
Oleh: Dr. Drs. Khairil Anwar, M.Si
(Dosen Universitas Andalas)
DESA Kubang Tangah, yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dikenal sebagai salah satu wilayah agraris yang masih aktif mengembangkan sektor pertanian dan peternakan secara tradisional. Di balik pesona desa yang asri dan penuh potensi ini, tersimpan tantangan yang kerap luput dari perhatian: keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi para petani dan peternaknya.
Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadakan oleh Universitas Andalas (Unand) Tematik II Tahun 2025 dengan DPL Dr. Drs. Khairil Anwar, M.Si, kelompok mahasiswa lintas jurusan terjun langsung ke lapangan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penerapan K3 di sektor pertanian dan peternakan. Kegiatan ini menjadi angin segar bagi warga desa, sekaligus refleksi akan pentingnya perlindungan terhadap para pekerja sektor primer ini.
Mengapa K3 Penting di Dunia Pertanian dan Peternakan?
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bukan hanya istilah yang lazim ditemui di dunia industri dan perkantoran. Justru di sektor pertanian dan peternakan, yang penuh dengan risiko fisik, kimia, dan biologis, prinsip-prinsip K3 sangat krusial untuk diterapkan.
Petani dan peternak menghadapi berbagai potensi bahaya setiap hari – mulai dari paparan pestisida, penggunaan alat tajam dan berat, hingga interaksi langsung dengan hewan ternak yang dapat menularkan penyakit zoonosis. Kurangnya pengetahuan dan perlindungan dapat menyebabkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, bahkan kematian.

Menurut Kepala Desa Rice, K3 ini sangat urgen bagi petani dan peternak di Desa Kubang Tangah. Kesadaran akan K3 di Kubang Tangah masih sangat minim. Banyak petani bekerja tanpa alat pelindung diri (APD), menyemprot pestisida tanpa masker, atau menggunakan alat tajam tanpa pelindung. Hal yang sama terjadi di kandang-kandang peternakan, di mana kebersihan, penanganan hewan, dan sanitasi sering diabaikan.
Peran KKN Unand: Menghubungkan Ilmu dan Praktik Lapangan
Melalui KKN tematik dengan kegiatan yang mengusung tema “Peningkatan Kesadaran K3 di Sektor Pertanian dan Peternakan”, para mahasiswa Unand mencoba menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan. Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat, komunikasi, sosial budaya, dan teknik serta didukung oleh semua peserta KKN.

oleh Mahasiswa KKN Unand. (Foto : Dok KKN.)
Di Desa Kubang Tangah, mereka mengadakan serangkaian kegiatan edukatif yang melibatkan langsung para petani dan peternak serta masyarakat umum dengan dukungan utama dari pemerintahan desa. Kegiatan tersebut meliputi;
1. Sosialisasi dan Penyuluhan K3
Dilakukan dalam bentuk pertemuan di balai desa, di mana warga diberikan pemahaman dasar tentang pentingnya K3.
Disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, disertai contoh kasus nyata.
2. Pelatihan Penggunaan APD
Demonstrasi langsung cara menggunakan masker, sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung mata saat menyemprot pestisida atau mengelola kandang.
Penjelasan tentang pentingnya menjaga kebersihan diri setelah bekerja.
3. Penerapan Praktik Higienis di Kandang
Edukasi tentang pengelolaan limbah ternak, pengapuran kandang, dan rotasi pembersihan untuk mencegah infeksi dan penyebaran penyakit.
4. Simulasi Penanganan Kecelakaan Kerja
Pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan kerja ringan, seperti luka gores, luka tusuk, atau terpeleset di lahan pertanian.
Respons Positif dari Masyarakat
Antusiasme warga Kubang Tangah sangat tinggi. Para petani dan peternak yang awalnya merasa asing dengan istilah “K3”, perlahan mulai memahami pentingnya melindungi diri saat bekerja. Mereka mengaku sering mengabaikan rasa sakit atau luka karena menganggap itu bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Setelah mengikuti penyuluhan, beberapa warga mulai menerapkan perubahan kecil namun berarti. Seorang petani setempat, Pak Ramli, mengaku kini selalu menggunakan masker dan sarung tangan saat menyemprot tanaman. Ia pun mulai menyimpan pestisida di tempat yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak.

Sementara itu, Bu Sari, seorang peternak sapi, mulai rutin membersihkan kandang dan menyiapkan area khusus untuk mencuci tangan setelah memberi makan hewan. “Awalnya saya kira ini cuma gaya-gayaan kota, tapi ternyata memang penting buat kesehatan,” ujarnya.
Kendala di Lapangan: Minimnya Fasilitas dan Biaya
Meski semangat warga tinggi, masih banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu yang utama adalah keterbatasan fasilitas dan biaya. Banyak petani dan peternak yang tidak mampu membeli APD standar karena harganya yang dianggap mahal. Di sinilah mahasiswa KKN mencoba memberikan solusi kreatif dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar.
Selain itu, masih dibutuhkan peran aktif dari pemerintah daerah dan dinas terkait untuk mendukung keberlanjutan program ini. Penyuluhan rutin, bantuan alat pelindung, serta pelatihan lanjutan bisa menjadi investasi penting dalam menjaga kesehatan dan produktivitas petani-peternak.
Pentingnya Sinergi: Kampus, Masyarakat, dan Pemerintah
KKN Unand di Kubang Tangah menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara kampus, masyarakat, dan pemerintah bisa menciptakan perubahan positif di akar rumput. Mahasiswa membawa semangat dan ilmu, masyarakat menyediakan pengalaman dan kebutuhan riil, sementara pemerintah diharapkan memberikan dukungan struktural dan kebijakan.
Program seperti ini bukan hanya tentang kegiatan 1-2 bulan, tetapi tentang membangun kesadaran jangka panjang. Keselamatan kerja bukanlah hal mewah, melainkan hak dasar setiap pekerja -termasuk mereka yang bekerja di ladang dan kandang.
Harapan ke Depan
Setelah KKN berakhir, harapannya edukasi K3 tidak berhenti begitu saja. Diperlukan penguatan melalui tokoh masyarakat, kelompok tani, dan kader desa yang dapat meneruskan pesan-pesan penting ini. Program pelatihan dapat dijadikan agenda rutin di desa dengan melibatkan instansi kesehatan dan penyuluh pertanian.
Selain itu, di tingkat universitas, program KKN dengan fokus pada K3 bisa diperluas ke desa-desa lain di Sumatera Barat. Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran besar dalam menyebarkan pengetahuan dan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan kerja di sektor informal.
Keselamatan dan kesehatan kerja bukanlah milik pekerja industri saja. Di desa-desa seperti Kubang Tangah, para petani dan peternak juga layak mendapatkan perlindungan yang sama. KKN Unand berhasil membuka mata banyak orang bahwa bekerja dengan aman bukan hanya membuat produktivitas meningkat, tetapi juga menjaga nyawa dan masa depan keluarga.
Melalui edukasi, pelatihan, dan pendekatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, program ini memberikan dampak yang nyata. Semoga apa yang dimulai di Desa Kubang Tangah dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, dan menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. *)























