
Oleh: Muhammad Najmi
“Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.” (HR. Tirmidzi)
SUBUH adalah waktu ketika bumi berbenah. Embun menetes perlahan, menyejukkan dedaunan yang semalaman berselimut gelap. Di waktu yang hening ini, seolah Allah membisikkan pesan cinta kepada hamba-hamba-Nya: Bersegeralah menebar kebaikan sebelum matahari meninggi.
Sedekah adalah bahasa kasih yang hanya bisa dipahami oleh hati yang lembut. Ia bukan sekadar perpindahan harta dari tangan ke tangan, tetapi tetesan kebaikan yang mengalir, meresap, dan menumbuhkan cinta di pelataran hati. Dalam setiap rupiah yang disedekahkan, ada butiran kasih yang tak kasat mata, menghubungkan hati si pemberi dan si penerima dalam simpul ukhuwah yang tak terputus.
Rasulullah bersabda:
“Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Harta yang kita sedekahkan mungkin tampak kecil di mata manusia, tetapi di sisi Allah, setiap tetesan kebaikan itu menjadi cahaya yang menerangi jalan kita di dunia dan akhirat. Bahkan hanya dengan senyuman yang tulus, kita telah menanam benih cinta di hati sesama.
Ada yang sedekahnya berupa harta…
Ada yang sedekahnya berupa tenaga…
Ada pula yang sedekahnya hanya berupa doa dalam senyap…
Namun semuanya bermuara pada satu hal: cinta kepada sesama karena Allah.
Sedekah adalah bentuk cinta yang tak menuntut balasan. Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Sedekah yang paling indah adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, hanya Allah yang menjadi saksi. Karena dalam keikhlasan itulah, cinta pada sesama tumbuh tanpa syarat, tanpa pamrih.
Hati yang gemar bersedekah akan selalu dipenuhi ketenangan. Dalam rezekinya ada hak orang lain. Dalam tangis orang yang dibantunya, ada kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan apapun. Allah berjanji, setiap yang disedekahkan di jalan-Nya akan berlipat ganda, seperti benih yang ditanam di tanah subur, tumbuh menjadi pohon besar yang meneduhkan banyak jiwa.
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Betapa indah jika dunia ini dipenuhi orang-orang yang ringan tangan dalam bersedekah. Tak ada lagi kelaparan yang menyiksa…
Tak ada lagi air mata yang dibiarkan mengering…
Tak ada lagi hati yang sekarat dalam kesepian…
Sedekah adalah kunci kebersamaan. Ia menyatukan yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang papa, yang berlebih dengan yang kekurangan. Di tengah zaman yang semakin individualistis, sedekah hadir sebagai oase yang menyejukkan, menegaskan bahwa masih ada cinta di antara kita.
Mari jadikan sedekah sebagai bahasa cinta kita kepada sesama. Tak perlu menunggu kaya, tak perlu menunggu lapang. Berikan apa yang ada, walau hanya sepotong roti atau sekulum senyum. Sebab, mungkin saja apa yang menurut kita kecil, menjadi sangat besar di mata Allah dan menjadi penyelamat kita di akhirat kelak.
Setiap tetesan kebaikan akan menumbuhkan bunga cinta…
Setiap uluran tangan akan meluruhkan kesedihan…
Setiap rupiah yang disedekahkan akan melangitkan doa-doa yang tak pernah kita duga…
Ya Allah…
Lembutkan hati kami agar ringan dalam memberi…
Lapangkan rezeki kami agar semakin banyak tangan yang bisa kami sentuh…
Dan tumbuhkan cinta di hati kami melalui kebaikan yang kami tebarkan…
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin…
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya… (QS. Al-Baqarah: 177)
Mari kita tebarkan tetesan kebaikan, agar cinta semakin merekah di pelataran hati.*)























