
Oleh: Uswah Qoimah
(Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
INDONESIA kaya akan budaya, setiap daerah memiliki nilai yang berbeda dan sangat berharga. Beberapa bertahan hingga hari ini dan yang lainnya hampir menghilang dari peradaban.
Sama di Minangkabau, budaya Minang merupakan budaya masyarakat Minangkabau yang berkembang hingga saat ini. Kekentalan budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Ini termasuk nasihat atau peribahasa Minang yang masuk akal dalam kehidupan.
Tentu saja, bagi orang yang menuruti kata-kata peribahasa Minang merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Namun, pesan-pesan baik yang terkandung dalam kata-kata peribahasa Minang sebenarnya dapat dipelajari oleh siapa saja, bahkan jika mereka bukan orang Minang.
Pepatah ini bisa menjadi cara mengingatkan Anda untuk berperilaku baik, terutama saat berada di komunitas.
Salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang berbentuk puisi, yakni pepatah petitih mengandung frase atau kalimat yang mengandung makna yang dalam, menyeluruh, tepat, halus dan metaforis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), makna peribahasa petitih terdiri dari beberapa peribahasa. Kata-kata tersebut bukan hanya pedoman hidup masyarakat Minangkabau, tetapi juga warisan aset budaya Minangkabau yang harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
Kata-kata yang digunakan dalam peribahasa Minangkabau adalah makna kiasan, perumpamaan yang mengandung makna tertentu. Peribahasa Minangkabau kadang-kadang diungkapkan dalam bentuk kalimat pendek, ada pula yang berima.
Adat Minangkabau kaya akan falsafah hidup yang mengajarkan kita bagaimana menjalani hidup dengan arif dan bijaksana. Banyak nila-nilai hidup dalam ajaran adat Minangkabau yang mengajarkan kita tentang moral, akhlak yang kini banyak tidak dipedulikan terutama generasi muda.
Salah satu yang akan penulis ambil kali ini adalah sebuah pepatah yang berbunyi; lamak dek awak, katuju dek urang.
Lamak dek awak, katuju dek urang, merupakan salah satu ungkapan dalam petuah Minangkabau yang mengajarkan kita tentang tenggang rasa.
Lamak dek awak berarti bagi kita enak, dan katuju dek urang berarti bisa diterima oleh orang lain. Singkatnya sama-sama enak, baik bagi kita maupun bagi orang lain.
Makna dari lamak dek awak katuju dek urang ini dapat disejajarkan dengan istilah “tepo seliro”, bagi orang Jawa. Walaupun mungkin tidak seratus persen sama.
Filosofi ini sangat bermanfaat untuk dijadikan pedoman dalam hidup bermasyarakat. Karena dalam perjalanan hidup, kita tidak mungkin memilih hidup dalam lingkugan yang seratus persen sama budaya dan tradisinya. Sehingga tidak dapat dihindari lagi, apa yang kita anggap baik atau dalam komunitas kita merupakan hal yang biasa, tapi bagi orang lain, akan terasa mengusik, bahkan menyakitkan mereka.
Dalam bahasa sekarang, lihatlah dari sudut pandang orang lain sebelum kita bertindak. Ada manfaat yang tidak sama dengan perbuatan orang lain, setidaknya perbuatan itu tidak “merugikan”. Merugikan di sini bukan hanya tentang materi, tapi juga perasaan.
Seandainya orang lain yang melakukan apa yang akan kita perbuat, apakah kita akan senang, tersinggung, kesal, atau marah. Hal ini masih banyak dilupakan oleh anak-anak muda zaman sekarang. Bisa saja kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, banyak anak-anak muda zaman sekarang yang mengambil keputusan hanya sepihak tanpa memikirkan pihak lainnya.
Dan ketika pihak lain memberikan pembelaan malah di bilang tidak memikirkan pihak lain, sehingga masalah tersebut tidak akan menemukan jalan keluarnya.
Oleh karena itu menurut penulis, pepatah yang satu ini harus dilestarikan dan jangan sampai hilang, karena pepatah ini memberikan pembelajaran yang sangat penting dan sangat berguna dalam kehidupan.
Kalau kita tidak menetapkan pepatah ini, kita tidak akan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak yang sedang berseteru. Dengan kata lain, kita harus saling bertenggang rasa satu sama lain. Kebebasan diri yang kita miliki akan selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jangan sampai orang lain terdzalimi oleh sikap kita, tapi kita tidak menyadarinya karena melupakan nasihat hidup dari tetua yang berupa pepatah, ataupun peribahasa yang bukan hanya sekedar kiasan kata.
Artinya, hidup harus bertoleransi, hidup bukan suka-suka gue, karena hidup gue. Tapi kalau menyangkut ranah publik, itu juga ada gue-gue lain yang harus ditoleransi. *)























