
Oleh: Eka Teresia, SPd, MM
(Guru SMKN 6 Padang)
(Terkait kasus dugaan kekerasan yang dilakukan Kepsek SMAN 1 Cimarga karena siswanya merokok dan melanggar aturan. Jika keadilan tak berpihak kepada guru, di manakah marwah kami sebagai pendidik?)
Mahkota yang seharusnya tersemat di kepala pendidik, kini terhempas ke tanah Bukan oleh kesalahan fatal yang merusak moral, melainkan karena upaya menjaga pilar terakhir dari sebuah tatanan: disiplin. Dugaan kekerasan yang menyeret Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, yang berawal dari ketegasan terhadap siswa perokok, adalah cerminan getir tentang betapa rapuhnya marwah guru saat ini.
Kita berdiri di persimpangan. Di satu sisi, kami, para pendidik, diwajibkan membentuk karakter, mengajarkan kepatuhan, dan melahirkan generasi beradab. Di sisi lain, setiap upaya penegakan aturan—betapapun pentingnya untuk masa depan anak—diperhadapkan dengan ancaman hukum dan tuntutan yang seolah menempatkan hak tanpa kewajiban sebagai raja.
Hati kami menjerit sunyi. Ketika merokok di lingkungan sekolah, yang jelas-jelas melanggar aturan, harus ditindaklanjuti dengan seribu kehati-hatian, bahkan kecemasan, lantas apa bedanya sekolah dengan ruang publik tanpa batas? Kami didorong untuk menjadi “malaikat” tanpa tangan, hanya boleh berteori tanpa boleh bertindak nyata dalam mendisiplinkan.
Jika keadilan berbalik arah, hanya menajam pada kesalahan guru namun tumpul pada pembangkangan siswa terhadap aturan, maka kami kehilangan pijakan. Di manakah marwah kami, yang diamanatkan untuk mencerdaskan dan membentuk moral, ketika wibawa kami diinjak hanya karena menegakkan larangan merokok?
Sekolah akan kehilangan ruhnya. Ia akan berubah menjadi tempat penitipan yang dipenuhi tuntutan, bukan lagi kawah candradimuka tempat karakter ditempa. Generasi yang tumbuh tanpa ketegasan, yang diajarkan bahwa aturan bisa diabaikan atas nama “hak perlindungan” yang keliru, adalah generasi yang cacat tanggung jawab.
Kami merindukan keadilan yang bijaksana. Keadilan yang tidak hanya melihat luka fisik, tetapi juga melihat luka batin yang kami tanggung saat menyaksikan generasi ini tergelincir. Lindungi siswa dari kekerasan, ya, itu mutlak. Tapi lindungi juga kami, sang penempa karakter, dari kehilangan marwah, agar kami tetap berani berdiri tegak, memegang obor disiplin demi masa depan bangsa.
Jika mahkota guru terus diinjak debu, maka kelak, seluruh bangsa akan berjalan dalam gelapnya generasi tanpa tata krama dan tanpa kepatuhan. *)
Padang,15 Oktober 2025























