• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, Mei 26, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Pepatah Petitih Minang: Gabak di Ulu Tando ka Ujan, Cewang di Langik Tando ka Paneh

16 Mei 2023
in Opini
Reading Time: 3min read
Views: 8,992
Hendri Pratama, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

Oleh: Hendri Pratama

DIKUTIP dari salah satu pendapat para ahli yang bernama A.A Navis di dalam bukunya (1986:229) beliau berpendapat bahwa kesusastraan di Minangkabau banyak sekali mengandung ungkapan-ungkapan yang penuh kata kiasan, sindiran, perempumaan, pepatah-petitih l, mamangan serta banyak hal lainnya yang berhubungan dengan ungkapan yang berada di Minangkabau ini.

Semua kesusastraan yang ada di Minangkabau ini, melalui alih bahasa dikelompokkan sebagai peribahasa.

Lihat Juga

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
36
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
106

Pribahasa merupakan salah satu dari jenis banyaknya karya sastra yang ada yang paling tinggi maknanya, manfaatnya, serta berguna sebagai pegangan hidup di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau ialah pepatah-petitih.

Pepatah-petitih yang ada di Minangkabau ini selain sebagai pegangan hidup bagi masyarakat Minangkabau, pepatah-petitih tersebut juga merupakan sebuah warisan aset budaya Minangkabau yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Kata yang digunakan di dalam pepatah-petitih Minangkabau ialah kata yang mengandung makna kiasan, perumpamaan, serta pembanding yang mengandung makna tertentu.

Pepatah-petitih Minangkabau, adakalanya diungkapkan dalam kalimat pendek dan ada juga yang berbentuk pantun.

Kalimat di dalam pepatah-petitih Minangkabau dibagi menjadi dua buah kalimat. Kalimat pertama sebenarnya sudah selesai, tetapi ditemani oleh kalimat kedua yang berfungsi sebagai penyempurnaan, sehingga kedua bagian kalimat tersebut menjadi kalimat yang utuh ( A.A Navis, 1986:256).

Di Minangkabau ini ada banyak ribuan pepatah-petitih, yang penulis bahasa kali ini adalah pepatah-petitih Minangkabau yang berjudul “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh”.

Sebelum membahas tentang makna pepatah tersebut secara keseluruhan adakalanya penulis terlebih dahulu menjelaskan makna satu persatu dari kosa kata pepatah Minangkabau tersebut.

Gabak sama artinya dengan hitam, gelap atau awan yang warnanya gelap mengandung hujan.

Selanjutnya kata ulu artinya adalah bagian atas atau ujung pangkal atau didalam bahasa Minangkabau bermakna sebagai (batang aia dan pisau).

Disini yang dimaksud dengan “gabak di ulu“ ialah awan hitam yang terlihat di arah pangkal sungai. Biasanya terlihat di daerah dataran tinggi (perbukitan).

Selanjutnya ada kata “ujan” yang berarti menyatakan bahwa akan terjadinya tanda turunnya hujan.

Selanjutnya ada kata “cewang”, berlawanan dengan kata “gabak”. Cewang ini merupakan awan tipis, halus, putih dan berbentuk garis bebaris. Awan ini sering terlihat memerah atau menguning dikarenakan pantulan cahaya matahari ketika terbit di pagi hari dan terbenam di senja hari. Cewang ini jika terlihat dilangit diartikan tanda sebagai hari cerah atau (paneh ) di dalam bahasa Minangkabau.

Paneh memiliki makna bahwan kondisi cuaca ketika matahari tidak tertutup awan sehingga panasnya sampai ke bumi, dan udaranya pun menjadi hangat.

Dari pepatah-petitih “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh”, dapat diartikan bahwa jika terlihat awan gelap di ulu itu tandanya akan turun hujan, sebaliknya jika awan cerah memantulkan cahaya merah atau kekuningan menjelang matahari terbit dan terbenam tandanya cuaca sedang panas.

Dibalik hal tersebut, ada ilmu yang bisa kita dapatkan yaitu ilmu membaca tanda dari alam. Orang Minangkabau menjadikan alam sebagai tempat belajar atau berguru sebagaiman disebutkan pula didalam falsafah minangkabau yang berbunyi “alam takambang jadi guru”. Maksudnya ialah apa yan ada di alam itulah yang menjadi perhatian serta pelajaran yang dijadikan sebagai pegangan dan pedoman hidup.

Begitu juga ketika melihat awan di langit yang dapat dijadikan tanda cuaca sedang hangat atau tanda turunnya hujan.

Selanjutnya ketika manusia sudah terbiasa membaca tanda dari alam maka, manusia harus bisa pula menyiapkan diri, bersiap jika hujan  turun dan bersiap juga ketika cuaca panas datang. Untuk hasil yang ditanam maka hal ini juga dapat pula dijadikan sebagai pedoman yang mana ketika cuaca sedang panas panasnya bisa dimanfaatkan dengan menjemur hasil tanam-tanaman yang ditanam dan ketika hari hujan juga bermanfaat pada hasil yang kita tanam.

Membaca tanda dari alam, menyiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan datang itu merupakan bagian kecil dari manusia untuk bersyukur apa yang diciptakan Allah SWT. Alam di sediakan oleh Allah untuk manusia, maka dari itu manusia harus bisa menjaganya. Ketika alam tidak dijaga maka alam akan menjadi rusak. Rusaknya alam juga dapat menyebabkan banyaknya bencana yang datang. Seperti ketika hujan turun akan mendatangkan banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Hal tersebut sudah dijelaskan pula didalam ayat suci alquran surah ar rum ayat 41. Ayat tersebut menjelaskan bahwa apa yang rusak yang terjadi di alam ini itu disebabkan oleh ulah tangan manusia.

Jadi dari pepatah- petitih “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik  tando ka paneh” dapat diambil kesimpulan serta pegangan hidup yang dapat diambil, baik bagi penulis sendiri  maupun yang lainnya, yang mana alam ini merupakan sebuah anugerah dan ciptaan Allah SWT yang diberikan kepada umat manusia, maka dari itu manusia harus bisa menjaga serta belajar dari alam jika alam itu sudah rusak dan menyababkan bencana pasti itu dikarenakan oleh ulah tangan manusia, maka dari itu kita sebagai umat manusia harus bisa menjaga dan melestarikan alam, karena alam merupakan kehidupan bagi kita semua. *)

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Makna dari Pepatah: Surang Makan Cubadak Sadonyo Kanai Gatahnyo, Saikua Bakubang Sakandang Kanai Luluaknyo

Next Post

Realisasi Anggaran Miris, HM Nurnas Minta Gubernur Sumbar Evaluasi OPD yang Lelet!

BeritaTerkait

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan
Opini

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing
Opini

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
36
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan
Opini

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
106
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman
Opini

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
117
Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan
Opini

Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

25 April 2026
54
Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak
Opini

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak

24 April 2026
49
Next Post
Realisasi Anggaran Miris, HM Nurnas Minta Gubernur Sumbar Evaluasi OPD yang Lelet!

Realisasi Anggaran Miris, HM Nurnas Minta Gubernur Sumbar Evaluasi OPD yang Lelet!

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (39,343)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,407)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,655)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,790)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (34,248)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (33,165)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,733)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,216)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (29,922)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,143)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
172
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
351
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
497
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
237
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
119
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
152
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
133
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
193
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
128

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In