rafles: Ke Bintan Kita Pergi Jalan-jalan

Catatan Perjalanan Rafles: Ke Bintan Kita Pergi Jalan-jalan

20 Mei 2025
170
Nikmati Sensasi Alami Air Terjun Sarasah Kuau Rajo di Sungai Buluh Batang Anai

Nikmati Sensasi Alami Air Terjun Sarasah Kuau Rajo di Sungai Buluh Batang Anai

8 Desember 2024
136

Ketika TGB M. Zainul Majdi menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat, beliau menyematkan nama Tokoh Ulama Terkemuka di daerah itu yang juga orang tua kandungnya Zainuddin Abdul Majid sebagai nama baru Bandara, sehingga Bandara Lombok resmi berganti nama menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid atau BIZAM.

Namun nama Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid sampai saat ini hanya ada di atas kop surat, di plang mana dan tertulis dinding Bandara saja, karena kalangan penerbangan termasuk agen dan biro perjalanan baik di dalam maupun luar negeri lebih suka menyebutnya dengan Bandara Internasional Lombok Praya atau Lombok Praya International Airport.

Di bandara inilah saya bersama isteri, seorang anak laki-laki, seorang menantu dan 2 orang cucu mendarat pada pertengahan bulan Juni lalu tepatnya pada hari Jum’at 20 Juni 2025, sekitar pukul 14.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA)

Pesawat Boeing 737-900 Lion Air yang berpenumpang 215 orang take off tepat waktu pukul 07.40 WIB dari Bandara Hang Nadim, Batam. Tumben ternyata Lion Air bisa on time juga ya? Cuaca dilaporkan cerah dan berawan tipis, membuat penerbangan terasa nyaman tanpa turbulensi sama sekali.

Tepat 2 jam kemudian kami sudah mendarat di Bandara Juanda Surabaya untuk transit selama lebih kurang 1 jam. Alhamdulillah kami memanfaatkan waktu transit untuk sarapan dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan penerbangan ke Lombok. Setelah menungu selama hampir satu jam, ternyata pesawat pengganti yang akan menerbangkan kami ke Lombok diumumkan bakal delay sekitar satu jam. Artinya masa istirahat kami di Bandara Juanda jadi bertambah.

Penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Lombok Praya sebenarnya hanya akan memakan waktu sekitar satu jam saja. Tetapi karena berada dalam pusaran waktu dari Waktu Indonesia Barat (WIB) ke Waktu Indonesia Tengah (WITA) maka kami baru akan sampai di Lombok dua jam kemudian akibat adanya perbedaan waktu 1 jam antara WIB dengan WITA.

Desa Wisata Sade, desa tradisional Suku Sasak, Lombok (Foto : Rafles)

Tidak ada yang istimewa dari Bandara Lombok Praya ini. Bahkan arsitektur, penataan ruang Bandara dan suasananya hampir sama dengan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, Sumatera Barat. Karena itulah kami tidak ingin berlama-lama dengan mengabadikan berbagai sudut Bandara, tetapi cukup dengan sekedar berfoto di bawah tulisan besar icon “Lombok” sebagai bukti bahwa kami telah mendarat di Lombok.

Tidak ingin merepotkan tuan rumah atau keluarga yang sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, kami menolak untuk dijemput ke Bandara dan memilih mencari mobil sewaan/rental yang banyak ditawarkan di Bandara. Kami memilih kendaraan dari jenis Innova Reborn yang harga sewa Rp750.000,-/hari untuk pemakaian dalam kota dan Rp1.000.000,-/hari untuk pemakaian luar kota dan sudah lengkap dengan Driver dan BBM.

Karena waktu kedatangan kami yang masih agak siang Sang Driver yang kemudian juga merangkap sebagai pemandu wisata kami menawarkan kunjungan ke beberapa objek wisata terdekat dari Bandara sebelum kami diantar ke tempat menginap di Hotel Lombok Raya di Kota Mataram. Pilihannya adalah ke Desa Wisata Sade dan Sirkuit Mandalika. Pilihan objek wisata ini langsung kami setujui karena letaknya yang berada di jalur menuju pusat kota Mataram.

Desa Wisata Sade yang terletak hanya sekitar 15 menit perjalanan dari Bandara Lombok Praya adalah contoh yang baik bagi pengelolaan wisata budaya yang terkoordinir dan terkolaborasi dengan baik antara satu stakeholder dengan stakeholder lainnya. Betapa tidak, setiap kali ada tamu/wisatawan yang datang pastilah ditawari untuk berkunjung, minimal beristirahat sejenak di Desa Wisata Sade. Kedatangan tamu/wisatawan akan disambut pemuka desa dan mendapat penjelasan panjang lebar dari seorang pemandu wisata desa tentang apa dan bagaimana kehidupan serta adat istiadat yang masih berlaku di Desa Sade.

Desa Sade sendiri cukup luas dengan sekitar 150 rumah kuno/rumah adat Suku Sasak didalamnya. Untuk mengelilingi Desa ini dibutuhkan waktu antara 2 sampai 3 jam. Malah kalau diselingi dengan belanja oleh-oleh kerajinan tangan masyarakat seperti kain tenun, pakaian adat dan pernak-pernik lainnya yang dijual hampir disetiap rumah lalu diselingi dengan makan minum dan berbincang dengan warga desa, bisa-bisa akan menghabiskan waktu sampai setengah hari berada di Desa ini.

Sirkuit Mandalika dilihat dari atas Bukit Seger (Foto : Rafles)

Puas berkeliling di Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke Sirkuit Mandalika yang terkenal itu. Hampir satu jam waktu yang kami habiskan di perjalanan untuk sampai ke Sirkuit Mandalika ini dari Desa Sade. Kebetulan sedang ada lomba yang sedang berlangsung di sirkuit ini, sehingga kami tidak bisa masuk untuk melihat sirkuit dari pintu utama. “Kita bisa lihat sirkuit dari Tribun Terbuka di sebelah kanan itu Pak”, kata driver/guide yang selalu menyertai kami ke setiap objek wisata.

Entah kenapa saya tidak terlalu terkesan dengan sirkuit ini yang keadaannya seperti tidak terurus dengan baik, terutama dengan rerumputannya sudah panjang setengah merimba dan sampah dedaunan yang berserakan terbawa angin. Iseng saya bertanya, ” Kok seperti tidak terurus ya. Sirkuitnya besar dan luas serta dibangun dengan biaya trilyunan, tapi seperti terlantar begitu saja”. “Ya, begitulah Pak, mungkin nanti waktu akan ada lomba balap Internasional baru dibenerin lagi”, jawabnya singkat.

Hanya sebentar kami di Sirkuit Mandalika, saya ingin segera ke Bukit Seger, tempat legenda Putri Mandalika yang sesungguhnya, yang terletak di bagian belakang sirkut. Apabila kita mampu menaiki bukit dibalik anak sungai yang membelah Padang Savana Mandalika, maka kita akan menyaksikan dua pemandangan indah sekaligus yakni kawasan sirkuit dengan track/arena pacunya yang berlika-liku, sekaligus bisa menyaksikan Teluk Mandalika yang tenang, indah dan permai.

Karena usia yang sudah terbilang tua, saya dan isteri tidak ikut naik ke bukit. Hanya anak, menantu dan 2 orang cucu yang mencoba menapaki satu persatu anak tangga menuju keatas bukit. Saya memilih untuk beristirahat di salah satu warung di Pantai Mandalika sambil mendengarkan kisah/cerita tentang Puteri Mandalika. Beginilah kisahnya sebagaimana yang saya kutip dari Meta AI :

“Puteri Mandalika adalah seorang putri cantik dari Kerajaan Sekar Kuning di Lombok yang dikenal karena kecerdasannya, kesabaran, dan kerendahan hatinya. Ia tumbuh menjadi gadis santun dan sangat menyayangi rakyatnya. Namun, kecantikan dan kebaikannya menarik perhatian banyak pangeran dari kerajaan lain yang ingin memperistrinya”.

Patung Puteri Mandalika ketika hendak terjun ke laut (Foto : Rafles)

Konflik yang Muncul

“Kedatangan belasan pangeran untuk melamar Puteri Mandalika menimbulkan konflik karena setiap pangeran mengancam akan menyerang kerajaan lain jika permintaannya tidak dikabulkan. Puteri Mandalika sedih dan bingung, tak ingin rakyatnya menderita akibat pilihannya”.

Pengorbanan Puteri Mandalika

“Untuk mencegah perang, Puteri Mandalika memutuskan untuk mengorbankan dirinya. Ia meminta semua pangeran berkumpul di Pantai Seger, lalu melompat ke laut dan tenggelam. Setelah itu, rakyat menemukan cacing laut berwarna-warni yang diyakini sebagai jelmaan Puteri Mandalika”.

Makna dan Tradisi

“Kisah Puteri Mandalika diperingati setiap tahun dalam Festival Bau Nyale, di mana masyarakat Lombok menangkap cacing laut yang diyakini sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Puteri Mandalika dianggap sebagai simbol pengorbanan untuk kebaikan rakyat dan kerajaannya”.

Pesan Moral

“Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya kerendahan hati, pengorbanan untuk kebaikan bersama, dan menghindari kesombongan. Puteri Mandalika menjadi contoh bagi masyarakat Lombok tentang betapa berharganya pengorbanan demi kedamaian dan kesejahteraan rakyat”.

Selain mengunjungi Desa Sade, Sirkuit Mandalika dan Bukit Seger dengan kisah Puteri Mandalikanya, selama berada di Lombok kami juga mengunjungi Pantai Senggigi, Mesjid Tua di Desa Bayan, Desa Wisata Sembalun di Kaki Gunung Rinjani, Kota Tua Ampenan dan Air Terjun Bertingkat Benang Kelambu di Desa Aik Berik, Lombok Tengah serta menghadiri Akad Nikah dan Pesta Perkawinan anak dari Saudara sepupu isteri di Masjid Agung Kota Mataram.

Selama 4 hari 3 malam berada di Lombok, banyak sudah tempat dan objek wisata yang kami kunjungi. Akan tetapi lebih banyak lagi yang belum sempat dikunjungi. Demikian dikatakan driver/pemandu wisata kami selama berada di Lombok. Apakah itu artinya suatu saat kami akan kembali lagi ke Lombok? Jawabannya mungkin saja karena masih ada belahan diri dari saudara sepupu isteri beserta keluarganya yang tinggal di Lombok yang suatu saat mungkin saja akan kembali mengundang dan meminta kami untuk datang kembali ke Lombok. Entahlah, entah kapan. Wallahua’lam Bishawab…!!!
(Tamat)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Memperkuat Budaya Minang di Arus Globalisasi: Peran Strategis DPD RI dan Senator Sumbar

Next Post

SatuPena Sumbar Umumkan 50 Nomine Lomba Menulis Surat untuk Guru dan Siswa se Sumbar

BeritaTerkait

Catatan Perjalanan Rafles Rajo Endah ke Lombok, NTB #1: “Misteri di Balik Kabut Gunung Rinjani”
Wisata

Catatan Perjalanan Rafles Rajo Endah ke Lombok, NTB #1: “Misteri di Balik Kabut Gunung Rinjani”

29 Juni 2025
95
Catatan Perjalanan Rafles: Ke Bintan Kita Pergi Jalan-jalan
Wisata

Catatan Perjalanan Rafles: Ke Bintan Kita Pergi Jalan-jalan

20 Mei 2025
170
Nikmati Sensasi Alami Air Terjun Sarasah Kuau Rajo di Sungai Buluh Batang Anai
Wisata

Nikmati Sensasi Alami Air Terjun Sarasah Kuau Rajo di Sungai Buluh Batang Anai

8 Desember 2024
136
Next Post
SatuPena Sumbar Umumkan 50 Nomine Lomba Menulis Surat untuk Guru dan Siswa se Sumbar

SatuPena Sumbar Umumkan 50 Nomine Lomba Menulis Surat untuk Guru dan Siswa se Sumbar

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,267)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,471)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,605)
  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (33,780)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,551)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (31,122)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (28,978)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (28,693)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (27,613)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (24,352)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
158
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
336
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
490
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
228
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
114
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
147
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
127
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
190
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
125

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In