
Giring-Giring Perak:
“Langit yang Memikul Dendam, dan Kabut yang Menyimpan Cinta”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Kabut menua di lereng Pariangan,
seperti doa-doa tua yang lupa jalan pulang.
Surau Tujuh Luka berdiri kaku,
dengan dinding yang menghafal segala sumpah,
dan lantai yang menyimpan jejak nyawa-nyawa
yang tak pernah selesai.
Giring-giring perak masih berdenting,
tipis, jauh, seperti detak jantung yang merangkak
dalam dada yang tak tahu kapan ajal akan singgah.
Di dunia persilatan,
nama adalah nyawa yang ditulis dalam angin,
dan dendam adalah benang yang menyulam ajal di balik kabut.
Malam itu, segala nama akan dipanggil pulang.
Segala dendam akan ditakar di ujung pisau,
dan cinta…
akan memilih sendiri
di tangan siapa ia ingin mati.
II
Suri menunggu di sudut surau,
selendang hitam melilit bahu,
dan giring-giring perak terselip di jemari yang tak pernah gemetar.
Matanya adalah sumur yang menelan segala nyawa
tanpa pernah memantulkan wajah sendiri.
Ia adalah perempuan yang menari di batas ajal,
yang membuat para pendekar gugur tanpa luka,
dan membuat para hantu jatuh cinta dalam sunyi.
Di batas kabut, Harimau Larangan datang.
Tangan kanannya menggenggam pisau,
tangan kirinya menggenggam nyawanya sendiri.
Langkahnya berat,
karena ia tahu,
malam ini ia tak hanya datang untuk menjemput dendam.
Ia datang untuk menjemput cinta,
dan cinta selalu menunggu ajal
di tikar paling sunyi.
“Kalau kau mencintaiku, Harimau…”
bisik Suri,
“Bunuh aku sebelum fajar…
Atau kita akan menari selamanya
di antara kabut yang tak pernah selesai.”
III
Di sudut surau,
Marah Linduang Batuah menyalin langkah mereka.
Hantu tanpa nisan,
yang hanya tahu satu jurus:
“Langkah Bayang Anyuik…”
yang membuat ajal lupa pada namanya sendiri,
dan membuat cinta menari tanpa tubuh.
Ia menunggu malam ini selama seratus tahun,
karena di dunia persilatan,
dendam adalah tali yang mengikat nyawa
hingga segala ajal menemukan tubuhnya sendiri.
IV
Harimau Larangan menatap pisau di tangannya,
tapi mata Suri lebih tajam dari segala besi
yang pernah ia asah di telapak tangan.
Dalam kabut,
waktu menjadi abu.
Segala sumpah,
segala nyawa,
dan segala cinta
menjadi nama-nama yang menggantung di batas dunia.
“Bunuh aku sebelum fajar, Harimau…”
bisik Suri,
“Atau kita akan menjadi legenda
yang tak pernah sempat ditulis di batu nisan.”
Tapi Harimau Larangan hanya memejamkan mata,
karena ia tahu,
kadang cinta yang paling abadi
adalah cinta yang tak pernah berani membunuh.
V
Di ujung fajar,
kabut merangkak pelan,
seperti tangan Tuhan yang menyulam nyawa-nyawa
di batas dunia.
Pisau itu jatuh dari tangan Harimau Larangan,
dan Suri hanya tersenyum dalam sunyi,
karena ia tahu,
seumur hidupnya ia menunggu lelaki yang terlalu mencintainya
untuk membunuh.
Dalam kabut,
Marah Linduang Batuah tersenyum tanpa wajah,
karena dendam yang paling berat
adalah dendam yang tak pernah sempat ditebus.
VI
Ketika matahari pecah di puncak Pariangan,
tak ada darah,
tak ada mayat.
Hanya dua bayang yang larut dalam kabut,
dan giring-giring perak yang terus berdenting,
menyebut nama-nama yang lupa pulang.
Orang-orang berkata,
di setiap fajar di kaki Gunung Merapi,
dua bayang akan menari dalam kabut,
menunggu ajal yang tak pernah datang,
dan menunggu cinta yang tak pernah berani mati.
VII
Surau Tujuh Luka tetap berdiri,
menjadi makam bagi segala sumpah.
Kabut terus menyulam nama,
dan angin terus membawa denting giring-giring
ke langit yang tak pernah menulis takdir mereka.
“Tujuh luka, tujuh nama…
Tapi hanya satu yang tak pernah selesai.”
Harimau Larangan dan Suri menari dalam kabut,
dalam cinta yang menolak ajal,
dan ajal yang menunggu nama.
Di batas dunia,
Marah Linduang Batuah terus menyalin langkah mereka,
karena hantu hanya bisa menulis ulang hidup
yang tak pernah sempat mati.
VIII
Jika kau berjalan di lereng Pariangan,
dan mendengar denting giring-giring dalam kabut,
jangan berdoa.
Itu bukan angin,
bukan juga arwah yang tersesat.
Itu adalah cinta yang menunggu ajal,
dan dendam yang menunggu nama.
Mereka menari di batas dunia,
menyebut Tuhan dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh kabut.
IX
Karena cinta yang belum mati,
dan dendam yang belum selesai,
akan terus menari di batas kabut,
hingga dunia lupa bagaimana cara melupakan nama mereka.
“Ada cinta yang ditulis di batu nisan…
Tapi ada cinta yang hanya ditulis di kabut,
dan terus menari
hingga Tuhan lupa bagaimana cara memanggil mereka pulang.”
2025
Giring-Giring Perak:
“Nyawa di Antara Nama-Nama yang Lupa Pulang”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Di jantung Pariangan,
di mana kabut lebih tua dari matahari,
ada nyawa-nyawa yang berjalan tanpa bayang.
Langkah-langkah mereka ringan,
seperti doa-doa yang tersesat di antara waktu.
Giring-giring perak masih berdenting,
seperti tasbih yang menghitung ajal tanpa pernah selesai.
Suri menari dalam sunyi,
membawa cinta di telapak kaki,
dan dendam di ujung selendang hitam yang menua.
“Tujuh luka, tujuh nyawa…”
bisiknya pada angin.
“Tapi hanya satu yang masih belum pulang.”
Harimau Larangan melangkah di batas dunia,
dengan pisau yang tak pernah sempat berkilau.
Nyawanya tinggal separuh,
karena separuh yang lain
sudah ia titipkan di tubuh perempuan
yang menunggu ajal dalam tari.
II
Di dunia persilatan,
nama adalah nisan yang belum ditulis.
Dan cinta adalah hantu
yang selalu lebih sabar daripada ajal.
Surau Tujuh Luka masih berdiri,
menjadi makam bagi dendam-dendam yang tak sempat berbunga.
Dindingnya penuh retak,
seperti kulit tua yang menyimpan nyawa-nyawa yang lupa pulang.
Marah Linduang Batuah terus menyalin langkah mereka.
Ia adalah bayang yang ditinggalkan ajal,
dan hantu yang terus menunggu namanya disebut
dalam doa yang tak pernah selesai.
“Nyawa yang paling berat
adalah nyawa yang dicintai…”
bisik kabut pada fajar.
III
Malam itu, Suri menari di batas kabut,
selendang hitam melilit di bahu,
dan giring-giringnya berdenting
seperti lonceng kecil yang membangunkan ajal.
Harimau Larangan datang tanpa suara,
membawa pisau di tangan kanan,
dan nyawanya sendiri di tangan kiri.
“Aku datang untuk melunasi dendam, Suri…”
Tapi Suri hanya tersenyum,
karena ia tahu,
kadang cinta yang paling dalam
adalah cinta yang membiarkan nyawa terus hidup
dalam siksaan sunyi.
“Kalau kau mencintaiku, Harimau…”
bisiknya,
“Bunuh aku sebelum fajar…
Atau kita akan menari dalam kabut
hingga dunia lupa nama kita.”
IV
Pisau bergetar di tangan Harimau Larangan,
tapi ajal tak pernah tahu caranya membunuh cinta.
Marah Linduang Batuah bersembunyi di batas kabut,
menyalin setiap langkah
dengan mata yang tak pernah berkedip.
“Jika kau tak membunuhnya malam ini, Harimau…”
bisik angin,
“Kau akan menari bersamanya selamanya,
di antara nama-nama yang lupa pulang.”
Tapi Harimau Larangan hanya memejamkan mata,
karena ia tahu,
cinta yang paling setia
adalah yang menunda ajal dalam sunyi.
V
Ketika fajar pecah di tepi Pariangan,
tak ada darah,
tak ada mayat.
Hanya dua bayang yang larut dalam kabut,
dan denting giring-giring yang terus menyebut nama Tuhan
dalam bahasa yang tak pernah selesai.
Orang-orang berkata,
mereka menari selamanya,
di antara kabut yang menyulam nama
dan dunia yang lupa menuliskan ajal mereka.
VI
Surau Tujuh Luka tetap berdiri,
menjadi makam bagi nyawa-nyawa yang menolak pulang.
Tujuh nama terus bergetar di dindingnya,
seperti doa-doa yang tak pernah sempat dilunaskan.
1.Sutan Kalam Hitam, yang mati tanpa kuburan.
2.Gumarang Sakti, yang jatuh sebelum dendam selesai.
3.Marah Linduang Batuah, hantu yang menyalin langkah dunia.
4.Harimau Larangan, nyawa yang menunda ajalnya sendiri.
5. Suri, perempuan yang menari di batas maut.
6.Kabut, yang menyulam nama di antara sunyi.
7. Waktu, yang tak pernah selesai menulis legenda ini.
VII
Jika kau berjalan di kaki Pariangan,
dan mendengar denting giring-giring di antara kabut,
jangan berdoa.
Itu bukan angin,
bukan juga arwah yang tersesat.
Itu adalah cinta yang menunggu ajal,
dan dendam yang menunggu nama.
Mereka terus menari,
menyebut Tuhan dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh kabut.
VIII
Kabut terus menyulam nama,
tapi dunia terlalu sempit
untuk menulis kata tamat
bagi nyawa yang menolak pulang.
Harimau Larangan dan Suri menari dalam sunyi,
membawa cinta yang tak pernah selesai,
dan dendam yang tak pernah mati.
Dan Marah Linduang Batuah,
hantu yang menyalin langkah dunia,
tersenyum di batas kabut
karena ia tahu,
“Tak semua nyawa ditulis di batu nisan…
Beberapa hanya ditulis di kabut,
dan terus menari
hingga Tuhan lupa bagaimana cara memanggil mereka pulang.
2025.
Giring-Giring Perak:
“Kabut yang Menyulam Nama”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Kabut menitik di tepi Pariangan,
seperti jarum halus yang menyulam nama-nama
di kain takdir yang tak pernah selesai.
Angin melangkah pelan,
menyeret nyawa-nyawa yang belum sempat menjadi doa.
Di batas fajar,
giring-giring masih berdenting dalam sunyi,
menjaga nama yang belum lunas disebut ajal.
Suri…
Perempuan yang menari di tepi dunia,
menjahit cinta dengan benang dendam.
Ia adalah bunga kenanga yang tak pernah gugur,
karena akarnya tumbuh di dada para hantu.
Harimau Larangan…
Nyawa yang melangkah tanpa jejak,
membawa ajal di ujung jari
tapi tak pernah sempat membunuh cinta.
Dan di dalam kabut,
Marah Linduang Batuah menyalin langkah mereka,
seperti bayang yang menunggu tubuhnya sendiri.
II
Malam itu,
Surau Tujuh Luka terbakar sunyi.
Pelita mati di sudut,
dan setiap retakan dindingnya menjadi mulut yang menghafal sumpah.
Suri menari di tikar tua,
giring-giring peraknya berdenting pelan
seperti jantung yang lupa bagaimana cara berhenti.
Di luar kabut,
Harimau Larangan berdiri dengan pisau di tangan,
tapi ajal di matanya lebih berat daripada segala darah
yang pernah ia tumpahkan.
“Kalau kau mencintaiku, Harimau…”
bisik Suri,
“Bunuh aku sebelum fajar.”
Tapi Harimau Larangan hanya menatapnya
dengan mata yang membawa tujuh nyawa
dan satu cinta yang tak pernah selesai.
“Aku sudah membunuh banyak nyawa, Suri…
Tapi kau adalah satu-satunya nyawa
yang membuat tanganku gemetar.”
III
Di dunia persilatan,
cinta adalah ajal yang menunda kedatangannya sendiri.
Tapi dendam adalah doa yang selalu sampai lebih dulu.
Suri tahu,
Harimau Larangan tak pernah takut pada ajal.
Yang ditakutinya adalah cinta
yang membuat nyawa menjadi sesuatu yang layak disesali.
Di sudut surau,
Marah Linduang Batuah menyalin langkah mereka.
Hantu yang tak punya makam,
menjadi saksi bagi cinta yang tak pernah berani selesai.
“Bunuh aku sebelum fajar, Harimau…”
bisik Suri lagi,
“Atau kita akan menari di batas kabut selamanya.”
IV
Fajar merayap di tepi Pariangan,
tapi pisau di tangan Harimau Larangan
hanya gemetar tanpa berani meneteskan darah.
Suri tersenyum dalam sunyi,
karena ia tahu,
kadang cinta yang paling sempurna
adalah yang tak pernah sempat membunuh.
Dalam kabut,
Marah Linduang Batuah tersenyum tanpa wajah,
karena hantu hanya bisa menyalin langkah,
tapi tak pernah punya nyawa untuk mencintai.
V
Ketika matahari pecah di ujung bukit,
Harimau Larangan pergi tanpa jejak.
Suri melipat selendang hitam,
dan giring-giring peraknya tetap berdenting
dalam sunyi yang tak pernah selesai.
Hanya kabut yang menjadi saksi,
dan surau yang tetap menyimpan tujuh luka.
VI
Legenda itu menyebar di tepian Ombilin:
Tentang perempuan yang menari dalam kabut,
dan lelaki yang membawa ajal di tangannya
tapi tak pernah sanggup membunuh cinta.
Mereka bilang,
setiap malam di Pariangan,
giring-giring masih berdenting di batas kabut,
dan dua bayang menari dalam sunyi,
menunggu ajal yang lupa menyebut nama mereka.
VII
Jika kau berjalan di kaki Gunung Merapi,
dan mendengar denting giring-giring
di antara kabut,
jangan berdoa.
Karena itu bukan suara angin,
bukan juga arwah yang tersesat.
Itu adalah cinta yang menunggu ajal,
dan dendam yang menunggu nama.
Mereka terus menari di batas dunia,
menyebut Tuhan
dalam bahasa yang tak pernah selesai.
VIII
Kabut terus menyulam nama,
giring-giring terus berdenting.
Dan di tepi Pariangan,
Suri menari selamanya,
menunggu nyawa yang pernah ia titipkan
di tangan lelaki yang terlalu mencintainya
untuk membunuh.
2025.
Giring-Giring Perak:
“Harimau Larangan: Nyawa di Tepi Kabut”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Malam jatuh di Ranah Pariangan,
seperti doa yang lupa menutup mata.
Angin membawa wangi kenanga yang layu,
menyelimuti jejak-jejak yang tak pernah selesai.
Di batas surau tua,
cahaya pelita redup
seperti ajal yang menunda kedatangannya.
Dan di bawah bulan yang kaku,
Suri menunggu
dengan giring-giring perak di pergelangan kakinya,
menyimpan ajal dalam denting halus,
seperti nyawa yang disulam dengan sabar.
Ia menunggu,
bukan pada waktu,
tapi pada nama yang tak pernah pulang.
Harimau Larangan…
bayang yang turun dari bukit,
membawa rahasia yang disembunyikan kabut.
Nyawanya adalah titipan,
dan tubuhnya adalah makam
yang belum menemukan tanah.
II
Di tanah Minangkabau,
cinta adalah sungai
yang tak pernah berhulu,
dan dendam adalah hutan
yang menelan segala jejak.
Harimau Larangan datang dalam sunyi,
dengan langkah yang tak lebih keras dari daun gugur.
Matanya menyimpan kematian,
tapi tangannya gemetar
saat menatap Suri yang menari
dalam langkah yang menua.
“Kau menunggu aku, Suri?”
bisiknya dalam kabut.
Suri hanya tersenyum,
tapi dalam senyumnya ada luka
yang tak pernah selesai dijahit oleh waktu.
“Aku menunggu nyawa yang pernah kau titipkan
di tubuh ibuku.”
III
Mereka berdiri di tepi sungai,
dua bayang yang dipeluk nasib,
dua dendam yang disulam dengan sabar.
Harimau Larangan menatap Suri
seperti lelaki menatap kuburannya sendiri,
karena ia tahu,
cinta di tanah ini
selalu lahir dari luka,
dan mati dalam pelukan dendam.
“Kita ini sepasang nyawa, Suri…
tapi Tuhan menulis kita di halaman yang berbeda.”
Suri menari pelan,
giring-giring peraknya berdenting
seperti tasbih yang menghitung ajal.
“Kalau kau mencintaiku, Harimau…”
bisiknya halus,
“Bunuh aku sebelum fajar.”
IV
Di dunia persilatan,
cinta adalah sumpah
yang ditulis dengan darah.
Tapi Harimau Larangan hanya menatap
dengan mata yang lebih tua dari segala luka.
Ia tahu,
membunuh Suri berarti membunuh bayangannya sendiri.
Karena perempuan yang menari di batas kabut,
adalah rahim yang menumbuhkan ajalnya sendiri.
“Aku mencintaimu, Suri…
Tapi dendam lebih tua dari nyawa kita.”
V
Mereka menari di batas fajar,
dua bayang dalam satu sunyi.
Giring-giring berdenting,
pisau bergetar di ujung jari,
dan cinta mengalir di sela-sela langkah
seperti doa yang tak pernah selesai.
Tapi cinta di tanah ini
adalah janji yang selalu berakhir dalam dusta,
dan dendam adalah takdir
yang menulis segala nyawa di tapal kabut.
Ketika langkah terakhir berakhir,
hanya angin yang menjadi saksi,
dan sungai yang menyimpan segala nama
yang tak pernah selesai disebut ajal.
VI
Fajar datang perlahan,
tapi tak ada darah,
tak ada mayat.
Yang tersisa hanya dua bayang
yang larut dalam kabut,
dan denting giring-giring
yang terus menyebut nama Tuhan
dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh ajal.
VII
Maka lahirlah legenda:
tentang Suri yang menari di batas kabut,
dan Harimau Larangan yang mengejarnya
tanpa pernah menyentuh.
Mereka adalah sepasang nyawa
yang menunggu ajal dalam sunyi,
menari di tepian dunia,
di batas doa yang tak pernah selesai.
VIII
Jika kau mendengar denting giring-giring
di malam-malam yang dingin,
jangan berdoa,
karena itu bukan angin,
bukan juga arwah yang tersesat.
Itu adalah cinta yang menunggu ajal,
dan dendam yang menunggu nama,
menari di batas kabut,
menyebut nama Tuhan
dalam bahasa yang tak pernah selesai.
2025.
Giring-Giring Perak:
“Sutan Kalam Hitam: Tapak Bayangan di Ngalau Tarang”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Di celah batu Ngalau Tarang,
waktu bersembunyi dalam diam,
dan malam menjahit gelap
dengan benang angin yang beku.
Kabut turun tanpa salam,
menyapu sisa doa yang patah,
menyimpan rahasia yang tak pernah usai,
tentang nyawa-nyawa yang gugur
tanpa nama, tanpa nisan,
hanya luka yang mewariskan dendam.
II
Di bawah langit yang nyalang,
hidup adalah persekutuan rahasia—
antara sumpah dan dusta,
antara doa dan darah,
antara guru dan murid
yang menari di batas maut.
Sutan Kalam Hitam,
nama yang disembunyikan bayang,
matanya sarang gelap,
tangannya penadah dosa dunia.
Ia memetik jurus dari angin,
menganyam langkah dari sunyi,
dan menanam dendam di dada murid-muridnya
seperti benih yang menunggu hujan.
“Silat adalah bahasa orang yang tak pernah dipercaya,
dan dendam adalah kitab yang ditulis
dengan tinta air mata.”
III
Di surau tua di tepian Batang Kapur,
tiga murid ditabalkan dalam sunyi:
Tuanku Gumarang Sakti
yang menanam luka di setiap jejak,
belajar menari di atas ajal,
tapi sujudnya tak pernah sampai pada Tuhan.
Marah Linduang Batuah
yang membaca rahasia angin
dan mengiris nyawa dengan kelopak jari,
seperti pisau yang lupa pada tangan.
Dan Intan Suri…
anak perempuan yang tak pernah disebut namanya,
karena ia menanam dendam dalam kening
dan memanen ajal di ujung jemari.
IV
Di tanah Minangkabau,
perempuan adalah cahaya yang disimpan dalam kendi,
tak pernah diajarkan bagaimana menari dengan bayang,
tak pernah diwariskan bagaimana melipat nyawa dalam langkah.
Tapi Suri,
ia belajar diam-diam
dari gerak ranting yang patah,
dari dengus angin sebelum badai,
dari bayang ibunya yang menyapu air mata
dengan selendang kembang durian.
“Perempuan tak perlu menadah pedang, Suri…
Karena ia menyembunyikan pisau
dalam kelembutan.”
V
Malam itu,
di bawah purnama yang menetes pucat,
Sutan Kalam Hitam menurunkan ilmu terakhirnya.
“Langkah Burung Pati…”
Ilmu yang tak pernah diajarkan kepada lelaki,
jurus yang membuat maut lupa berdoa,
dan membuat bayang jatuh sebelum tubuh.
Giring-giring…
Nyanyian kecil dari pergelangan kaki,
denting yang lebih tajam dari belati.
Suri menari dalam sunyi,
kabut menyalin langkahnya,
dan bumi seakan lupa berputar.
“Ilmu ini bukan untuk membunuh…”
kata Sutan Kalam Hitam.
“Ilmu ini untuk menjemput nyawa
yang lupa pulang ke tanah.”
VI
Waktu bergulir seperti embun yang jatuh dari pucuk ilalang,
dan dendam menjadi bayang yang menua dalam dada.
Gumarang turun ke rantau,
membawa ilmu, membawa nama.
Tapi nyawanya dimakan dosa,
dan ia kembali sebagai musang dalam kulit harimau.
Marah Linduang Batuah menghilang di batas Pariangan,
menjadi hantu dalam setiap bisik,
menjadi tapak tanpa jejak.
Hanya Suri yang tetap tinggal,
membakar sabar dalam tungku waktu,
menyulam dendam dalam doa-doa panjang,
menyimpan giring-giring perak di balik kain sarung,
menunggu nama-nama yang belum selesai.
VII
Cinta pun menjemput,
tapi di ranah dendam,
cinta adalah sungai yang mengalir
tanpa muara.
Datanglah Harimau Larangan,
pendekar dari Pariangan yang sujudnya tak pernah selesai,
dengan mata sepekat kemenyan
dan napas yang membawa bau bunga kenanga.
Ia melihat Suri di tepian surau,
dengan selendang hitam di bahu
dan giring-giring yang berdenting pelan.
“Perempuan yang menyimpan dendam…
adalah perempuan yang tak akan pernah dimiliki.”
Tapi cinta tak pernah memilih.
Ia datang seperti kabut,
menyusup di sela luka,
menjadi sunyi yang tak pernah selesai.
VIII
Malam-malam di Batang Kapeh
adalah nyanyian yang tak pernah rampung.
Angin mengirim surat tanpa alamat,
dan Suri menyimpan segala nama
di balik selendang hitam.
Di ranah ini,
dendam dan cinta adalah saudara sekandung.
Yang satu menumbuhkan luka,
yang satu menumbuhkan bunga
di atas tanah yang sama.
“Cinta adalah luka yang tak pernah berdarah,
tapi dendam adalah luka yang tak pernah sembuh.”
IX
Suri menari di batas kabut,
membawa cinta dalam langkah,
membawa maut dalam giring-giring perak.
Harimau Larangan menunggu di tepi sungai,
dengan dada yang memanggul dosa dunia,
dan mata yang hanya memandang bulan
tapi tak pernah menemukan fajar.
Cinta pun menjemput maut,
dan maut pun menjemput dendam.
X
Ketika kabut turun di tanah ini,
tidak ada yang tahu
siapa yang menari di balik bayang.
Apakah Suri mencari cinta?
Ataukah ia hanya menjemput nama-nama
yang ditinggalkan oleh waktu?
Yang terdengar hanya denting kecil,
giring-giring perak
yang terus menyebut nama Tuhan
dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh nyawa.
2025.
Giring-Giring Perak:
“Nyanyian Dendam di Tapal Rahasia”
Oleh: Rizal Tanjung
I
Kabut menari di batas malam,
lembah Harau berselendang sunyi,
angin menyisir nama-nama yang lenyap,
di tanah yang menanam dendam lebih dalam dari akar pohon saga.
Langit Minangkabau hitam seperti selendang janda,
waktu melata di sela batu,
membawa nyanyian giring-giring perak,
denting kecil,
seperti bisikan ajal yang menunda.
II
Darah tak pernah menua di ranah ini,
hanya wajah yang berganti.
Dendam adalah anak yatim,
disusui sabar,
dipeluk sunyi,
dengan mata yang selalu mengintai
dari balik surau tua.
Di Ngalau Tarang,
doa berkarat dalam semedi
— tapi fitnah masih segar di ujung lidah,
seperti pisau yang disimpan di balik sajadah.
III
Suri,
anak perempuan yang tak pernah menangis,
ia tumbuh dari tanah yang memakan nama ayahnya sendiri,
belajar menari di atas bayang,
dengan giring-giring perak di pergelangan kaki—
sepasang pusaka dari seorang ayah
yang mati tanpa pusara.
“Jangan percaya pada kabut,”
kata Sutan Kalam Hitam,
“Kabut menutup luka,
tapi dendam tak pernah tidur.”
Suri menari di bawah bulan,
membawa dendam seperti nyala lampu minyak,
menyimpan racun di ujung jari,
menunggu ajal dalam gerak yang lembut.
IV
Rumah Tujuh Luka,
tiang-tiangnya diselimuti lumut bisik-bisik,
di mana tujuh nama lenyap tanpa nisan,
hanya giring-giring yang terus berdenting
menjaga rahasia di balik bilik.
Suri datang tanpa salam,
seperti angin yang lupa arah pulang.
“Apakah kau datang membawa ampun?”
tanya Tuanku Gumarang,
pendekar tua yang tubuhnya adalah peta luka,
tapi tangannya masih menyimpan racun yang menua.
“Aku datang membawa nyawa yang kau tinggalkan di tubuh ibuku.”
Giring-giring…
Denting halus,
seperti suara malaikat yang sudah lupa nama Tuhan.
V
Di tanah ini,
dendam adalah kitab yang ditulis dalam sunyi,
dibaca dalam kabut,
dan disempurnakan dalam darah.
Silat adalah bahasa yang tak pernah diajarkan kepada perempuan,
tapi Suri menari dengan langkah lembut,
seperti bulan yang menyelinap di sela dedaunan,
menyembunyikan belati di balik embun.
Langkah Malam Manih…
ilmu perempuan yang tak terlihat,
tapi bisa membuat lelaki mati tanpa luka.
Giring-giring…
Denting kecil,
seperti rindu yang berubah jadi racun.
VI
Tak ada saksi di malam itu,
hanya kabut yang mencatat langkah,
dan angin yang mendengar bunyi giring-giring,
sebelum tubuh Gumarang tersungkur,
dingin tanpa darah,
mati dalam sujud yang tak pernah sampai pada Tuhan.
Nyawa tak pernah lunas dibayar dengan nyawa,
kata Sutan Kalam Hitam,
karena dendam tak pernah mengenal ajal,
hanya berganti wajah,
seperti bayang di tepi sungai.”
VII
Suri berjalan turun dari Batang Kapeh,
giring-giring perak masih berdenting,
seperti tasbih yang terus menghitung dosa dunia.
Tak ada yang tahu nama perempuan itu,
tak ada yang berani menyebutnya.
Dendam di tanah ini adalah doa tanpa tuan,
disampaikan oleh angin,
dituliskan oleh kabut,
dan dibayar dengan nyawa yang menua dalam sunyi.
VIII
Jika kau mendengar denting halus di malam yang sepi,
jangan berdoa.
Jangan bertanya.
Itu bukan angin,
bukan juga arwah yang tersesat—
itu giring-giring perak,
nyanyian dendam yang menari di atas ranah,
menjemput nama yang belum lunas dituntut ajal.
“Takdir hanyalah dusta yang ditulis tangan manusia,
tapi dendam adalah rahasia yang ditulis langsung oleh Tuhan.”
Giring-giring…
Bunyinya kecil,
tapi jejaknya lebih panjang dari sejarah.
2025.
Giring-Giring Perak:
“Nyanyian Dendam di Tapal Rahasia”
Oleh: Rizal Tanjung
Dalam bayang kabut yang melilit sunyi,
Tersandang giring-giring perak di pinggang sunyi,
Bilah rahasia mengendap di batas angin,
Melagukan dendam di ujung belati yang dingin.
Makmur Hendrik menulis dalam tinta darah,
Tentang dunia persilatan berselubung fatamorgana,
Di mana nyawa sekadar seutas tali rapuh,
Dan jiwamu bisa luruh sebelum fajar menjemput tubuh.
Derap langkah di lembah rembulan pudar,
Desir dedaunan mengucap rahasia yang tak benar,
Ada bayangan melayang tanpa nama,
Membawa giring-giring perak sebagai tanda.
Giring-giring… gemerincing hampa,
Setiap bunyi adalah kidung maut yang tiba,
Di balik suara halus, tersembunyi luka,
Antara dendam, asmara, dan nyawa yang terkubur tanpa pusara.
Pendekar dengan mata sekabut senja,
Membawa pedang seperti lidah ular berdesis diam,
Di telaga bisu ia menadah langit,
Menyumpah dendam yang tak pernah sempat tamat.
Giring-giring perak…
Tiap dentingnya menari di pangkal ajal,
Seperti doa yang tak pernah sampai,
Bertaut pada takdir yang dicatat di buku para dewa.
Sungai darah menetes dalam malam kelam,
Desau angin menyelimut rahasia dendam,
Nama-nama tercoret dalam sunyi,
Menghitung maut di tapal batas tanpa saksi.
Di balik rerimbun bambu kering,
Ada kisah tentang guru yang dikhianati,
Murid yang menuntut ilmu lewat bara,
Dan cinta yang terkubur di parit dosa.
Pedang menari, giring-giring menjerit,
Setiap kilau perak menyayat hati yang sempit,
Bukan lagi tentang menang atau kalah,
Tapi siapa yang masih berdiri saat fajar bersabda.
Dalam pusaran jurus “Angin Menggiring Awan”,
Dalam bayang-bayang “Serat Seribu Luka”,
Ada rahasia yang hanya diketahui angin,
Tentang dendam yang diwariskan, seperti racun dalam nadi dingin.
Kematian adalah sahabat setia,
Dan giring-giring perak tetap bernyanyi,
Seperti lonceng kecil dari dunia yang remang,
Menyeret setiap nyawa menuju liang panjang.
Hingga satu fajar menutup saga,
Saat darah terakhir mengering di tanah lara,
Dan giring-giring perak tinggal sepotong legenda,
Tentang nyawa-nyawa yang menggantung di ujung senja.
Denting terakhir…
Bukan lagi sekadar suara,
Tapi tanda…
Bahwa dendam tak pernah mati dalam dunia persilatan.
2025.
