
Oleh: Irawan Winata (Indonesia)
Lokasi Pameran Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Padang (2026) dalam acara The Arby Samah Internasional Sculpture Residency and Exhibition.
DI tanah Minang, narasi tentang Malin Kundang telah membatu selama berabad-abad dalam memori masyarakat, sebuah mitos kontemplatif tentang kedurhakaan, kemurkaan sang ibu, dan pengerasan hati yang membatu di pesisir pantai Pantai Air Manis. Namun, ketika melangkah di tengah deretan karya yang memadati Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, cerita klasik tersebut mendapati penafsiran ulang yang tak terduga. Sebuah instalasi patung garapan seniman asal Australia “Totok Basuki, secara intuitif menyedot perhatian para pengunjung. Berawal dari impresinya terhadap legenda Malin Kundang, karya yang berjudul ” Servent Vase” (2026) ini mengolah kembali mitos kutukan batu tersebut menjadi sebuah narasi visual yang tidak hanya kuat secara bentuk, tetapi juga begitu hangat, menyentuh sisi kemanusiaan dan membangkitkan kesadaran ekologis saya.
Dari sudut pandang teknis, Totok Basuki menunjukkan penguasaan material yang sangat terampil. Pilihan utamanya jatuh pada dua elemen baku yang identik dengan sifat kaku, berat, dan tak tergoyahkan yaitu batu alam dan (besi rebar).
Batu diletakkan di atas penyangga besi putih, menjadi poros utama yang menahan tumpuan, menghadirkan ingatan akan bongkahan batu kutukan yang legendaris. Namun, dari batu keras tersebut, menancap dan meluncur beberapa helai besi ulir yang dipoles tajam dengan kontras warna-warna primer dan sekunder merah, kuning, hijau, dan biru. Penancapan besi ke dalam rongga batu ini bukan sekadar teknik penyambungan material fisik, melainkan sebuah gestur artistik yang presisi, sebuah representasi penaklukkan sekaligus perpaduan dua daya tahan yang ekstrem.
Secara konseptual, benang merah karya ini berpijak pada paradoks yang indah. Jika kisah Malin Kundang lazimnya menyisakan kebekuan dan penyesalan yang membatu, Totok Basuki justru membalikkan energi destruktif itu. Karakter batu dan besi secara konvensional memang kerap diasosiasikan dengan ketegaran, benturan, konflik, atau bahkan sifat maskulin yang keras. Namun, di tangan seniman ini, bertabrakannya dua material keras tersebut tidak melahirkan kemurkaan atau kehancuran, melainkan lahirnya sebuah cinta.
Jika diamati secara saksama dari lekukan gestural besi-besi berwarna yang mencuat dari dalam batu, gelombang dan lengkungan ulurnya membentuk dinamika visual yang mengisyaratkan tipografi intuitif, sebuah rangkaian aksara yang membentuk kata “Love” atau cinta. Warna-warna cerah yang melapisi permukaan besi berfungsi menghilangkan kesan dingin dan destruktif dari bahan industri tersebut. Merah yang hangat, kuning yang optimis, hijau yang bertumbuh, serta biru yang menenangkan berpadu menyalurkan energi positif dari dalam batu. Seolah-olah, kutukan batu Malin Kundang yang dingin dan kaku itu mendadak luluh dan meleleh, menumbuhkan kembali kasih sayang yang sempat terputus.
Hal ini membawa kita pada sebuah refleksi ‘human interest” yang mendalam. Sering kali hubungan kehidupan dan proses kemanusiaan kita dibentuk oleh benturan-benturan yang keras. Namun, ketika benturan dan penyesalan tersebut diolah dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kelembutan jiwa, ia sanggup memancarkan harmoni dan rasa kasih yang murni. Batu tidak lagi menjadi simbol hukuman, melainkan wadah lahirnya kembali pengampunan dan cinta.
Karya ini juga mengetuk kesadaran ekologis saya secara tajam. Dalam kosmologi budaya dan ekologi, batu adalah simbol murni dari ” Ibu bumi”, elemen organik yang telah melewati proses geologis bertahun-tahun, sekaligus representasi rahim tempat kehidupan bersumber. Sementara besi melambangkan daya cipta, peradaban, dan intervensi manusia.
Keterhubungan antara batu dan besi dalam karya ini mengingatkan saya pada prinsip kerja alam yang identik dengan kasih seorang ibu. Pekerjaan alam sejatinya sama dengan kerja ibu, jika kita mencintainya dengan tulus, maka ia pun akan mencintai kita kembali, bahkan ketika wujudnya sekeras batu. Alam tidak pernah bekerja secara kaku, ia selalu merespons setiap elemen yang berinteraksi dengannya dengan keseimbangan. Bagaikan benih yang menembus tanah keras atau akar pohon yang mampu membelah batu. Alam selalu punya cara untuk melahirkan kehidupan dan keindahan dari kondisi yang paling keras sekalipun.
Melalui “Servent Vase”, Totok Basuki berhasil menghadirkan sebuah karya patung yang kontemplatif di Taman Budaya Sumatera Barat. Dengan membedah mitos Malin Kundang melalui estetika modern, ia mengajak pembaca dan penikmat seni untuk meyakini bahwa di balik kerasnya dunia, material, maupun takdir, selalu ada ruang bagi cinta, pengampunan, dan kehangatan untuk tumbuh serta menyatu dalam harmoni alam yang manis. *)






















