Eksistensi Gebu Minang

Oleh : Musfi Yendra

//forumsumbar//

SELAMAT saya ucapkan kepada Pengurus Gerakan Budaya dan Ekonomi Minang (Gebu Minang) Wilayah Sumbar periode 2021-2026. Ketuanya sahabat saya Fadly Amran. Ia pengusaha dan Walikota Padangpanjang saat ini.

Ini tulisan saya yang kedua tentang Gebu Minang. Tulisan pertama 10 tahun lalu, 14 Juli 2011 di koran lokal. Bertepatan enam hari setelah Mubes ke-V Gebu Minang di Padangpanjang, 8 Juli 2011.

Judul tulisan saya, Gebu Minang dan DDS. Membandingkan antara Gebu Minang sebuah peguyuban besar dengan lembaga sosial Dompet Dhuafa Singgalang.

Saat itu Gebu Minang mendapat sorotan tajam dari berbagai tokoh. Lembaga ini dianggap tidak nyata kontribusinya. Bahkan Gebu Minang saat itu diduga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan individu saja. Pada Mubes ke-V itu dari 372 orang pengurus, yang hadir hanya belasan orang.

“Program Gebu Minang haruslah benar-benar bermanfaat untuk masyarakat bukan untuk kepentingan pengurus lembaganya,” kata Patrialis Akbar, yang waktu itu menjabat Menkumham.

“Selama ini kontribusi Gebu Minang memang belum optimal untuk masyarakat dan pembangunan. Bahkan ada program yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi,” kata almarhum Muslim Kasim, yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Gubernur.

Mubes ke-V itu terpilih Ermansyah Jamin sebagai Ketua. Saya tidak mengikuti lagi tentang Gebu Minang setelah itu. Apakah sentilan beberapa tokoh tadi direalisasikan atau tidak.

Pada Mubes ke VI Gebung Minang, 25 Desember 2016 saya ikut hadir. Saya melihat dinamika terjadi disuksesi itu. Ada dua calon kuat Oesman Sapta Odang (OSO) dan Is Anwar Dt. Perak. Is Anwar Dt. Perak sudah berpulang, 31 Desember 2019 lalu.

Saya tahu bagaimana perjuangan Fauzi Bahar dan almarhum H. Boy Lestari Dt. Palindih meyakinkan OSO untuk mau menjadi ketua umum selanjutnya. Fauzi Bahar jadi aktor yang melobi Is Anwar Dt. Perak untuk memberikan kesempatan kepada OSO. Sementara H. Boy Lestari Dt. Palindih meyakinkan peserta untuk memilih OSO.

Is Anwar Dt. Perak legowo mundur dari pencalonan. Ia berpidato yang membuat peserta terharu. Ia berikan kesempatan kepada OSO. Jelang pemilihan OSO sedang berada di luar daerah. Fauzi Bahar menelpon beliau dini hari di hadapan peserta Mubes. Telepon itu diperdengarkan dengan microphone.

OSO mengucapkan terima kasih dipercaya sebagai Ketua Umum Gebung Minang. Esoknya ia datang dengan private jet ke Padang.

Saat itu OSO menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI. Beliau adalah tokoh Minang yang disegani di politik nasional. Sejak Gebu Minang dipimpin OSO, lembaga ini kembali bergeliat.

OSO menggagas konsep 5 S plus 1 T untuk memajukan Gebu Minang. 5-S itu adalah strategi, struktur, skill, sistem, dan speed. T yaitu target.

OSO bergerak cepat untuk kemajuan Gebu Minang. Struktur pusat dibentuk. Ia juga mantargetkan Gebu Minang ada di seluruh provinsi. OSO juga berencana membangun kantor pusat Gebu Minang yang megah di Jakarta.

Kemudian DPW Gebu Minang Sumatera Barat dibentuk. H. Boy Lestari Dt. Palindih menjadi Ketua sesuai SK DPP dengan No : 04/SK/DPP-GM/VII/2017. Pengurus DPW Gebu Minang Sumbar ini dilantik langsung oleh Ketua Umum OSO, 23 Juli 2017.

Semangat H. Boy Lestari Dt. Palindih sangat tinggi agar Gebu Minang eksis di kampung halaman. Kemudian pengurus Gebu Minang kabupaten/kota juga dibentuk. Berbagai program dijalankan. Termasuk juga mengawal amannya pelaksanaan Pemilu 2019 di Sumbar.

Saya diminta beliau menjadi salah seorang pengurus. Beberapa kali saya diajak Inyiak panggilan akrabnya diskusi tentang program pemberdayaan ekonomi. Ada rencana membuat unit usaha ritel. Namanya Gebu Minang Mart.

Sudah dilakukan beberapa kali pembicaraan teknis bahkan sosialisasi. Tapi program itu tidak jadi terlaksana.

Dalam semangat menjalankan kepengurusan Gebu Minang itu Inyiak berpulang. Tepatnya 9 Januari 2021 lalu setelah melawan Covid 19. Beliau orang baik. Ranah Minang berduka kehilangan tokoh berpengaruh. Alfatihah untuk almarhum Inyiak H. Boy Lestari. Dt. Palindih.

Kini Gebu Minang DPW Sumbar memiliki ketua baru. Pemimpinnya anak muda, Fadly Amran. Pengurusnya juga sudah dilantik. Kabarnya 200 orang jumlah pengurusnya. Tentu ini kekuatan besar. Apalagi komponen pengurusnya dari berbagai keahlian dan profesi.

Next Gebu Minang Sumbar akan membuat terobosan apa? Sebagai generasi Minangkabau saya ingin memberikan beberapa gagasan yang barangkali bisa direalisasikan ke depan.

Pertama, program pemberdayaan ekonomi melalui wakaf produktif. Ekonomi adalah entitas utama Gebu Minang. Potensi wakaf di Sumbar sangat besar. Namun pemahaman kita tentang wakaf masih minim.

Wakaf selama ini hanya dipahami dalam bentuk lahan tidur, bangunan lama atau pekuburan. Padahal wakaf itu dalam bentuk aset bisnis. Contohnya rumah makan, SPBU, sawah, apotik, optik, ruko, perkebunan, ternak, rumah sakit, kampus, tambang, pusat olahraga dan lain sebagainya.

Wakaf itu harus profit oriented!

Menurut saya ke depan Gebu Minang bisa menggagas lembaga pengelola wakaf atau disebut nazhir wakaf. Apa tugas nazhir? Menerima aset wakaf, menjaga dan memproduktifkannya secara ekonomi/bisnis.

Keuntungan/deviden dari pengelolaan wakaf itu bisa menjadi bantuan langsung seperti beasiswa, bantuan kesehatan. Membiayai usaha mikro/industri skala rumah tangga bagi masyarakat. Penerima surplus wakaf itu disebut mauquf alaih.

Terbayang oleh saya jika pemilik Rumah Makan Sederhana, mewakafkan satu rumah makannya. Pemilik SPBU mewakafkan satu pom bensinnya. Pemilik kebun sawit mewakafkan 50 ha kebunnya. Atau kemudian perantau/diaspora Minang mewakafkan sawahnya di kampung.

Kedua, crowdfunding. Saat ini semangat wirausaha generasi kita sedang tumbuh. Berbisnis jati diri orang Minangkabau. Sejalan juga dengan program Pemprov Sumbar, menciptakan 100.000 pelaku usaha baru.

Kampus-kampus mewajibkan mahasiswa mengikuti matakuliah kewirusahaan. Sebagai antisipasi sempitnya lapangan kerja formal di masa depan. Modal finansial selalu menjadi kendala start up untuk memulai bisnis. Menurut saya Gebu Minang mesti menggagas program crowdfunding.

Crowdfunding adalah bentuk pendanaan usaha yang berasal dari pemilik modal. Saat ini berapa banyak orang Minangkabau yang menjadi pengusaha besar (konglomerat). Mereka memiliki perusahaan. Ada kewajiban perusahaan mengeluarkan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Dana CSR perusahaan orang-orang awak ini bisa diakes secara profesional oleh Gebu Minang. Dikelola untuk disalurkan sebagai modal usaha bagi pengusaha pemula dengan persyaratan tertentu.

Ketiga, platform donasi digital (digital fundraising). Isu sosial yang mesti direspon Gebu Minang adalah kemiskinan. Memang ini tanggungjawab utama pemerintah. Gebu Minang bisa mengambil peran.

Gebu Minang bisa membangun platform donasi digital untuk membantu berbagai masalah sosial. Contohnya platform donasi kitabisa.com. Pendirinya generasi milenial Minangkabau, M. Alfatih Timur, akrab disapa Timmy. Melalui kanal donasi kitabisa.com itu ia mampu menghimpun ratusan miliar dana publik untuk berbagai program sosial di Indonesia.

Pengurus Gebu Minang ajaklah Timmy kolaborasi membuat platform donasi sosial digital serupa. Kanal yang menghubungkan seluruh orang Minangkabau di belahan dunia untuk terlibat membantu dunsanak kita yang membutuhkan bantuan sosial, membantu korban bencana alam, biaya pendidikan. Donasi bisa berupa zakat, infak dan sedekah.

Apakah gagasan ini bisa dijalankan? Sangat bisa! Kuncinya kemauan, keseriusan dan konsensus kita orang Minangkabau. Jika nazhir wakaf, crowdfunding, platform donasi digital Gebu Minang diurus secara profesional, tentu akan menjadi kekuatan ekonomi.

Jika ekonomi orang Minangkabau baik, prinsip budaya akan bisa kita pertahankan sesuai dengan nilai-nilai luhurnya.

Saatnya membuktikan eksistensi Gebu Minang benar-benar nyata. Bukan lagi sekedar kumpul pelantikan ratusan orang hebat, tapi tidak jelas apa yang akan diperbuat. Buktikan! *)

 

Penulis adalah Dosen Fisipol Unes

 

Catatan : Tulisan yang sama sudah terbit di Teras Utama Padang Ekspres, Senin 20 September 2021