
Oleh: Riri Satria
(Penyair/Pakar Ekonomi Digital/Dosen UI)
SELAMA sekitar 30 menit menyimak obrolan santai namun bernas dari Uda Ery Mefri, sang maestro tari dari Sumatera Barat, di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang.
Ada beberapa catatan menarik:
“Kalau namanya seniman, harus ada karya, apapun bidang keseniannya. Dengan karya, seorang seniman akan diakui eksistensinya. Apalagi kalau karya itu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, lokal, nasional, atau internasional, akan semakin lengkap eksistensinya. Jadi, seniman itu harus menghasilkan karya seni, tentu saja yang berkualitas”.
“Kalau saya mengajarkan tari kepada anak didik, saya tidak ingin mereka menjadi fotokopi dari seorang Ery Mefri. Saya mengajarkan gerak tertentu, namun mereka harus melakukan improvisasi dengan karekter mereka sendiri. Saya mengajarkan, namun mereka mengembangkannya sendiri. Jangan menjadi fotokopi diri saya. Guru itu mengajarkan, mendidik, menginspirasi. Anak didik mengembangkan dengan kemampuan dan karakter mereka sendiri-sendiri. Kalau bahasanya Riri tadi, harus sampai kreasi pada high order thinking skills (HOTS), bukan hanya meniru atau sebatas low order thinking skills (LOTS)“.
“Buat saya, belajar itu adalah menyimak dengan baik. Ketika kecil, saya sering duduk di pangkuan ayah yang juga seorang guru tari. Ayah memainkan gendang dan saya menyaksikan para penari, sampai saya tertidur di pangkuan ayah. Itu semua masuk ke alam pikiran dan rasa saya. Telinga saya menyimak suara gendang, mata saya menyimak para penari, dan itu terbawa ke alam tidur saya. Itulah makna menyimak buat saya, belajar sampai menghayati dengan baik.”
“Saya tidak percaya dengan yang namanya jalan pintas. Semuanya harus berproses dan bahkan ‘penuh darah dan air mata’. Mendidik seorang penari dari awal sampai bisa, setidaknya membutuhkan waktu dua tahun. Itu pun belum tingkat lanjut. Saya pun berproses dulunya dan jalan yang ditempuh itu tidak mudah sehingga sampai pada kondisi sekarang. Kalau orang melihat Ery Mefri saat ini melanglang buana ke berbagai negara mementaskan tari, itu adalah buah dari proses panjang tersebut. Jadi saya tidak percaya dengan jalan pintas untuk sebuah pencapaian yang baik”.
“Setiap kita harus menciptakan kesempatan atau peluang sendiri. Jangan menggantungkan semua kepada pihak lain. Kembangkanlah kompetensi, kapasitas, pertemanan, jejaring, tetap jaga kepercayaan, tetap menjaga mutu karya, Insya Allah semua kesempatan itu akan datang”.
****
Ery Mefri lahir 23 Juni 1958, adalah seorang koreografer tari asal Indonesia. Ia merupakan pimpinan kelompok tari Nan Jombang Dance Company. Dalam berkarya, ia banyak mengolah unsur-unsur tari tradisional Minangkabau.
Ia dikenal sebagai koreografer yang suka melakukan pencarian ekspresi baru dalam setiap karyanya. Salah satu ciri khas yang muncul dalam setiap pementasan karyanya adalah tidak menggunakan iringan musik atau instrumen khusus. Para penari sendirilah yang menciptakan musik melalui nyanyian, tepukan tangan, pukulan ke anggota tubuh, atau tabuhan pada kain celana galembong.
Berkat ketekunannya dalam mengkreasikan tari Minang kontemporer, Ery Mefri sudah beberapa kali tampil di festival tari dunia, antara lain di Singapura, Essen, Mülheim an der Ruhr, Tokyo, Berlin, London, dan lainnya. *)
























