
Oleh: Putri Marselina
PAHLAWAN merupakan tokoh pejuang yang rela mempertaruhkan hidup dan matinya demi mempertahankan kemerdekaan negaranya.
Kata ‘pahlawan’ juga diberikan bagi mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaga yang mereka punya, tetapi seorang pahlawan akan mengorbankan hidup dan matinya demi bangsa negara mereka.
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata pahlawan memiliki arti dan dimaknai sebagai seseorang yang menonjol karena keberaniannya serta pengorbanannya dalam membela kebenaran.
Seorang pahlawan memiliki nilai-nilai dalam hidupnya seperti rela berkorban, sifat pantang menyerah/pantang mundur, mengutamakan kepentingan orang banyak di atas keepentingan pribadi, memiliki rasa cinta tanah air yang besar, serta dalam perjuangannya memiliki sifat ikhlas tanpa pamrih/tidak mengharapkan balasan apapun.
Setiap pahlawan di Indonesia akan selalu dikenang sepanjang masa, bahkan telah ditetapkannya 10 November setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan. Tujuan ditetapkan atau diperingatinya hari pahlawan tersebut adalah untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang telah mengusir para penjajah dari bangsa Indonesia.
Tujuan lainnya agar setiap generasi muda Indonesia selalu mengingat jasa para pahlawan dan tidak pernah melupakan setiap jasa pahlawan yang telah berjuang demi bangsa Indonesia ini.
Maka dari itu awal mula hari pahlawan ini ditetapkan atau yang melarbelakanginya karena suatu peristiwa besar yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945, oleh karena itulah hari pahlawan resmi ditetapkan atau dijatuhkan pada tanggal 10 November pada setiap tahunnya.
Untuk mengenang jasa para pahlawan banyak hal yang dapat dilakukan selain ditetapkanya tanggal 10 November sebagai hari pahlawan, setiap daerah yang ada di Indonesia juga membangun makam yang terkhusus bagi para pahlawan dari daerah mereka masing-masing, salah satunya Taman Makan Pahlawan (TMP) yang ada di Jl S Parman No 117, Lolong Belanti, Padang.
Taman Makam Pahlawan ini dibangun di kota Padang untuk mengenang para pahlawan yang berasal dari tanah kelahirannya yaitu Kota Padang.
Selain dibangunnya Makam Pahlawan, cara lain yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa para pahlawan yang dilakukan oleh daerah Padang ini ialah dengan membangun sebuah Monumen Pahlawan Tak Dikenal/Monumen Pahlawan Tanpa Nama yang dibangun atau didirikan di sebuah Museum di Kota Padang, yaitu Museum Adityawarman.
Museum Adityawarman adalah museum budaya yang terletak di Kota Padang, Sumatera Barat. Diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977. Museum Adityawarman diambil sesuai dengan nama besar salah seorang raja Malayapura pada abad ke-14 “Adityawarman” pada zaman kerajaan Majapahit, dan museum ini mimiliki julukan sebagai ‘Taman Mini (Taman Melati) Sumatera Barat’.
Monumen Pahlawan Tak Dikenal dibangun pada tahun 1950 yang menggambarkan sesosok patung tanpa wajah dengan memegang bambu runcing dan berciri khas pejuang dimasa silam.
Posisi patung ini dibuat dengan kepalanya yang tertunduk seolah sedang menggambarkan seorang pahlawan yang sedang beristirahat sejenak setelah lelah berjuang demi bangsa dan negara, tetapi posisi kepala tertunduk ini dibalik itu juga dibuat badan yang tetap sigap untuk menjaga dan meneruskan perjuangan.
Berikut keterangan atas monumen tersebut dan filosofinya;
1. Figur Monumen
Pada bagian kepala patung diikatkan kain yang mengambarkan atribut pejuang pada masa penjajah, bagian badan patung yang tidak diberikan pakaian memberikan kesan heroik yang dimiliki seorang pejuang karena kebanyakan para pejuang zaman dahulu membela tanah air tanpa memakai pakaian.
2. Bambu Runcing
Kedua tangan patung memegang bambu runcing yang meurapakan senjata tradisional untuk berperang pada zaman penjajahan dahulu.
3. Selempang Kain Sarung di Badan
Selempang ini dibuat untuk menggambarkan pahlawan yang membawa berbagai keperluan seperti alat sholat, makanan, pentup wajah, alat pengintai degan melilitkan selempang kain sarung dibadannya.
Monumen Patung Pahlawan Tak Dikenal ini dibuat oleh seniman patung Ramudin yang berfokus dan menggambarkan pahlawan-pahlawan yang berjuang setelah agresi militer Belanda sesaat setelah Indonesia Merdeka.
Selain itu alasan patung atau monumen ini dibuat untuk menghargai jasa para pahlawan yang nama-namanya tidak ada atau tidak tertulis dalam literatur sejarah. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas























