
Oleh: Zulkifli Surahamdani
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas)
PESTA RAKYAT 2024 di tahun depan menjadi panggung para generasi muda dalam menentukan pilihan siapa yang diberi kepercayaan menjadi nahkoda kapal yang bernama Republik Indonesia.
Ibarat kapal, calon presiden merupakan calon nahkoda kapal yang akan membawa kapal dan penumpang nantinya. Oleh karena itu, anak muda diharapkan berperan penting dalam pemilihan agar kapal dapat berlayar dengan baik.
Pemilu 2024 akan dilaksanakan tidak lama lagi, yaitu pada 14 Februari 2024 melalui Pemilihan Umum serentak.
Pemilu 2024 terdiri dari Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Secara bersamaan dilaksanakan pula pemilihan Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029. Nama-nama calon presiden tahun 2024 pun sudah banyak terpublikasi di media
Suara anak muda mendominasi pada pemilihan kali ini. CNN Indonesia menyebut bahwa jumlah pemilih muda pada Pemilu 2024 diproyeksikan mencapai hampir 60%.
Dalam kontestasi pemilu mendatang berpotensi diwarnai dengan black campaign atau kampanye hitam dan penyebaran hoaks.
Karena itulah, sebagai anak muda mampu menjadi pemilih cerdas terlebih jika melihat atau membaca informasi yang tersebar dan memastikan informasi informasi tersebut bersumber dari lembaga yang terpercaya.
Setiap pemilu kita disuguhkan dengan elektabilitas dari berbagai banyak hasil lembaga survei nasional. Melihat pemimpin tidak hanya berpatok pada elektabilitas semata, tetapi harus memperhatikan intelektabilitas dari masing-masing pasangan calon (paslon).
Intelektabilitas mengenai tingkat kecerdasan, berhubungan juga pengetahuan tentang dunia dan kekuatan mengingat yang baik.
Penting memahami kualitas calon pemimpin. Dimana calon pemimpin harus memiliki integritas yang tinggi, pengalaman memimpin, dan rekam jejak dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Kemampuan dalam memimpin, memecahkan masalah, dan berkomunikasi dengan baik menjadi pertimbangan utama dalam menjadi pemilih yang bijak.
Akan tetapi, saat ini kita melihat banyaknya generasi muda sebagi pemilih yang sebagian besar dari mereka ialah pemilih pemula yang masih awam terhadap pemilu. Maka perlu diarahkan untuk mengenali calon yang akan dipilihnya nanti. Cara yang dapat dilakukan ialah melalui pendekatan media sosial yang sangat akrab dengan generasi muda.
Sebagai calon pemilih juga harus melibatkan diri secara aktif dalam mempelajari calon presiden. Informasi tentang rekam jejak, program, dan visi calon harus diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya dan diverifikasi. Diskusi terbuka, debat, dan kampanye politik yang adil juga harus didukung, sehingga rakyat memiliki akses yang lebih baik dalam membuat keputusan yang tepat.
Generasi sekarang yang dikenal lebih melek teknologi informasi diharapkan mampu menggali informasi dari masing masing calon presiden, selain itu tahu bagaimana karakter pemimpin, visi, misi, dan lainnya.
Pendekatan yang dapat dilakukan pada tingkat sekolah yang paling penting adalah melalui pendidikan politik atau pendidikan pemilih pemula agar jangan sampai anak-anak nantinya acuh terhadap pelaksanaan politik bangsa ini.
Di lingkungan kampus dapat dilakukan dengan menghadirkan capres dan cawapres untuk memaparkan visi dan misi mengenai topik topik dasar yaitu ekonomi, pendidikan, hukum, energi dan lingkungan.
Kegiatan ini juga akan membedah visi misi yang akan memberikan informasi tentang kelebihan dan kekurangan program yang mereka usung dan ini merupakan rangkaian pendidian politik.
Selain mengadakan diskusi politik, juga menghadirkan beragam kegiatan seru dan edukatif bagi para mahasiswa. seperti political roadshow, jajak pendapat atau talkshow. Anak muda diharapkan dapat memikirkan lebih matang terkait hak suara yang dimiliki, karena hal itu sangat berpengaruh pada masa depan bangsa Indonesia. Bisa mencerdaskan diri dan bisa menilai masing-masing calon secara objektif. Dengan begitu, mahasiswa dapat memilih pemimpin yang tepat untuk lima tahun ke depan.
Lima menit di bilik suara akan menentukan nasib Indonesia selama lima tahun ke depan. Karena itulah, generasi muda harus benar-benar mengetahui sosok pemimpin yang akan dipilih.*)























