
TEPUK tangan bergemuruh di gedung B Taman Budaya malam itu. Gedung yang entah selesainya kapan tak ada seniman disana yang tau. Mereka menyebutnya gedung mangkrak.
Di tempat itulah, belasan anak berseragam latihan menampilkan Tari Melayu. Gerak tangan mereka mengalir lembut mengikuti irama musik. Di barisan depan, beberapa penonton mengangkat telepon genggam untuk merekam pertunjukan anak anaknya. Sebagian lainnya larut dalam kenangan.
Malam itu adalah peresmian ruang latihan dan sekaligus perayaan lima puluh lima tahun Sanggar Alang Babega. Sanggar Tari yang sudah setengah abad lebih berdiri di Sumatera Barat yang dikelola oleh seorang yang sangat setia dengan profesinya.
Di antara riuh tepuk tangan, Tuti berdiri di samping sebuah tiang beton. Sesekali ia tersenyum menyambut tamu yang datang. Namun sesungguhnya pikirannya sedang berada jauh di masa lalu.
Ke sebuah halaman yang kini telah berubah.
Ke sebuah pohon flamboyan yang telah lama tiada.
Dulu, ketika Tuti masih kecil, Taman Budaya belum seramai sekarang.
Di sana berdiri sebuah pendopo sederhana. Hanya atap dan tiang-tiang penyangga. Tidak ada dinding. Tidak ada pintu. Bila hujan turun miring, lantai semen akan ikut basah. Bila angin bertiup kencang, debu akan berterbangan di antara para penari.
Di situlah ayahnya, Darwis Loyang, orang orang memanggilnya Pak DW memulai semuanya.
Sebagai penari Melayu, pak DW percaya bahwa seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah cara menjaga ingatan sebuah bangsa.
Karena itulah ia mendirikan Sanggar Alang Babega.
Awalnya hanya beberapa anak sekitar yang datang belajar. Sebagian malu-malu. Sebagian lagi datang karena diajak temannya.
Pak DW menerima semuanya.
Ia mengajarkan gerak demi gerak dengan sabar.
“Jangan sekadar menggerakkan kaki,” katanya suatu sore.
“Kalau menari, hati juga harus ikut bergerak.”
Anak-anak mengangguk meski belum tentu memahami maksudnya.
Namun mereka selalu datang kembali.
Di depan pendopo berdiri sebuah pohon flamboyan yang besar.
Ketika musim berbunga, kelopak-kelopak merahnya berguguran menutupi tanah.
Di bawah pohon itulah para orang tua menunggu.
Ada yang membawa termos kopi.
Ada yang merajut.
Ada yang berbincang tentang harga cabai, bensin naik, dolar naik dan sampai pergunjingan rumah tangga orang lain yang belum tentu pula kebenarannya.
Sementara anak-anak mereka berlatih menari.
Pohon flamboyan itu seperti bagian dari sanggar.
Menjadi saksi langkah-langkah kecil yang kelak tumbuh menjadi perjalanan panjang.
Tuti sering bermain di bawah pohon itu. Kadang ia mengumpulkan bunga flamboyan yang jatuh. Kadang ia memperhatikan ayahnya melatih murid-murid.
Pak Darwis hampir tak pernah terlihat lelah.
Padahal Tuti tahu, ayahnya sering menggunakan uang sendiri untuk kebutuhan sanggar.
Membeli kain kostum.
Memperbaiki alat musik.
Membiayai perjalanan murid yang akan tampil.
“Bapak rugi,” tanya si Boy anak bandel yang setiap hari berada di Taman Budaya.
Pak Darwis tertawa kecil.
“Kalau untuk seni, tidak ada kata rugi Boy.”
“Lalu apa untungnya?”
Pak Darwis memandang murid-murid yang sedang berlatih.
“Itu.”
Si Boy tidak mengerti jawaban Pak DW itu.
Namun pak DW tidak pernah merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
Tahun-tahun berlalu.
Murid-murid datang dan pergi.
Anak-anak TK tumbuh menjadi siswa SMP.
Siswa SMA tumbuh menjadi mahasiswa.
Mahasiswa menjadi orang dewasa.
Sebagian merantau.
Sebagian menjadi guru.
Sebagian menjadi seniman.
Sebagian memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda.
Namun hampir semuanya membawa sesuatu dari sanggar itu.
Bukan hanya keterampilan menari.
Melainkan rasa cinta terhadap budaya yang diwariskan Darwis Loyang.
Sanggar Alang Babega pun terus berkembang.
Jumlah murid semakin banyak.
Nama sanggar semakin dikenal.
Tetapi Pak Darwis tetap sama.
Tetap datang lebih awal dari siapa pun.
Tetap menyapu lantai sebelum latihan dimulai.
Tetap mengajar dengan kesabaran yang sama.
Ketika usia mulai menua, langkah Pak Darwis tak lagi secepat dahulu.
Rambutnya memutih.
Napasnya sering tersengal.
Namun setiap sore ia tetap datang ke sanggar.
Suatu hari Tuti berkata, “Ayah harus lebih banyak istirahat.”
Pak Darwis tersenyum.
“Nanti.”
“Kapan?”
“Kalau sudah tidak ada lagi yang mau belajar.”
Tuti tertawa mendengar jawaban itu.
Sebab ia tahu hari itu tak akan pernah datang.
Dan memang, hari yang datang justru hari yang lain.
Hari ketika pak Darwis Loyang pergi untuk selamanya.
Kabar wafatnya menyebar cepat.
Banyak orang datang melayat.
Ada yang telah puluhan tahun tidak bertemu dengannya.
Ada yang datang dari luar kota.
Ada yang menangis seperti kehilangan orang tua sendiri.
Tuti tak pernah menyangka ayahnya telah menyentuh begitu banyak kehidupan.
Setelah pemakaman selesai dan para pelayat pulang, barulah kesunyian datang.
Kesunyian yang terasa begitu berat.
Untuk pertama kalinya, sanggar berjalan tanpa pak Darwis Loyang.
Hari-hari berikutnya tidak mudah.
Tuti berusaha melanjutkan kegiatan sanggar.
Namun sering kali ia merasa ragu.
Mampukah ia meneruskan semua yang telah dibangun ayahnya?
Suatu malam setelah latihan selesai, ia duduk sendirian di ruang sanggar.
Lampu-lampu sebagian sudah dipadamkan.
Suasana terasa lengang.
Tiba-tiba anaknya menghampiri.
“Kok masih di sini, Bu?”
Tuti tersenyum.
“Ibu sedang memikirkan kakekmu.”
Anaknya duduk di sebelahnya.
“Kakek pasti ingin sanggar ini tetap hidup.”
Kalimat sederhana itu membuat Tuti terdiam.
Ia memandang ruang latihan yang kosong.
Lalu teringat wajah ayahnya.
Sejak malam itu ia memutuskan untuk terus melangkah.
Dan tanpa disadarinya, anaknya mulai ikut membantu mengelola sanggar.
Mengurus murid-murid kecil.
Menyiapkan kegiatan.
Mendampingi latihan.
Warisan itu ternyata tidak berhenti pada dirinya.
Warisan itu terus bergerak.
Waktu kembali berjalan.
Banyak hal berubah.
Pendopo tempat latihan pertama tidak lagi seperti dulu.
Pohon flamboyan yang menjadi tempat para orang tua menunggu juga sudah tidak ada.
Sebagian wajah yang dahulu akrab kini tinggal kenangan.
Namun Sanggar Alang Babega tetap berdiri.
Tetap hidup.
Tetap melahirkan generasi baru.
“Bu Tuti, sebentar lagi sambutan dimulai.”
Suara panitia membuyarkan lamunannya.
Tuti mengangguk.
Ia melangkah ke tengah ruang latihan yang sebentar lagi diresmikan.
Tepuk tangan menyambutnya.
Dari sana ia melihat ratusan wajah.
Ada murid-murid kecil.
Ada mahasiswa.
Ada alumni yang kini telah beruban pula.
Mereka semua berkumpul untuk satu alasan.
Mengenang Darwis Loyang.
Tuti menarik napas panjang.
Lalu mulai berbicara.
“Sering orang bertanya kepada saya, apa warisan terbesar yang ditinggalkan ayah saya.”
Suasana menjadi hening.
“Ayah tidak meninggalkan rumah mewah.”
Tak seorang pun bersuara.
“Ayah juga tidak meninggalkan harta yang berlimpah.”
Tuti berhenti sejenak.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
“Tetapi ayah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga.”
Suara Tuti mulai bergetar.
Ia menunjuk ke arah para hadirin.
“Warisan itu adalah kita semua.”
Beberapa orang menundukkan kepala.
Sebagian mengusap mata.
“Orang bisa mewariskan tanah. Bisa mewariskan rumah. Bisa mewariskan emas. Tetapi semua itu ada batasnya.”
Ia kembali berhenti.
“Sementara ilmu, kasih sayang, dan kecintaan terhadap budaya tidak memiliki batas.”
Suasana menjadi semakin haru.
“Semakin dibagikan, semakin bertambah. Semakin diwariskan, semakin hidup.”
Tuti memandang ke arah anaknya yang berdiri di sisi panggung.
Kemudian ke arah murid-murid yang menunggu giliran tampil.
Lalu ke arah para alumni yang pernah belajar langsung kepada ayahnya.
Di wajah-wajah itulah ia melihat ayahnya Darwis Loyang masih hidup.
Bukan sebagai kenangan.
Melainkan sebagai jejak yang terus berjalan.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi gedung.
Panjang.
Hangat.
Tulus.
Di tengah gemuruh itu, Tuti membayangkan kembali pohon flamboyan yang telah hilang.
Pendopo sederhana yang kini tinggal cerita.
Dan seorang lelaki yang selama hidupnya mengajarkan tari dengan penuh cinta.
Waktu memang telah mengambil banyak hal.
Mengambil pohon flamboyan.
Mengambil pendopo tua.
Bahkan mengambil Darwis Loyang ayahnya.
Namun waktu gagal mengambil warisannya.
Karena warisan itu kini hidup dalam langkah kaki anak-anak yang menari malam ini.
Hidup dalam murid-murid yang mengajarkannya kembali kepada generasi berikutnya.
Hidup dalam Sanggar Alang Babega yang terus bernapas dari tahun ke tahun.
Dan selama masih ada satu anak yang belajar mencintai budaya di tempat itu, Darwis Loyang belum benar-benar pergi.
Itulah warisan tanpa limit rupanya.
Padang 8 juni 2026
























