
Oleh: Patria Subuh
Kopi panas setengah gelas
yang ku pesan pagi ini
benar-benar terasa nikmat.
Ini adalah kopi pahit, tak ada gula di dalamnya
tetapi ketika disruput, terasa bedanya
dengan kopi biasa.
Aku sudah pengunjung ketiga yang duduk
di kedai kopi itu.
Yang lainnya seorang bapak tua dan seorang lagi remaja
yang kelihatan sedang asyik menekan-nekan
tombol gadgetnya.
Keduanya, Kadang-kadang senyum, kadang kadang tertawa kecil.
Asyik mempermainkan jari jemarinya
Asyik bergumul dengan pikirannya
Asyik menghayati khayal dunia.
Tak berapa lama…
Setelah beberapa kali sruput
kopi setengah gelas yang agak pahit,
Sepasang anak muda masuk ke dalam
kedai kopi sembari saling tertawa cekikikan
Kelihatannya bahagia
Karena sedang bersenang senang,
tampak dari raut mukanya yang sumringah.
Apakah ini juga kunjungan mereka yang pertama?
Atau apakah mereka langganan biasa?
Mata pengunjung dalam kedai kopi itu terasa jelalatan, liar…
Menatap sepasang anak manusia yang
barangkali sedang dimabuk asmara
Terdengar deru halus napas bercampur debu jalanan.
Bunyi bising mesin motor dan mobil yang memekakkan telinga
Angin sepoi-sepoi menyelinap masuk tanpa basa basi ke dalam kedai kopi
ke balik jendela, pintu dan ventilasi
Tak berapa lama, sepasang anak manusia itu memesan minuman dan makanan
namun sambil tetap saling tertawa cekikikan
Tak peduli pada tatapan pengunjung lain.
Wahai… alangkah menyenangkan hidup ini
Seolah olah tanpa beban
Tanpa pernak pernik kewajiban
Hanya bersenang senang dengan pasangan
Terbius oleh bunga-bunga harapan
Yang melambung tinggi,
Di awan gemawan.
Kopi pahit setengah gelas yang ku pesan di kedai kopi itu, pagi ini…
sudah hampir habis.
Tinggal ampas berwarna hitam
yang tak layak untuk ditelan.
Tanpa disadari, bapak tua dan si remaja ternyata sudah lama menghilang
Namun sepasang anak manusia yang datang kemudian itu, masih saja kelihatan bermesraan
tertawa cekikikan, bahkan lagi pula
sambil berpegangan tangan
Lalu tertawa lagi,
Cekikikan.
Dalam tegukan terakhir
kopi pahit setengah gelas yang pekat
Kesadaran melayang
hinggap pada kenyataan
bahwa ternyata kehidupan itu beragam
Masing masing memiliki cerita dan
Masing masing ceritanya berbeda
Datang dan pergi begitu saja
Tanpa pandang bulu
Tanpa ragu ragu
Payakumbuh, 8 Agustus 2024
Catatan;
Patria Subuh merupakan seorang ASN/PNS di Pemkab Limapuluh Kota yang punya perhatian terhadap permasalahan politik, ekonomi, sosial dan budaya (poleksosbud).
Tamatan Teknik Sipil ITB Bandung kelahiran Padang pada tahun 1967 ini juga sering menulis mengenai masalah kesehatan, dan juga puisi.
























