
Oleh: Patria Subuh
(Pengamat Sosial)
TREN global saat ini – kalau boleh dikatakan hampir di seluruh dunia – mengarah pada pemanfaatan perdagangan dan perbankan melalui transaksi secara digital melalui internet. Transaksi jual beli cukup hanya dilakukan secara virtual (daring – dalam jaringan) melalui perangkat lunak yang bersifat B2B (Bussines to Bussiness) atau B2C (Bussiness to Consumers).
Pembayaran dilakukan secara digital tanpa harus kenal dengan orang yang terlibat di dalamnya. Penggunaan ekspedisi barang juga meluas mengikuti kecenderungan konsumen melakukan pembelian jarak jauh secara digital,
Banyak transaksi dilakukan tanpa harus berhadap-hadapan antara pembeli dan penjual atau tanpa harus melihat langsung barang yang diperjualbelikan melalui platform digital tertentu. Transaksi dilakukan berdasarkan kepercayaan secara ‘daring’ yang terjamin keamanannya hanya dengan melihat foto/video barang dan spesifikasi teknisnya saja.
Bagi orang awam yang belum mengenal internet, solusi jual beli dalam suatu perdagangan virtual yang berkarakter digital seperti ilustrasi di atas sungguh mencengangkan. Tak terbayangkan bagaimana seseorang dapat membeli barang/produk secara ‘jarak jauh’ bahkan antar pulau hanya dengan memencet-mencet tombol gadget/HP dari rumahnya dan beberapa hari kemudian barang pesanan tiba di rumah.
Dengan menggunakan ‘aplikasi’ tertentu – orangtua bahkan dapat membayar uang kuliah anaknya yang belajar jauh di seberang secara daring tanpa repot harus datang langsung ke loket pembayaran di kampus. Pembayaran cukup dilakukan secara ‘online’ saja melalui perintah transfer langsung dari rekening bank yang dimilikinya.
Penggunaan internet yang meluas ke seluruh penjuru dunia sesungguhnya tak dapat dilepaskan dari kontribusi Leonard Kleinrock (lahir 13 juni 1934) yang disebut sebagai Bapa Internet, yang terlibat dalam pengembangan proyek ARPANET(Advanced Research Projects Agency Network) bersama Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Ia merupakan seorang profesor ilmu komputer dari UCLA (University of California at Los Angeles). Pada tanggal 29 Oktober 1969 ia menciptakan salah satu penemuan terbesar dalam abad modern-yang keajaibannya berhasil memukau ratusan juta manusia dari berbagai bangsa.
Sejak saat itu, internet ‘menyihir’ berbagai macam tipe manusia mulai dari anak-anak, orang dewasa, ibu rumahtangga, pekerja kantoran, pedagang, agamawan bahkan profesor di universitas. Secara pukul rata, hampir seluruh siswa, mahasiswa dan pekerja kantoran di kota-kota besar, tidak mau dikatakan ‘kurang terpelajar’ karena tidak memiliki HP untuk berlangganan internet. Mereka merasa turun gengsinya kalau ke mana-mana tidak membawa HP yang hampir menyerupai simbol dari status sosial seseorang.
Kepemilikan HP sebagai media untuk penggunaan internet meluas hampir diseluruh dunia, mulai dari keluarga miskin sampai keluarga kaya menganggap wajib memiliki barang yang satu ini. Banyak orang yang merasa minder dan tersisih dalam pergaulan kalau tidak memiliki alat komunikasi ini. Dewasa ini, popularitas HP bahkan mengalahkan penggunaan notebook dan TV digital.
Pemanfaatan internet pada hampir seluruh opsi kehidupan kemudian menimbulkan kebutuhan yang signifikan terhadap program berbasis IT (Information Technology). Pengguna HP yang umumnya berlatar belakang dosen, guru, mahasiswa dan pekerja profesional yang sibuk serta terbatas waktunya, membutuhkan program yang lebih spesifik seperti : program belajar-mengajar siswa, belanja daring, pembayaran rekening air-listrik-pulsa, pembayaran pajak, pengobatan klinik/rumah sakit, bahasa asing, keuangan, bank, dan lain sebagainya.
Gejala di atas membuat bermunculannya perusahaan – perusahan rintisan baru berjulukan ‘startup’ seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Sebagian sukses menjadi perusahan level ‘unicorn’ seperti ruang guru, gojek, Halodoc, traveloka, alibaba, lazada, Shopee, Tokopedia dan-lain-lain. Perusahan startup ini bervariasi dalam berbagai bidang, seperti : E-commerce, travel, pendidikan, kesehatan, gaming, ekonomi, properti, pertanian, kelautan, dan lain-lain.
Fenomena penggunaan dan pemanfaatan internet yang menggejala hampir pada semua ‘lini kehidupan’ merupakan suatu hal patut dihargai. Siapapun yang mengabaikan hal ini dipastikan akan segera terkucil dari perkembangan dunia yang semakin modern, rumit dan mengglobal.
Namun satu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa konsekuensi penggunaan internet yang massif seperti saat ini juga memiliki sisi negatif yang dapat merusak generasi bangsa. (Eri#43)
























