
“Antologi Puisi Papua”: Karya Rizal Tanjung
I.
Kami Pemilik Emas yang Lapar
Kami,
yang lahir dari rahim gunung,
menyusui cahaya dari lembah yang kalian cungkil.
Kami, pemilik emas yang lapar,
sementara perut kalian menggelembung
oleh janji-janji yang kalian karang.
Di sekolah kami diajari peta,
tapi tanah kami dihapus dari ingatan.
Katanya kami bagian dari merah putih—
namun merah kami tumpah di jalan,
dan putih kami dijahit menjadi kafan.
Helikopter kalian beterbangan
membawa harapan palsu,
sementara anak-anak kami
bermain perang-perangan
dengan bayang sendiri.
Kalian bangun bandara di atas tulang,
hotel-hotel di atas tangisan,
lalu menyebutnya pembangunan.
Pernahkah kalian minum air
dari sungai yang kalian racuni?
Pernahkah kalian dengar
doa ibu-ibu yang kehilangan anak
karena bermain layang-layang dekat pos militer?
Kami bukan hantu—
tapi kalian enggan melihat kami sebagai manusia.
Kami bukan gunung untuk kalian daki demi konten,
bukan tarian untuk kalian videokan demi likes.
Kami adalah suara yang kalian bungkam dengan data,
kisah yang kalian singkirkan dari kurikulum,
luka yang kalian balut dengan bendera
dan kalian kibarkan di tiang-tiang yang tak kami minta.
II.
Sungai yang Menangisi Tambang
Di atas pasir basah berkerikil kaca,
sungai kami mengalir—
menyusuri jeritan bor dan palu.
Airnya keruh,
penuh serpihan janji
bahwa “kemajuan” adalah hak semua bangsa.
Namun di lorong-lorong batu yang kalian belah,
air itu meneteskan air mata abu-abu,
membawa lumpur hitam
yang melekat di perut ikan,
mengubur mimpi anak-anak nelayan.
Kalian menyebut ini investasi masa depan,
sementara masa depan kami
terkubur di bawah puing tambang.
Ikan-ikan mati terdampar—
seperti saudara kami yang mati perlahan
di pohon-pohon yang kalian tebang,
di hati yang kalian hancurkan.
Sungai kami menangisi tambang.
Menangisi tubuh-tubuh
yang tenggelam dalam lumpur harapan,
riak-riaknya tak pernah sampai ke samudra—
tersandera dalam jerat kepentingan.
Bukankah air juga punya hak bersuara?
Biarkan sungai kami bicara,
sebelum air mata itu kering
oleh keheningan malam.
III.
Negara Berkaki Seribu di Tanah Kami
Mereka datang—
dengan sepatu hitam dan lencana,
berbicara tentang stabilitas
sambil mengokang senjata.
Negara hadir, katanya,
tapi wajahnya bertopeng,
dan suaranya peluru.
Ia berkaki seribu,
berbaris di jalan kampung,
menginjak ladang ubi,
menggiring ternak
ke senyap yang tak kembali.
Rumah kami dihitung dari udara,
dijumlah dalam laporan—
bukan sebagai tempat tidur
bagi mimpi dan air susu ibu.
Negara mengirim pamflet dari langit,
dan mortir dari balik kabut.
Negara membuka posko kasih,
namun di belakangnya
ada dapur yang memasak ketakutan.
Setiap pendeta ditanyai tentang bendera,
setiap siswa dipaksa menghafal nama jenderal,
dan setiap yang bertanya—
dicatat dalam buku gelap kekuasaan.
Kami tidak ingin revolusi—
hanya pagi yang tenang,
tanpa suara sepatu
yang mendekat seperti musim dingin
yang tak kami undang.
IV.
Instruksi yang Tertulis di Peluru
Di dusun kami,
peluru datang lebih dulu
daripada guru.
Ia membisikkan abjad lain:
A untuk “Awas,”
B untuk “Bunuh.”
Peluru itu bukan buta.
Ia membaca siapa yang boleh hidup,
dan siapa yang harus menjadi data.
Ada tinta negara di logamnya,
yang tak bisa dibersihkan oleh sungai
atau doa.
Instruksinya jelas:
Jika ia menunduk, awasi.
Jika ia bersuara, tandai.
Jika ia memekik, tembak.
Lalu bilang: kami hanya mengamankan situasi.
Kami membaca berita:
“Seorang remaja diduga provokator tewas tertembak…”
Tak disebutkan—
ia baru saja membeli pisang goreng.
Negara mengabarkan perdamaian
dengan mikrofon dari panser baja,
mengajar demokrasi
dengan rotan, gas air mata,
dan barikade logam.
Kami tahu:
sebuah peluru bukan hanya membunuh tubuh—
tapi juga kemungkinan,
bahasa,
dan musim semi dalam pikiran.
Dan jika sejarah bertanya:
siapa penulis tragedi ini?
Jangan bilang hanya prajurit.
Peluru itu membawa
tanda tangan banyak tangan.
V.
Kulitku Bukan Pemandangan Liburanmu
Kulitku bukan lukisan etnik di brosur wisata,
bukan motif eksotis yang kalian gantung
di galeri kota metropolitan.
Kulit ini menyimpan sejarah pelarian,
dan trauma yang disetrika
oleh kilatan kamera.
Kau datang dengan lensa panjang dan senyum lebar,
menganggap tifa kami musik latar,
dan tubuh kami kostum
untuk pesta kementerian.
“Wow, kalian otentik ya!”
katamu, sambil berswafoto
dengan anak kecil
yang belum tahu artinya dieksploitasi.
Lalu kau pulang, menulis caption:
#PapuaLiar #MemesonaTanpaFilter
Apakah kami taman safari
bagi kemalasan intelektualmu?
Apakah kami ornamen
untuk pidato pejabat yang lupa sejarah?
Kami menyanyikan duka di balik daun sagu,
bukan untukmu menari
tanpa mengerti artinya.
Kami mengenakan lukisan tubuh,
bukan untuk fashion mingguan,
tapi untuk perang dan doa—
yang kalian jadikan logo.
Jangan beri kami panggung
hanya untuk mematikan suara kami.
Jangan paksakan senyum kami
untuk brosur kalian.
Kami tak butuh kalian datang memotret penderitaan—
kami butuh kalian berhenti
menjadikannya latar belakang selfie.
VI.
Luka Jadi Atraksi Wisata
Turis datang ke kampung kami,
bukan untuk membeli hasil kebun,
bukan untuk membantu sekolah reyot,
tapi untuk memotret luka
yang belum sempat kering.
“Wah, real sekali ya,” katanya,
melihat anak kecil duduk di tanah,
makan nasi tanpa lauk,
menggaruk gigitan nyamuk
di kaki kurusnya.
Klik. Foto diambil.
Diunggah dengan tagar:
#PapuaAsli #BumiCendrawasih
Kami hanya diam—
terlalu sering dilihat
tanpa dianggap.
Luka kami eksotik.
Kemiskinan kami—indah
dalam bingkai filter Instagram.
Seorang artis datang membawa kru TV.
Ia menangis di depan kamera,
lalu memberi kardus mie instan
dan pergi dengan tepuk tangan.
Kami tak tahu—
apakah air matanya asli,
atau ingin trending sore itu.
Peneliti datang dengan drone,
mengukur rumah kami dari atas,
menghitung statistik kami
dalam proposalnya yang dijilid rapi.
Kami dijadikan catatan kaki
dalam jurnal luar negeri.
Oh dunia—
apa memesonanya luka kami bagimu?
Mengapa penderitaan lebih sering kalian potret
daripada kalian dengarkan?
Kami bukan museum penderitaan.
Kami bukan artefak sedih
untuk proyek kemanusiaan semu.
Kami ingin hidup—bukan ditonton.
VII.
Belanja dengan Nyawa
Kami para mama bawa noken,
isi dengan sayur dari kebun,
ubi dari tanah yang kami gali,
dan harapan yang ringan—
di atas debu pasar.
Tapi belanja tak lagi soal harga,
karena nyawa ikut ditimbang.
Tentara berjaga di ujung lapak.
Mata mereka—timbangan yang tak pernah adil.
Kami harus menunduk, bicara pelan—
seolah suara kami bisa dianggap makar.
Setiap hari bisa jadi hari terakhir,
bukan karena lapar,
tapi karena peluru
yang mengambang seperti nyamuk demam berdarah.
Pernah seorang mama
jatuh tertelungkup di depan tomat.
Katanya karena darah tinggi.
Tapi kami tahu:
karena tekanan yang tak kelihatan
tapi terasa setiap hari.
Pasar ini bukan sekadar tempat berdagang—
tapi medan perang tak bernama.
Kami tak punya senjata,
tapi kami punya kesabaran
yang dililit di kepala
seperti kain tua yang tak pernah diganti.
Kami tanya:
apa salah menjual pisang?
Apa dosa dari harga cabai yang kami teriakkan?
Tak ada jawaban.
Hanya suara sepatu,
dan mobil hitam berkaca gelap
yang datang dan pergi seperti mimpi buruk.
VIII.
Anak-Anak Bermain di Bayang Senapan
Di tanah ini,
anak-anak tak bermain petak umpet—
mereka bersembunyi sungguhan
dari letusan di kejauhan,
dari seragam yang datang seperti badai
dan pergi seperti kabut
dengan jejak darah.
Kami melihat bocah bermain:
“tentara dan separatis”
dengan ranting sebagai senapan,
batu sebagai granat.
Yang satu jatuh—pura-pura mati.
Yang satu berteriak:
“Beta tangkap kau atas nama negara!”
Kami menunduk,
tak tahu harus tertawa atau menangis.
Anak-anak ini belajar sejarah
bukan dari buku,
tapi dari trauma
yang mengendap dalam mimpi.
Mereka tumbuh tanpa rasa aman,
hanya kenal tiga warna:
hijau loreng, merah darah, dan hitam duka.
Apa yang bisa kami wariskan,
selain tanah yang terus diukur
tanpa kami,
dan masa depan yang ditulis
oleh tangan yang asing?
Mereka bukan separatis—
mereka hanya anak-anak.
Namun di negeri ini,
tawa pun bisa dianggap teror
jika datang dari kulit
yang terlalu gelap,
dan logat
yang terlalu timur.
IX.
Lelaki yang Tidak Pulang
Di kampung kami,
ada lelaki-lelaki
yang tak sempat pamit.
Mereka pergi suatu sore,
dipanggil seseorang
dengan mobil berkaca hitam,
dan tak pernah kembali—
seperti kabut
yang lupa pulang ke punggung gunung.
Istri mereka menunggu
dengan api nyaris padam,
anak-anak bertanya:
“Bapa ke mana?”
Kami tak bisa menjawab.
Di sini, pertanyaan adalah kemewahan,
dan jawaban bisa membuatmu ikut hilang.
Lelaki-lelaki itu
dulu petani, tukang kayu,
tukang batu, tukang doa—
biasa saja.
Tapi entah sejak kapan
mereka disebut “pengganggu stabilitas”,
padahal yang mereka ganggu cuma ilalang
yang tumbuh terlalu cepat
di ladang kosong.
Di malam hari kami dengar desas-desus:
mereka dikubur diam-diam,
dibuang ke hutan yang hanya anjing tahu,
atau dikirim jauh—
ke pulau yang peta pun malas menyebutnya.
Kami tulis nama mereka di tanah,
karena batu nisan terlalu mahal,
dan negara terlalu pelit memberi pengakuan.
Kami kirim doa dengan bisik,
karena menyebut nama mereka lantang
bisa jadi alasan untuk dicari.
Dan setiap ketukan di pintu,
jantung kami berdebar—
antara harapan dan ketakutan.
Di Papua,
pulang pun bisa jadi musuh negara.
X.
Kuburan Massal di Tengah Upacara Bendera
Di bawah merah putih yang gagah berkibar,
kami menggali lubang bersama—
bukan untuk menanam benih,
tapi untuk mengubur mulut
yang tak sempat bicara.
Pejabat berdiri rapi,
berpidato tentang persatuan dan pembangunan,
dengan senyum
yang diasah di ruang berpendingin,
jauh dari debu dan bau tanah.
Di tepi lapangan,
berbaris tubuh tanpa nama—
ditemukan oleh anjing liar dan angin malam.
Mereka yang tak sempat pulang,
dan cerita yang tak sempat tuntas.
Kami menggali dalam diam,
bersentuhan dengan tanah basah,
berharap kelak tumbuh keadilan,
bukan bunga plastik di meja kantor.
Bendera itu berkibar,
menutupi luka yang tak pernah sembuh,
menjadi tirai palsu
bagi mereka yang tak bersuara.
Apakah kemerdekaan hanya kata dalam pidato?
Apakah persatuan berarti membungkam yang berbeda?
Kami tahu jawabannya:
tertanam dalam kuburan massal
di balik sorak-sorai
dan parade upacara.
XI.
Nyanyian di Atas Lautan Api
Di atas lautan api
dan abu yang beterbangan,
mereka berdiri dengan mulut terbakar,
menyanyikan lagu-lagu
yang tak tercetak di peta.
Suara mereka bukan ratapan semata,
melainkan teriakan harapan
yang membelah malam,
seperti burung cenderawasih
yang menari dalam luka.
Mereka tahu:
setiap nada adalah perlawanan,
setiap bait adalah tanda hidup,
bahwa meski bumi dipijak gelap,
jiwa mereka tetap menyala terang.
Dalam setiap nyanyian,
ada doa yang mengalir dari tanah ke langit,
menghubungkan masa lalu yang terbungkam
dengan masa depan
yang mereka tulis sendiri.
Dan meski api membakar,
dan gelombang mencoba menenggelamkan,
mereka terus menyanyi—
karena hanya dengan suara
mereka tetap ada,
menolak untuk hilang.
XII.
Tangan yang Tidak Pernah Melepas
Di tengah reruntuhan dan abu,
tangan-tangan bertemu,
berpeluk dalam keheningan,
menguatkan yang nyaris runtuh.
Bukan sekadar genggaman,
tapi janji di kulit:
bahwa meski badai memisah,
kami tetap satu—
dalam luka, dalam tawa,
dalam harap dan doa.
Tangan-tangan itu
membangun kembali rumah yang terbakar,
mengumpulkan pecahan mimpi,
menulis ulang kisah
yang hampir hilang dari sejarah.
Mereka yang melihat
hanya kerusakan,
takkan pernah tahu
tentang tangan-tangan
yang menyulam harapan
di balik abu.
XIII.
Suara yang Tak Mati
Mereka mencoba membungkam kami,
menutup mulut dengan senyap,
tapi suara-suara itu tetap bergema—
mengalir di antara celah waktu,
menggetarkan fondasi keheningan.
Suara-suara itu bukan sekadar kata,
tapi darah yang mengalir di nadi tanah,
nyanyian yang menolak hilang,
meski diterpa angin penghapus.
Dari lembah hingga puncak tertinggi,
suara-suara itu berseru,
membangunkan hati yang beku.
Kami tak sunyi—
nyanyian kami adalah api abadi
yang terus menyala dalam gelap,
membakar putus asa,
membuka jalan untuk besok.
XIV.
Jejak-Jejak yang Tersisa
Mereka yang pergi
tak meninggalkan tubuh,
tapi jejak kaki mereka
terukir di tanah basah,
di sungai yang terus mengalir,
di daun-daun gugur
yang tak bersuara.
Jejak itu tak hilang
meski diguyur hujan peluru,
dibakar api kebencian.
Kami menapaki jejak itu,
langkah demi langkah,
menjadi jalan bagi yang akan datang.
Jejak itu adalah warisan,
dari yang mati dan yang masih berjalan—
dengan darah yang sama
dan harapan yang tak pernah padam.
XV.
Pelangi di Atas Reruntuhan
Setelah hujan merobek langit,
dan badai mengguncang bumi,
pelangi muncul malu-malu
di balik awan kelabu.
Pelangi itu bukan janji palsu—
ia isyarat langit
bahwa dari darah dan air mata,
masih ada warna tersisa.
Warna dari jerit yang tak padam,
dari doa yang tak dihiraukan,
mewarnai langit yang dulu gelap—
menjadi lambang harapan
yang terus menyala.
Kami akan terus menyanyi,
menyulam pelangi di atas reruntuhan,
karena kami percaya:
setiap luka akan sembuh,
dan setiap gelap
akan menemukan cahaya.
XVI.
Nyanyian Terakhir: Cahaya dari Tengah Kelam
Dalam kelam tanpa tepi,
di mana suara terjebak dalam kabut,
kami berdiri—bukan untuk menyerah,
tapi menyulam cahaya
dari serpihan harapan.
Kami adalah nyanyian yang terus bergema
di antara reruntuhan dan abu,
doa yang tak kehilangan arah,
jejak yang tak terhapus
meski dibungkam peluru dan diam.
Kami menari di atas luka,
mengubah darah jadi pelangi,
menyulam mimpi dari pasir
yang terus berjatuhan,
membangun rumah
dari puing-puing harapan.
Tangan-tangan menggenggam erat,
menguatkan yang hampir runtuh,
menemukan sinar
di balik kabut yang tebal.
Kami tahu,
jalan ini penuh duri dan belukar,
tapi langkah kami tak akan mundur,
karena di ujung gelap,
fajar menanti untuk kami sambut.
Nyanyian kami bukan hanya suara,
tapi nyala yang menerangi dunia,
menggugah kesadaran yang lama tertidur,
mengusir keheningan
dengan lagu perlawanan.
Kami berdiri bukan hanya untuk diri sendiri,
tapi untuk anak-anak yang masih bertanya,
untuk ibu-ibu yang tetap menunggu,
dan lelaki-lelaki
yang tak pernah pulang.
Suara kami mungkin bisikan di tengah badai,
tapi bisikan itu awal dari gelombang besar—
yang akan menghancurkan dinding penindasan.
Dan saat pelangi menari di atas reruntuhan,
saat cahaya mengalir dari tengah kelam,
kami akan terus menyanyi—
karena hanya dengan nyanyian,
kami hidup,
kami ada,
kami takkan pernah mati.
Sumatera Barat, 2025
























