
Silsilah yang Retak di Peta Partai
Oleh: Era Nurza
Di ranah yang menulis doa dengan aksara adat
di mana surau menjadi tempat menimbang kata dan sikap
lahir sebuah kisah yang mengguncang arah kompas
ayah berlayar di perahu tauhid
anak menakhodai biduk sekuler yang mencintai badai
Angin berembus dari Gunung Marapi
membawa kabar aneh ke tiap surau dan warung kopi
Bukankah itu anak sang gubernur?
Yang kini menabuh genderang di partai yang berlawanan arah kiblat?
Suara-suara itu menggema seperti azan yang bergema di dua langit berbeda
Ayah dengan serban kesetiaan dan wajah teduh keumatan
menjaga moral seperti menjaga bara dalam tungku
Anak dengan kemeja putih berbicara tentang kebebasan dan data
tentang perempuan di parlemen dan pikiran tanpa sekat
Keduanya benar di tempat berbeda
tapi dunia hanya mengenal satu meja perdebatan
Satu dipuja karena istiqamah
satu dipuja karena berani berbeda
dan Sumatera Barat pun tercekat
antara doa yang menghadap Ka’bah dan mimpi yang menghadap masa depan
Bukankah ini juga cinta dalam rupa paling getirnya?
Cinta ayah yang membiarkan anaknya memilih arah mata angin sendiri
meski layar itu menjauh dari dermaga keyakinannya
Politik, kata yang bisa memisahkan garis darah
namun menyatukan wacana di ruang debat hangat
Sementara rakyat menatap
setengah kagum setengah canggung
menyaksikan dua darah Minang
menulis dua ideologi di peta yang sama
Mungkin sejarah nanti akan mencatat
bahwa dari ranah yang menjunjung adat dan iman
lahir pula keberanian untuk menabrak takdir keyakinan
dan ironi itu pun mekar indah
seperti bunga yang tumbuh di antara dua musim
tak bisa disebut salah
tak bisa pula dikatakan benar
hanya… manusiawi
Padang, Oktober 2025
Sekilas Penulis
Era Nurza merupakan nama pena dari Edrawati, MPd. Seorang pendidik/guru sekaligus penulis, lulusan UNY yang aktif menekuni dunia literasi.
Kecintaannya pada dunia literasi membawanya bergabung dengan berbagai komunitas penulis nasional, mengikuti iven puisi dan cerpen, serta meraih beragam penghargaan bergengsi.
Di sekolah, bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing siswanya agar berani menulis dan berkarya. Baginya, menulis adalah sarana untuk menumbuhkan imajinasi, membangun kesadaran, serta meninggalkan jejak pemikiran dengan gaya yang modern dan penuh semangat.
























