
PADANG —Pusat Riset Kearifan Lokal Universitas Negeri Padang (PRKL UNP) menyelenggarakan kegiatan Launching dan Diskusi Buku Budaya, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana karya Dr Wirdanengsih, SSos, MSi, di Theater Mini Gedung Youth Center, Jalan Bagindo Aziz Chan, Kota Padang, Kamis (15/10/2026).
Menurut Direktur PRKL UNP Dr Wirdanengsih, kegiatan ini sebagai ruang berbagi pengetahuan dan bertukar gagasan mengenai pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PRKL UNP untuk memperkuat literasi kebencanaan melalui pendekatan budaya dan lingkungan,” ujarnya.
Peluncuran buku, lanjut Dosen FIS UNP ini, tidak hanya menjadi momentum memperkenalkan karya akademik, tetapi juga membuka ruang dialog antara peneliti, sastrawan, dan mahasiswa dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan serta peran pengetahuan lokal dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.
Buku Budaya, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana, yang juga merupakan karya dari Wirdanengsih ini, mengajak pembaca memahami bahwa bencana tidak cukup dilihat sebagai peristiwa alam semata.
“Bencana juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang berkaitan dengan cara masyarakat mengenali lingkungan, memahami risiko, membangun solidaritas, serta mengembangkan strategi bertahan dan beradaptasi ketika menghadapi ancaman bencana,” ucapnya.
Pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, nilai gotong royong, praktik kolektif, dan hubungan budaya dengan lingkungan merupakan sumber pembelajaran yang penting dalam membangun kesadaran kebencanaan.
Pengetahuan tersebut perlu didokumentasikan dan dikaji secara ilmiah agar dapat menjadi bagian dari pengembangan pendidikan kebencanaan dan strategi pengurangan risiko bencana yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.

Penulis Menjadi Pemantik dalam Diskusi Buku
Setelah peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nasrul Azwar, sastrawan Sumatera Barat, serta Nandito dan Arya, mahasiswa UNP, sebagai pemberi tanggapan.
Dalam forum ini, Dr Wirdanengsih selaku penulis bertindak sebagai pemantik diskusi, dengan mengawali perbincangan mengenai gagasan utama buku, hubungan budaya dan lingkungan, serta relevansi kearifan lokal dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sebagai pemantik, Wirdanengsih membuka ruang dialog dengan mengajak peserta melihat kembali bagaimana masyarakat membangun pengetahuan tentang lingkungan melalui pengalaman hidup, praktik budaya, dan interaksi sosial.
Perspektif tersebut menjadi landasan untuk membahas potensi pengetahuan lokal dalam mendukung mitigasi bencana, sekaligus mengidentifikasi tantangan dalam mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan tersebut di tengah perubahan sosial dan lingkungan.
Diskusi kemudian diperkaya dengan tanggapan Nasrul Azwar yang menghadirkan perspektif sastra dan kebudayaan. Dimana Nasrul Azwar menyampaikan bahwa sastra dapat menjadi medium untuk merekam pengalaman masyarakat, menyuarakan perubahan lingkungan, dan membangun kesadaran publik melalui cerita, refleksi, serta kritik sosial.

Perspektif ini, katanya, memperluas pemahaman bahwa isu kebencanaan bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga berkaitan dengan pengalaman manusia, ingatan kolektif, dan cara masyarakat memaknai lingkungan tempat mereka hidup.
Sementara itu, keterlibatan Nandito dan Arya sebagai mahasiswa UNP menghadirkan perspektif generasi muda dalam membaca persoalan lingkungan dan kebencanaan.
Partisipasi mahasiswa menjadi penting karena generasi muda memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan literasi kebencanaan, mengembangkan kepedulian ekologis, serta mendorong pemanfaatan pengetahuan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui diskusi tersebut, buku diposisikan bukan hanya sebagai produk pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai titik awal untuk mempertemukan beragam perspektif.
Dialog antara penulis, sastrawan, dan mahasiswa diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai hubungan budaya, lingkungan, dan mitigasi bencana, sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang dapat dikembangkan dalam penelitian, pendidikan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Kearifan Lokal dan Tantangan Kebencanaan di Sumatera Barat
Sumatera Barat memiliki karakteristik geografis yang beragam dan menghadapi berbagai potensi ancaman bencana, antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Kondisi tersebut menuntut penguatan kesiapsiagaan yang tidak hanya bertumpu pada teknologi dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, budaya, dan kapasitas masyarakat.
Dalam konteks masyarakat Minangkabau, kehidupan nagari, semangat gotong royong, musyawarah, solidaritas sosial, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan merupakan aspek yang dapat dikaji untuk mendukung pengurangan risiko bencana.
Nilai-nilai tersebut menurut Direktur PRKL UNP Dr Wirdanengsih, berpotensi memperkuat kerja sama, penyebaran informasi, dan tindakan kolektif ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Kearifan lokal tersebut, lanjutnya, perlu ditempatkan secara kritis dan dipadukan dengan pengetahuan ilmiah, pemetaan risiko, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta edukasi kebencanaan. Integrasi tersebut diperlukan agar pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat dapat digunakan secara tepat dan tidak menggantikan prosedur keselamatan berbasis kajian ilmiah.

“Melalui kegiatan launching dan diskusi buku ini, PRKL UNP mendorong pengembangan perspektif kebencanaan yang lebih menyeluruh dengan menempatkan budaya dan kearifan lokal sebagai bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat”, ujar Wirdanengsih.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang produksi pengetahuan, dokumentasi kebudayaan, dan pengembangan solusi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Peluncuran dan diskusi buku Budaya, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana diharapkan menjadi langkah untuk memperluas dialog akademik dan publik mengenai pentingnya menjaga hubungan yang berkelanjutan antara manusia dan lingkungan.
“Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk membangun budaya sadar bencana pada masa kini dan masa depan,” pungkasnya.
(WN)






















