• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, Juni 4, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Tingkuluak dan Makna Kekuatan Hati Perempuan Minang

10 Juni 2023
in Opini
Reading Time: 4min read
Views: 7,829
Perempuan Minang memakai tingkukuak. (Foto : Dok)

Oleh: Gusdiana Oktavia

KEKUATAN hati perempuan Minang dapat kita lihat dari simbol yang dari dahulunya ialah “tingkuluak tanduak”, yang mana di sini dapat kita ketahui tingkuluak ini adalah penutup kepala wanita, bentuknya yang menyerupai tanduk.

Jenis penutup kepala ini terbuat dari kain yang dibentuk selendang panjang, kemudian dibentuk menyerupai tanduk dengan dua sisi kiri dan kanan berbentuk lancip seperti tanduk kerbau.

Lihat Juga

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi

30 Mei 2026
16
Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

29 Mei 2026
24
Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64

Biasanya yang menggunakan tingkuluak ini ialah perempuan dalam pertunjukan tari adat, upacara adat, penyambutan tamu, dan pengiringan pengantin dalam acara pernikahan.

Kenapa dikatakan tingkuluak ini dilambangkan sebagai kekuatan hati perempuan? Karena mempunyai kemauan yang tinggi dalam mencapai sesuatu yang baik, gigih dan tidak pernah putus asa.

Makna filosofi dari tingkuluak yang menyerupai rumah gadang adalah bahwa perempuan si pemilik rumah gadang atau rumah bundo kanduang bagi kaumnya.

Pada ujung tingkuluak itu sendiri dibuat tumpul yang artinya bersifat berani, ramah tamah dan tidak ingin melukai hati orang lain.

Panjang tanduk atau kedua sisi pada tingkuluak harus sama, yang artinya seimbang bersifat adil sesuai kebutuhan dan kebaikan masyarakat.

Tingkuluak ini juga banyak macamnya, dan banyak namanya. Dapat kita lihat dari namanya, yaitu:

1. Tingkuluak Tanduak

Dinamakan tingkuluak tanduak  karena bentuknya yang menyerupai tanduk kerbau. Tingkuluak tanduak biasanya terbuat dari kain songket tenunan yang dikombinasikan dengan benang emas khas Minang .

Pada bagian belakang, tingkuluak tanduak ini biasanya diberi hiasan berupa kain yang terurai.

Tingkuluak ini dipakai dengan cara kain yang dibentuk menjadi selendang panjang yang kemudian di kreasikan menyerupai tanduk dengan dua sisi kiri dan kanan berbentuk lancip seperti tanduk kerbau.

2. Tingkuluak Balapak

Tingkuluak ini dinamakan tingkuluak balapak atau tingkuluak kambang balapak. Tingkuluak ini merupakan pakaian bundo kanduang yang biasanya digunakan ketika upacara perkawinan sunatan atau batagak panghulu.

Tingkuluak balapak menggunakan kain songket atau kain basahan hitam. Kain basahan hitam terbuat dari benang katun dengan warna dasar hitam dan hijau lumut, bidang kain kotak kotak kecil bagian ujung dan pinggir selendang dihiasi benang emas yang disungkitkan pada waktu menenun.

Tingkuluak ini berbentuk seperti gonjong atap rumah gadang persegi panjang. Pada bagian atas ujung kiri kain menutupi kedua ujung tanduk dan ujung sebelah kanan dibiarkan terurai

Cara mengenakan tingkuluak ini dengan terlebih dahulu membentuk tingkuluak tanduak, kemudian sisi ujung kanan selendang dilipat hingga menutupi tanduak tadi dan ujung kiri dibiarkan jatuh ke belakang untuk menutupi rambut.

Tingkuluak ini tidak hanya berfungsi hanya sebagai pakaian semata. Salah satu  contohnya tingkuluak balapak bundo kanduang di Nagari Sungayang Kabupaten Tanah Datar.

Tingkuluak balapak asal daerah tersebut melambangkan kebangsawanan, serta tidak bolehnya menjunjung beban yang berat. Minsia yang ditata berada pada bagian kanan menggambarkan bahwa demokrasi lebih diutamakan di kawasan kenagarian Sungayang, tetapi berbeda pada batas batas tertentu di lingkungan alur dan patut.

3. Tingkuluak Balenggek

Tingkuluak ini terdiri dari dua tingkuluak yang dibuat bertingkat yang terbuat dari kain balapak.

Di Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar, tingkuluak balenggek pada zaman dahulu hanya di pakai oleh kaum bangsawan atau keturunan penghulu, maka harus meminta izin atau membayar uang adat terlebih dahulu kepada penghulunya.

Cara mengenakannya yaitu pada lapisan bawah kain dibentuk seperti tingkuluak tanduak. Lalu pada bagian atas yang terbuat dari kayu ringan dililit degan kain yang yang diberi pinggiran dan di hiasi berbagai ukiran berwarna keemasan.

4. Tingkuluak Sapik Udang

Tingkuluak sapik udang ini berasal dari Padang Magek, Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar. Dinamakan sapik udang karena menggunakan kain sarung sapik udang yang di tenun dengan motif kotak-kotak kecil warna hitam . Kain sarung tadi dipadukan dengan sehelai mukena .

Cara menggunakannya yaitu; kain sarung dilipat dua memanjang dan mukena atau yang dikenal dengan nama talakuang di Minangkabau dilipat empat, lalu diposisikan mukena berada di dalam kain sarung, namun salah satu ujung mukena ditarik sehingga terlihat keluar.

Kemudian sisi kain degan mukena tadi diletakkan di kepala sebelah kiri dan bagian kanan di bentuk menjadi tanduk dengan memutarkan ujungnya ke belakang kepala sehingga melilit ujung kiri. Ujung kiri dibuat seperti menyerupai bunga kecubung sedangkan ujung kanan menjadi tanduk.

Selain untuk menutup kepala, tingkuluak ini juga sebagai cara membawa kelengkapan salat. Begitu masuk waktu salat tingkuluak tersebut dapat di fungsikan menjadi kelengkapan salat menutup aurat.

5. Tingkuluak Talakuang

Tingkuluak talakuang atau batilakuang umumnya di gunakan dalam keseharian perempuan di Batipuah, Kabupaten Tanah Datar. Tingkuluak ini juga di gunakan degan baju kuruang dan kodek kain batik saat kegiatan mamanggia atau mengundang orang lain untuk pada hajatan.

Cara mengenakan tingkuluak jenis ini yaitu; terlebih memasang samiri atau salambiri yang terbuat dari kain katun berbentuk persegi empat. Kain ini dilipat seperti memasang tingkuluak sapik udang.

Pada lapisan kedua dibentuk yang sama menggunakan kain beludru berwarna hitam. Tingkuluak ini juga dihiasi dengan loyang yang berbentuk wajik bunga dan sebagainya.

6. Tingkuluak Koto Gadang

Tingkuluak Koto Gadang biasanya digunakan pengantin wanita di Koto Gadang saat acara pernikahan. Terbuat dari kain beludru berwarna merah atau ungu tua, berbentuk persegi panjang. Pinggiran kain dihiasi dengan minise atau renda yang berwana keemasan. Permukaan kain dihiasi taburan loyang bermotif bunga, bintang dan sebagainya.

Itulah tadi beberapa nama nama tingkuluak di Minangkabau dan juga filosofi yang tersurat dalam artian tingkuluak. *)

Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)

 

Gusdiana Oktavia, Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

 

ShareTweetSendShare
Previous Post

Guru SMAN 2 Sikakap Deri Andespa Sukses Gagas Ujian Sekolah Berbasis Android

Next Post

Buya Aldi Taher for Gubernur Sumbar 2024

BeritaTerkait

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi
Opini

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi

30 Mei 2026
16
Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras
Opini

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

29 Mei 2026
24
Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan
Opini

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing
Opini

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
39
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan
Opini

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
107
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman
Opini

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
118
Next Post
Buya Aldi Taher for Gubernur Sumbar 2024

Buya Aldi Taher for Gubernur Sumbar 2024

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,514)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,434)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,697)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,417)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,831)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,329)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,779)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,438)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,084)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,181)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
172
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
355
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
500
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
237
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
119
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
152
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
134
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
194
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
128

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In