
Oleh: Hendri Pratama
DIKUTIP dari salah satu pendapat para ahli yang bernama A.A Navis di dalam bukunya (1986:229) beliau berpendapat bahwa kesusastraan di Minangkabau banyak sekali mengandung ungkapan-ungkapan yang penuh kata kiasan, sindiran, perempumaan, pepatah-petitih l, mamangan serta banyak hal lainnya yang berhubungan dengan ungkapan yang berada di Minangkabau ini.
Semua kesusastraan yang ada di Minangkabau ini, melalui alih bahasa dikelompokkan sebagai peribahasa.
Pribahasa merupakan salah satu dari jenis banyaknya karya sastra yang ada yang paling tinggi maknanya, manfaatnya, serta berguna sebagai pegangan hidup di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau ialah pepatah-petitih.
Pepatah-petitih yang ada di Minangkabau ini selain sebagai pegangan hidup bagi masyarakat Minangkabau, pepatah-petitih tersebut juga merupakan sebuah warisan aset budaya Minangkabau yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Kata yang digunakan di dalam pepatah-petitih Minangkabau ialah kata yang mengandung makna kiasan, perumpamaan, serta pembanding yang mengandung makna tertentu.
Pepatah-petitih Minangkabau, adakalanya diungkapkan dalam kalimat pendek dan ada juga yang berbentuk pantun.
Kalimat di dalam pepatah-petitih Minangkabau dibagi menjadi dua buah kalimat. Kalimat pertama sebenarnya sudah selesai, tetapi ditemani oleh kalimat kedua yang berfungsi sebagai penyempurnaan, sehingga kedua bagian kalimat tersebut menjadi kalimat yang utuh ( A.A Navis, 1986:256).
Di Minangkabau ini ada banyak ribuan pepatah-petitih, yang penulis bahasa kali ini adalah pepatah-petitih Minangkabau yang berjudul “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh”.
Sebelum membahas tentang makna pepatah tersebut secara keseluruhan adakalanya penulis terlebih dahulu menjelaskan makna satu persatu dari kosa kata pepatah Minangkabau tersebut.
Gabak sama artinya dengan hitam, gelap atau awan yang warnanya gelap mengandung hujan.
Selanjutnya kata ulu artinya adalah bagian atas atau ujung pangkal atau didalam bahasa Minangkabau bermakna sebagai (batang aia dan pisau).
Disini yang dimaksud dengan “gabak di ulu“ ialah awan hitam yang terlihat di arah pangkal sungai. Biasanya terlihat di daerah dataran tinggi (perbukitan).
Selanjutnya ada kata “ujan” yang berarti menyatakan bahwa akan terjadinya tanda turunnya hujan.
Selanjutnya ada kata “cewang”, berlawanan dengan kata “gabak”. Cewang ini merupakan awan tipis, halus, putih dan berbentuk garis bebaris. Awan ini sering terlihat memerah atau menguning dikarenakan pantulan cahaya matahari ketika terbit di pagi hari dan terbenam di senja hari. Cewang ini jika terlihat dilangit diartikan tanda sebagai hari cerah atau (paneh ) di dalam bahasa Minangkabau.
Paneh memiliki makna bahwan kondisi cuaca ketika matahari tidak tertutup awan sehingga panasnya sampai ke bumi, dan udaranya pun menjadi hangat.
Dari pepatah-petitih “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh”, dapat diartikan bahwa jika terlihat awan gelap di ulu itu tandanya akan turun hujan, sebaliknya jika awan cerah memantulkan cahaya merah atau kekuningan menjelang matahari terbit dan terbenam tandanya cuaca sedang panas.
Dibalik hal tersebut, ada ilmu yang bisa kita dapatkan yaitu ilmu membaca tanda dari alam. Orang Minangkabau menjadikan alam sebagai tempat belajar atau berguru sebagaiman disebutkan pula didalam falsafah minangkabau yang berbunyi “alam takambang jadi guru”. Maksudnya ialah apa yan ada di alam itulah yang menjadi perhatian serta pelajaran yang dijadikan sebagai pegangan dan pedoman hidup.
Begitu juga ketika melihat awan di langit yang dapat dijadikan tanda cuaca sedang hangat atau tanda turunnya hujan.
Selanjutnya ketika manusia sudah terbiasa membaca tanda dari alam maka, manusia harus bisa pula menyiapkan diri, bersiap jika hujan turun dan bersiap juga ketika cuaca panas datang. Untuk hasil yang ditanam maka hal ini juga dapat pula dijadikan sebagai pedoman yang mana ketika cuaca sedang panas panasnya bisa dimanfaatkan dengan menjemur hasil tanam-tanaman yang ditanam dan ketika hari hujan juga bermanfaat pada hasil yang kita tanam.
Membaca tanda dari alam, menyiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan datang itu merupakan bagian kecil dari manusia untuk bersyukur apa yang diciptakan Allah SWT. Alam di sediakan oleh Allah untuk manusia, maka dari itu manusia harus bisa menjaganya. Ketika alam tidak dijaga maka alam akan menjadi rusak. Rusaknya alam juga dapat menyebabkan banyaknya bencana yang datang. Seperti ketika hujan turun akan mendatangkan banjir, banjir bandang dan tanah longsor.
Hal tersebut sudah dijelaskan pula didalam ayat suci alquran surah ar rum ayat 41. Ayat tersebut menjelaskan bahwa apa yang rusak yang terjadi di alam ini itu disebabkan oleh ulah tangan manusia.
Jadi dari pepatah- petitih “gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh” dapat diambil kesimpulan serta pegangan hidup yang dapat diambil, baik bagi penulis sendiri maupun yang lainnya, yang mana alam ini merupakan sebuah anugerah dan ciptaan Allah SWT yang diberikan kepada umat manusia, maka dari itu manusia harus bisa menjaga serta belajar dari alam jika alam itu sudah rusak dan menyababkan bencana pasti itu dikarenakan oleh ulah tangan manusia, maka dari itu kita sebagai umat manusia harus bisa menjaga dan melestarikan alam, karena alam merupakan kehidupan bagi kita semua. *)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand)























