
Oleh: Irawan Winata
(Penulis dan Praktisi Seni)
DI tengah hiruk-pikuk ruang pameran “Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition” di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, ada satu sudut yang memancarkan keheningan yang begitu tenang.
Di atas pedestalnya, sebuah patung kayu berukuran minimalis menyedot perhatian saya, membuat saya menelaahnya berkali-kali, bukan karena bentuknya yang meledak-ledak, melainkan karena keheningan yang ia pancarkan.
Karya ini lahir dari jemari Ema Kissova, seorang seniman patung asal Slovakia. Sekilas pandang, wujudnya hadir sebagai figurasi abstrak yang mengingatkan kita pada sosok rubah yang tengah meringkuk bersimpuh seolah sedang bertapa, melipat seluruh indranya dari kebisingan dunia.
Hal pertama yang membelalakkan mata saya adalah saat menatap karya Ema adalah kehalusan permukaannya yang luar biasa. Kayu, yang pada hakikatnya adalah material keras, kaku, dan berserat tajam, bertransformasi di tangan Ema menjadi sosok yang tampak begitu lentur, hangat, dan seolah bernapas.
Pengerjaan dengan teknik pahat yang dilanjutkan dengan proses pengampelasan berulang tanpa celah ini bukan sekadar pamer keterampil kriya. Di sana ada dialog sensual yang intim antara seniman dan materialnya. Ema sepertinya tidak berusaha memaksakan kehendak pada kayu, melainkan menuntun karakter serat alami dan gradasi warna keemasan kayu untuk menonjolkan lekuk-lekuk tubuh sang “rubah”.
Cahaya galeri yang jatuh di permukaannya tidak memantul keras, melainkan terserap lembut, melahirkan bayangan-bayangan tipis yang mempertegas kesan kedalaman tubuh yang sedang berikhtiar memusatkan pikiran.
Masyarakat Slovakia, sepemahaman saya memang memiliki ikatan emosional dan mitologis yang kuat dengan hutan pegunungan, tempat rubah menjadi simbol kecerdikan dan ketahanan hidup dalam tradisi Slavia. Namun, Ema membawa narasi rubah ini ke aras yang jauh lebih dalam.
Jika dalam cerita rakyat rubah kerap diasosiasikan dengan kecerdikan lahiriah, maka gestur “bertapa” yang dihadirkan Ema membalikkan narasi tersebut menjadi sebuah pencarian kebijaksanaan batin. Dalam posisi melingkar rapat, tanpa sudut tajam, patung ini menyimbolkan proses pengikisan ego. Ia adalah rubah yang memilih hening, menyatu dengan alam, dan menyelami ruang kesendirian di tengah riuhnya zaman.
Melihat kehalusan kayu karya Ema adalah menyaksikan sebuah proses alokasi waktu yang penuh dedikasi. Setiap sentuhan amplas yang menghaluskan ulas serat kayu tersebut adalah cermin dari kesabaran jiwa sang pemahat. Kehalusan itu seolah menjadi jejak spiritualitas Ema sendiri yang dituangkan ke dalam karya, sebuah proses meditasi panjang sebelum akhirnya wujud “rubah yang bertapa” itu benar-benar lahir.
Melalui keahlian kayu khas Eropa Tengah yang dipadukan dengan atmosfer residensi di Sumatera Barat, Ema Kissova tidak hanya memamerkan sebuah patung kayu yang indah secara visual. Ia mengajak siapa saja yang berdiri di depan karyanya untuk sejenak menarik napas dalam-dalam, menghentikan derap langkah, dan belajar mengheningkan cipta dari sesosok rubah kayu yang begitu tenang.
Setelah melihat karya patung Ema ini, pengunjung pasti akan dibuat penasaran dengan negara Slovakia dan mencari tahu lebih dalam tentang negara, rubah bahkan mungkin seni patung yang ada di Slovakia. *)






















