
Oleh: Putri Ramadhani
INDONESIA memiliki kekayaan yang sangat penting di sepanjang sejarah, yakni menyimpan berbagai tulisan kuno dan membuat orang-orang ingin melihat tulisan ini sebagai pedoman dan dijadikan sebagai sebuah pendidikan.
Tulisan kuno biasa disebut dengan naskah, dan banyak peninggalan naskah di Indonesia bahkan dari berbagai penjuru di daerah-daerah. Terbentuknya sebuah naskah ialah dari sebuah tulisan yang dituliskan melalui tangan.
Naskah merupakan dokumen bangsa yang harus dijaga dengan baik. Terdapat banyak pengetahuan serta kebudayaan dan memiliki arti yang sangat penting. Kenapa naskah sangat penting bagi bangsa Indonesia? Karena merupakan sejarah yang memuat banyak informasi Penting.
Setiap wilayah menyimpan naskah-naskah kuno tetapi semuanya tidak sama banyak. Pada saat ini sedikit yang dapat memahami naskah kuno, padahal bisa dijadikan sebuah pendidikan dalam mengajar dan mengenalkan kepada generasi muda untuk dapat memahami naskah-naskah kuno.
Banyak sejarah yang dituliskan dalam naskah kuno agar pembaca dapat memahami isi dari naskah tersebut. Naskah kuno memuat cerita-cerita lama atau cerita masa lampau yang dulunya belum tahu apa sejarah atau asal usul dalam cerita naskah dan sekarang membaca naskah kuno masyarakat Minangkabau tersebut bisa memahami isi dalam naskah yang mudah dipahami.
Naskah kuno mempunyai banyak ratusan naskah kuno yang memiliki banyak sumber yang sangat lah penting dan memiliki cerita masa lampau yang sangat lah berharga bagi orang Minangkabau yang ingin memahami lebih dalam tentang naskah kuno.
Akan tetapi naskah kuno banyak terpisah-pisah sehingga dalam cerita tersebut terpotong dan kondisi naskah tersebut agak sedikit rusak dalam lembaran naskah-naskah kuno yang telah lama disimpan akan berubah tulisan atau tintanya sehingga menjadi sulit untuk memahami naskah tersebut.
Naskah kuno sangat lah unik untuk memahami dan mempelajari yang lebih dalam lagi. Naskah-naskah kuno sulit ditemukan, akan tetapi naskah kuno harus dilestarikan agar tidak mudah hilang.
Biasanya naskah kuno sekarang diletakkan di tempat tertentu dan tidak sembarang tempat. Tempat naskah yang biasa dilihat secara langsung kita bisa mencari atau melihat naskah tersebut di perpustakaan yang banyak naskahnya .
Membahas tentang naskah, terdapat naskah kuno dari Asrar Al Kahfi, yang merupakan karya penting intelektual-spiritual Minangkabau. Naskah ini, yaitu naskah Ajaran Martabat Tujuh, sebagai ajaran suístik-ílosoís, Ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī memperlihatkan keterkaitannya dengan tradisi intelektual dan tradisi tasawuf Aceh melalui jaringan tarekat Shaṭṭārīyah.
Oleh karena itu, secara garis besar Ajaran Martabat Tujuh dalam naskah Asrār al-Khafī dengan sendirinya juga memperlihatkan kesamaannya dengan Ajaran Martabat Tujuh yang pernah berkembang di Aceh.
Meskipun demikian, kehadiran Ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī di ranah Minangkabau itu telah mengundang reaksi keras dari kaum mudo dan dari jemaah tarekat Naqshabandīyah. Sebagai konsekuensi logis dari munculnya penentangan dari dua kelompok tersebut, Ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī itu dilucuti dari paham waḥdatul wujūd.
Dalam hal ini naskah-naskah kuno yang mengandung nilai keagamaan yang kental di masyarakat Sumatera Barat. Melihat peninggalan ulama-ulama masa lalu yang melimpah ruah tersebut, Minangkabau merupakan salah satu wilayah yang kaya akan naskah-naskah keagamaan. Salah satu corak peninggalan naskah-naskah keagamaan yang kental di Sumatera Barat adalah tasawuf.
Tasawuf yang berkembang secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh dari tradisi pemikiran intelektual keislaman di Aceh. Hal itu terbukti dengan berkembangnya pemikiran tasawuf dan ordo tarekat di Minangkabau. Salah satu ordo tarekat yang berkembang pesat di wilayah Minangkabau, dan yang memperlihatkan adanya pengaruh dari Aceh, adalah tarekat Shaṭṭarīyah.
Pada masa lampau, tarekat ini pernah berpengaruh di India, Indonesia, Pattani, dan Campa. Tarekat ini juga pernah memainkan peran penting dalam perkembangan Islam di Indonesia, Malaysia dan Pattani. Tarekat Shaṭṭarīyah pertama sekali dibawakan oleh ‘Abd al-Ra’ūf Singkil pada abad ke-17. Di Sumatera Barat, tarekat ini dikembangkan oleh Shaykh Burhān al-Dīn Ulakan yang merupakan murid ‘Abd al-Ra’ūf Singkil. Ajaran dan pemikiran tasawuf Al-Singkili sangat berpengaruh di Indonesia dalam konteks zamannya.
Maka dari itu naskah Ajaran Martabat Tujuh ini mengandung nilai keagamaan yang harus dijaga dan dilestarikan, karena banyak yang harus di lihat dari naskah Ajaran Martabat Tujuh ini. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























