
Oleh: Ravika Sari
TRADISI adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak. Tradisi dapat diartikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa lalu.
Kemudian, adat istiadat merupakan suatu perilaku atau kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun yang dilakukan secara berulang dan menjadi ciri khas dari suatu daerah. Sedangkan tradisi merupakan suatu warisan dari nenek moyang dan berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan yang memiliki fungsi tertentu.
Sekilas, adat istiadat dan tradisi seperti tidak ada bedanya. Memang, keduanya sedikit mirip jika dilihat berdasarkan pengertiannya. Adat istiadat berkaitan dengan perilaku, sedangkan tradisi berkaitan dengan suatu ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Keduanya sama-sama berhubungan dengan kebudayaan dan kepercayaan. Selain itu, adat istiadat dan tradisi juga lekat kaitannya dengan nilai-nilai historis. Oleh karena itu, masyarakat yang sadar akan pentingnya sejarah akan melestarikan warisan nenek moyang berupa tradisi dan adat istiadat tersebut.
Sekumpulan masyarakat yang memiliki adat istiadat dan tradisi yang sama disebut suku bangsa. Mengutip buku Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya oleh Pram (2013), pengertian suku bangsa adalah sekumpulan masyarakat yang berkumpul dengan sesama anggotanya yang umumnya diidentifikasi berdasarkan garis keturunan.
Suku bangsa adalah suatu unsur yang membedakan suatu golongan masyarakat dengan golongan masyarakat yang lain dalam sistem sosial. Ha-hal yang memengaruhi suku bangsa antara lain seperti tempat tinggal, budaya, dan garis keturunan.
Sekumpulan masyarakat yang memiliki adat istiadat dan tradisi yang sama disebut suku bangsa. Meskipun memiliki berbagai perbedaan dan ciri khas, setiap suku harus hidup rukun dan saling membantu tanpa membeda-bedakan golongan.
Batagak Kudo-kudo
Batagak Kudo-kudo ialah tradisi gotong royong dalam membangun rumah dalam masyarakat Padang Pariaman, Sumatra Barat. Tidak hanya untuk membangun rumah, Batagak Kudo-kudo dihelat untuk mendirikan rumah gadang, masjid, dan lainnya.
Menegakkan kuda-kuda, dalam pelaksanaannya upacara Batagak Kudo-kudo dimulai dari mufakat awal, mengundang, malam mambungkui, penyambutan tamu, laporan pembangunan, batagak kudo-kudo dan bajamba (makan bersama dalam suatu ruangan).
Para warga yang diundang biasanya sudah menyiapkan hadiah untuk tuan rumah berupa material bangunan atau bahkan sejumlah uang. Lepas itu baru masuk pada tahapan mufakat awal alias musyawarah.
Di sini tamu undangan akan membicarakan tata letak, ukuran, hingga waktu pengerjaan. Hasil dari musyawarah ini selanjutnya akan dilaporkan oleh penghulu suku
Masuk dalam tahapan berikutnya adalah maelo kayu atau proses menyiapkan bahan bangunan, seperti kayu. Pada waktu tertentu penebangan dan pemotongan kayu juga dilakukan secara bergotong royong.
Setelah merendam batang kayu ke dalam lumpur, parit atau bahkan dioleskan solar yang bertujuan untuk membuat kayu awet dan tahan dari serangan rayap, dimulailah prosesi mancatak tiang tui atau mengolah bahan bangunan untuk langsung didirikan (batagak tiang) diikuti dengan penyusunan batu bata dan pembangunan lainnya atau biasa dikenal dengan sebutan kudo kudo.
Tahapan terakhir dari upacara Batagak Kudo-kudo yang terakhir adalah menjamu para undangan sambil melaporkan hasil pembangunan dan dilanjutkan dengan berdoa bersama. Biasanya dalam sesi bertajuk bajamba ini tamu undangan akan disajikan beragam kuliner khas Padang Pariaman. Seperti gulai ayam, pangek ikan, samba campua-campua, gulai cubadak, dan lainnya.
Perlengkapan Wajib
Selain beberapa hal yang disiapkan di atas, ada beberapa perlengkapan yang wajib ada ketika upacara Batagak Kudo-kudo, yaitu pisang lidi satu tandan, carano atau tempat sirih, dua buah kelapa bertunas, daun kelapa muda yang dijalin, payung, serta memakai baju adat.
Keberadaan benda-benda ini memiliki filosofinya masing-masing. Seperti penggunaan baju adat diharapkan pemilik bisa selalu menjalankan dan paham dengan adat istiadat. Begitupun dengan pisang lidi satu tandan yang merupakan simbol persatuan.
Masyarakat akan diundang dalam kegiatan ini dan masyarakat yang diundang akan membawa atau mempersiapkan hadiah untuk tuan rumah. Hadiah yang akan diberikan biasanya berupa bahan-bahan material bangunan dan bisa juga dalam bentuk uang jika ia tidak bisa menghadiri acara tersebut atau ia sedang di perantauan.
Sebelum acara dimulai ada kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu mufakat awal. Mufakat akan dilakukan oleh orang yang sekaum yang membicarakan dimana letak rumah yang tepat untuk dibangun, ukurannya, serta kapan waktu acara atau pengerjaannya dilakukan.
Hasil dari mufakat tersebut akan disampaikan oleh penghulu suku, lalu penghulu suku akan menyampaikan kepada penghulu suku lainnya.
Selanjutnya maelo kayu merupakan mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan. Umumnya kayu-kayu, penebangan dan pemotongan akan dilakukan secara bergotong royong. Akan tetapi, pada saat ini tradisi itu telah mulai kian berkurang atau jarang sekali kita bisa menemukan kegiatan tersebut.
Kayu yang akan dijadikan tiang akan direndam terlebih dahulu di dalam lumpur, tapi ada juga yang merendam kayunya ke dalam parit dan dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun atau bisa juga kayu dioleskan dengan minyak solar dan kayu ditutup oleh terpal. Tujuannya supaya kayu tidak mudah lapuk atau dimakan oleh rayap.
Kemudian mancatak tiang tui, bahan-bahan bangunan yang sudah ada akan diolah oleh masyarakat atau para tukang untuk digunakan dalam Batagak Kudo-kudo tersebut. Batagak tiang atau menegakkan tiang-tiang secara gotong royong didirikan untuk menyangga rumah, setelah tiang-tiang ditegakkan maka para tukang akan mulai menyusun batu bata dan memulai pembangunannya atau biasa disebut dengan kudo-kudo. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























