• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Jumat, Maret 6, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Prof Djohermansyah Djohan: Daerah Tertinggal Butuh “Special Treatment”, Bukan Sekadar Retorika Anggaran

26 Februari 2026
in Berita
Reading Time: 3min read
Views: 424
Prof Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri periode 2010–2014. (Foto : Dok)

JAKARTA, forumsumbar ––Pembangunan berkelanjutan tidak bisa dibangun di atas pola anggaran yang seragam.Untuk mengangkat daerah tertinggal keluar dari jebakan ketimpangan struktural, negara harus berani memberikan perlakuan khusus yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Guru Besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri periode 2010–2014, Prof Djohermansyah Djohan menegaskan bahwa pendekatan fiskal yang selama ini diterapkan melalui skema Transfer ke Daerah (TKD) cenderung bersifat standar dan tidak cukup progresif untuk menjawab ketertinggalan wilayah tertentu.

“Kalau daerah tertinggal ingin benar-benar diangkat, harus ada pembiayaan ‘on top’ dari dana TKD. Tidak bisa disamaratakan,” tegasnya.

Lihat Juga

Tingkatkan Pemahaman Siswa Bijak Berinternet, Kominfo Tanah Datar Berikan Penyuluhan Literasi Digital

Tingkatkan Pemahaman Siswa Bijak Berinternet, Kominfo Tanah Datar Berikan Penyuluhan Literasi Digital

6 Maret 2026
10
Prof Djohermansyah Djohan Berikan Catatan Kritis Soal Berulangnya OTT Kepala Daerah oleh KPK

Prof Djohermansyah Djohan Berikan Catatan Kritis Soal Berulangnya OTT Kepala Daerah oleh KPK

6 Maret 2026
22
Lakukan Evaluasi Indeks Inovasi Daerah, Bupati JKA Targetkan Padang Pariaman 3 Besar IGA 2026

Lakukan Evaluasi Indeks Inovasi Daerah, Bupati JKA Targetkan Padang Pariaman 3 Besar IGA 2026

6 Maret 2026
49

Ketertinggalan Bukan Sekadar Label

Berdasarkan pemetaan yang ia cermati, mayoritas daerah tertinggal berada di enam provinsi di Tanah Papua.

Selain itu, terdapat daerah seperti Nias Utara di Sumatera Utara serta beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur seperti Sabu Raijua, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya.
Banyak dari daerah tersebut merupakan Daerah Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran.

Pemekaran awalnya dimaksudkan sebagai strategi mendekatkan pelayanan dan mempercepat pembangunan di wilayah periferi. Namun dalam praktiknya, pemekaran tidak otomatis menghasilkan percepatan kesejahteraan.

“Daerah dimekarkan dengan harapan mendapat alokasi lebih besar. Tapi faktanya, banyak yang tetap tertinggal karena tidak diikuti treatment khusus yang konsisten,” ujarnya.

Pemekaran tanpa kesiapan fiskal dan tata kelola justru berisiko memecah potensi ekonomi yang sebelumnya terkonsentrasi.

Dampak Pemotongan Anggaran: Perencanaan Berantakan

Persoalan lain yang dinilai mengganggu pembangunan berkelanjutan adalah kebijakan pemotongan anggaran yang dilakukan secara mendadak.

Menurut Prof Djohermansyah, pemotongan dana TKD, dana desa, bahkan dana otonomi khusus (otsus), menciptakan ketidakpastian perencanaan di daerah.

“Daerah sudah menyusun program sejak tahun sebelumnya. Tiba-tiba Januari atau Februari dipotong. Perencanaannya berantakan, target tidak tercapai.”

Pemotongan dana otsus Papua yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah disebut memperlambat upaya peningkatan Indeks

Pembangunan Manusia (IPM), terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Sebagai perbandingan ekstrem, ia mencontohkan kapasitas fiskal Jakarta yang mencapai puluhan triliun rupiah, sementara beberapa provinsi di Papua hanya memiliki kisaran Rp1 triliun untuk wilayah yang sangat luas dan penuh tantangan geografis.

“Kesenjangan fiskal ini nyata. Kalau tidak ada afirmasi kuat, sulit bicara percepatan.”

Leadership, Uang, dan Kewenangan

Dalam pandangannya, ada tiga prasyarat utama untuk mengangkat kabupaten tertinggal:; Peetama, Kepemimpinan (leadership) kepala daerah yang progresif dan fokus pada pengentasan ketertinggalan. Kedua, Kapasitas fiskal (uang) yang memadai untuk menjalankan program nyata.
Ketiga, Kewenangan yang cukup, karena tidak semua urusan berada di tangan pemerintah kabupaten. Masalahnya, seringkali kewenangan strategis berada di kementerian/lembaga pusat.

Jika distribusi program dan anggaran tidak berbasis kebutuhan objektif, melainkan relasi politik atau kedekatan tertentu, maka daerah tertinggal semakin sulit mengejar ketertinggalannya.

“Kalau alokasi anggaran tidak objektif dan tidak berbasis kebutuhan, pembangunan akan timpang.”

Peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat dalam skema desentralisasi, gubernur memegang peran penting sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.

Tugasnya bukan hanya membangun ibu kota provinsi, tetapi memastikan kabupaten tertinggal mendapat afirmasi dan pendampingan.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi tiga level pemerintahan: Bupati di tingkat kabupaten. Gubernur di tingkat provinsi. Menteri dan kepala lembaga di tingkat pusat
Tanpa sinergi tersebut, istilah “pembangunan berkelanjutan” hanya menjadi jargon.

Roadmap Lima Tahun: Bukan Sekadar Koordinasi

Prof Djohermansyah mengkritik pendekatan yang hanya berhenti pada rapat koordinasi tanpa langkah aksi konkret.

“Jangan hanya rapat koordinasi, tapi daerahnya tetap tertinggal. Harus ada roadmap jelas, lima tahun misalnya, dengan target terukur.”

Jika negara serius, menurutnya, dalam satu periode pemerintahan seharusnya bisa ditetapkan target eliminasi status daerah tertinggal secara bertahap, dengan pembiayaan afirmatif yang memadai.

Tambahan Rp100 miliar per tahun untuk satu daerah tertinggal dinilai belum cukup signifikan. Tanpa keberanian alokasi yang lebih besar dan konsisten, percepatan sulit dicapai.

Pembangunan Berkelanjutan: Kolaboratif dan Terukur

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, pengentasan ketertinggalan harus fokus pada indikator utama: pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan stunting. IPM harus menjadi tolok ukur yang terus didorong naik secara sistematis.

“Kalau semua pihak—bupati, gubernur, dan pusat—punya peta jalan yang sama dan komitmen anggaran yang jelas, dalam beberapa tahun kita bisa melihat perubahan nyata,” katanya.

Tanpa itu, ketimpangan geografis Indonesia yang sangat luas hanya akan memperdalam jarak pembangunan antarwilayah.

Pesan utama yang ditegaskan Prof Djohermansyah adalah sederhana namun mendasar: mengangkat daerah tertinggal bukan soal retorika desentralisasi, melainkan keberanian kebijakan fiskal afirmatif yang konsisten, terukur, dan bebas dari distorsi kepentingan.

Pembangunan berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika negara benar-benar hadir secara adil — bukan dengan pendekatan seragam, melainkan dengan perlakuan khusus bagi wilayah yang paling membutuhkan.

(R/Wiztian Yoetri)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol Awali Kunjungan Safari Ramadan di Kodim 0308/Padang Pariaman

Next Post

Berkah Ramadan, KAI Divre II Sumbar Salurkan TJSL Rp250 Juta untuk Pembangunan Masjid Al Mursydin Pasaman

BeritaTerkait

Tingkatkan Pemahaman Siswa Bijak Berinternet, Kominfo Tanah Datar Berikan Penyuluhan Literasi Digital
Berita

Tingkatkan Pemahaman Siswa Bijak Berinternet, Kominfo Tanah Datar Berikan Penyuluhan Literasi Digital

6 Maret 2026
10
Prof Djohermansyah Djohan Berikan Catatan Kritis Soal Berulangnya OTT Kepala Daerah oleh KPK
Berita

Prof Djohermansyah Djohan Berikan Catatan Kritis Soal Berulangnya OTT Kepala Daerah oleh KPK

6 Maret 2026
22
Lakukan Evaluasi Indeks Inovasi Daerah, Bupati JKA Targetkan Padang Pariaman 3 Besar IGA 2026
Berita

Lakukan Evaluasi Indeks Inovasi Daerah, Bupati JKA Targetkan Padang Pariaman 3 Besar IGA 2026

6 Maret 2026
49
Berkah yang Melaju, Z-Auto Tiba di Padang Pariaman Dinikmati Mustahik dengan Gratis
Berita

Berkah yang Melaju, Z-Auto Tiba di Padang Pariaman Dinikmati Mustahik dengan Gratis

5 Maret 2026
39
Perkuat Aspek Keselamatan Angkutan Lebaran, Direktur Keselamatan dan Keamanan KAI Tinjau Langsung Jalur KA Padang – Pulau Air
Berita

Perkuat Aspek Keselamatan Angkutan Lebaran, Direktur Keselamatan dan Keamanan KAI Tinjau Langsung Jalur KA Padang – Pulau Air

5 Maret 2026
29
KAI Dukung Program Walikota Padang dalam Pengembangan Infrastruktur dan Optimalisasi Aset Transportasi
Berita

KAI Dukung Program Walikota Padang dalam Pengembangan Infrastruktur dan Optimalisasi Aset Transportasi

4 Maret 2026
29
Next Post
Berkah Ramadan, KAI Divre II Sumbar Salurkan TJSL Rp250 Juta untuk Pembangunan Masjid Al Mursydin Pasaman

Berkah Ramadan, KAI Divre II Sumbar Salurkan TJSL Rp250 Juta untuk Pembangunan Masjid Al Mursydin Pasaman

Please login to join discussion

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,102)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,216)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,383)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,351)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (29,941)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (28,777)
  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (25,710)
  • Tabuik, ‘Perang Karbala’ di Jantung Kota Pariaman (23,768)
  • Blaster, Klub Motor Legendaris Kota Padang (22,527)
  • Sijunjung Jebol, Seluruh Sumbar Zona Merah Covid-19 (22,524)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
141
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
324
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
478
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
222
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
110
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
141
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
124
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
185
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
121

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In