Oleh : Patra Rina Dewi
//forumsumbar//
TAHUN lalu di awal pandemi, pemerintah daerah mengambil kebijakan untuk meniadakan pesantren Ramadhan, juga mengeluarkan himbauan untuk shalat berjemaah di rumah saja. Masjid jadi sepi. Hanya orang-orang yang jiwa raganya tak bisa dipisahkan dari masjid, tetap melaksanakan ibadah di masjid.
Bahkan sebagian masjid tetap melaksanakan shalat berjemaah dengan shaf rapat berdasarkan apa yang diyakini bersama antara pengurus dan jemaah bahwa shaf shalat harus rapat. Ketakutan akan dampak Covid-19 membuat masjid sepi, sangat sepi.
Berbeda dengan Ramadhan kali ini. Kerinduan untuk menunaikan shalat di masjid sudah tak bisa dibendung. Pun pemerintah daerah juga membolehkan berdasarkan banyak pertimbangan, baik dari MUI, dari Dinas Kesehatan dan OPD serta lembaga terkait. Kegairahan pesantren Ramadhan terlihat dimana-mana. Masjid terlihat semarak di bulan Ramadhan. Bulir mata haru tak bisa disembunyikan.
Madrasah utama anak adalah orang tua dan masjid memainkan fungsi untuk menguatkan madrasah utama tersebut. Jiwa-jiwa yang terpanggil untuk memakmurkan masjid hanyalah jiwa-jiwa yang terpilih.
Mereka melewati semua rasa takut duniawi karena dikalahkan oleh rasa takut akhirat. Takut tak punya bekal cukup menghadap Allah.
Para orang tua juga bahagia anak-anak dididik dalam pesantren Ramadhan karena mereka juga tidak bisa menjamin anak-anak mereka untuk tetap di rumah saja.
Mereka lebih khawatir jika anak-anak mereka melangkahkan kaki keluar dari lingkungan tempat tinggal, yang mungkin menyebab risiko keterpaparan Covid-19 menjadi lebih tinggi.
Yang terpenting adalah menjaga iman karena Allah sesuai prasangka hamba-hambaNya, kemudian menjaga imun dengan asupan makanan bergizi, istirahat yang cukup, berjemur di pagi hari dengan hati yang bahagia penuh syukur.
Lantas bagaimana dengan 3 M? Pentingkah? Sangat penting, semuanya berjalan beriringan melengkapi ikhtiar sesuai dengan perintah Allah untuk iqra’.
Selagi iman, imun dan segala ikhtiar pencegahan dan pemutusan rantai Covid-19 kita lakukan dengan sungguh-sungguh, Allah akan lindungi dan jaga kita.
Kepanikan yang berlebihan akan menjauhkan kita dari Allah.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(Al-Baqarah: 155) “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Semoga ujian ini semakin mendekatkan kita kepada Allah.
Wallahu a’lam
Penulis adalah Aktivis Kemanusiaan























