
75 Tahun Sastrawan Prof Harris Effendi Thahar: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia)
/1/
Harris Effendi Thahar: Penjaga Cakrawala Kata
Oleh: Leni Marlina
(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar)
Di lembah yang diam,
suara bergema,
Gunung Singgalang berbisik pada awan:
“Lihatlah dia, penjaga aksara,
Mengukir semesta dari serpihan kenangan.”
Dari Tembilahan yang membangun mimpi,
Lampu minyak menyala, bayang-bayang menari,
Harris, anak malam, penjelajah sunyi,
Merangkai dunia di dalam selembar kertas putih.
Air Manis memahat legenda ombak,
Batang Arau melukis rindu di alirnya,
Namun engkau,
Bang Harris,
tak sekadar mencatat,
Engkau menggubah nyawa di setiap aksara.
“Si Padang,” cerita seruan tanah yang terlupa,
Menghantarkan kafilah pada bayang-bayang nilai,
“Rumah Ibu,” puisi yang tak pernah selesai,
Lagu hati yang teranyam di dinding cinta.
Kata-katamu seperti sungai yang tak pernah mati,
Mengalir ke lembah sunyi,
Menembus batas zaman,
Menjembatani yang purba dengan yang lahir.
Bang Harris,
Engkau bukan hanya penulis;
Engkau peziarah jiwa, pengukir makna,
Mendengar lirih langkah tradisi,
Menyerukan bisik leluhur yang hampir terlupa.
Tasmania-Australia mengenal namamu,
Di sana engkau menanam rumpun bahasa,
Mengajarkan dunia tentang cinta dan waktu,
Bahwa sastra adalah rumah yang tak mengenal dinding.
Bang Harris, engkau nyala di musim yang bisu,
Cahaya yang menjelma di lorong gelap kalbu,
Kekal bukan dalam abadi,
Melainkan dalam setiap nama yang kau bangkitkan.
Engkau seperti puisi itu sendiri:
Cair, berubah, tak terduga.
Seperti sungai yang
mengerti arah angin,
Engkau, Prof. Harris, adalah penjaga cakrawala kata.
“Selamat Ulang Tahun, Prof. Harris Efendi Thahar”
Padang, Sumbar,
4 Januari 2025
/2/
Harris Effendi Thahar: Menulis Dengan Pena dan Hati
Oleh: Leni Marlina
(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar)
Dari Tembilahan, di bawah arus angin senja yang berbisik pelan,
lahir engkau, anak bumi yang mengerti rindu akan tanah,
dari rumah yang mengharumkan aroma buku-buku tak terhitung,
dari malam yang sunyi,
penuh suara perdebatan yang mencipta bintang.
Engkau seperti sungai yang tidak pernah kelelahan,
mengalir tak terbendung, menulis kisah tanah yang terlupakan,
di setiap arusnya ada desah tradisi yang tak terganti,
menjadi puisi yang mendarah daging dalam jejak kehidupan.
“Si Padang”, karyamu yang tak hanya ada dalam cerita dan peta,
tersemat dalam jiwamu,
dalam tulis-tulisanmu yang menuntun,
tanah itu hidup kembali,
seperti waktu yang tak pernah lapuk,
meski dihantam badai modernitas.
Setelah 75 tahun besar di Ranah Minangkabau,
pena yang engkau genggam menjelma seperti suara dari mereka yang telah pergi,
suara para leluhur yang tak henti berbicara,
mencatat kisah-kisah yang tak terkatakan,
seperti rumah gadang yang tetap tegak meski masa terus berjalan.
Dalam setiap hurufmu,
ada ibu yang tak pernah kehilangan wajah,
ada tanah yang menuntunmu kembali,
seperti laut yang setia menjemput senja,
seperti fajar yang tak pernah lelah menyambut pagi.
Bang Harris,
engkau ibarat nyanyian yang terukir dalam waktu,
setiap kata adalah gema yang melintasi batas zaman,
menulis bukan hanya tentang kata,
melainkan hidup yang melompat di antara ruang dan waktu.
Kami tak sekadar membaca,
kami meresapinya,
kami tak hanya mendengar, kami menelusurinya,
dari tiap kalimat yang kau tulis,
kita menemukan wajah kita,
jiwa kita yang tak terungkapkan.
Jejakmu melampaui batas ruang,
engkau laksana jembatan yang menghubungkan sejarah dengan masa depan,
menghidupkan kembali cerita-cerita yang terlupakan,
dan menjadikan mereka saksi yang tetap hidup dalam tulisanmu.
Bang harris Effendi,
namamu mengalir seperti arus yang tak terhitung,
terukir di setiap waktu, membentuk riak-riak kehidupan,
membawa kisah yang tak pernah pudar,
menghidupkan negeri, menerangi jiwa yang haus akan kebenaran.
Prof. Harris Effendi Thahar,
setiap halaman yang engkau
buka bagaikan dunia yang terus bergerak,
seperti tanah yang subur, menyuburkan pohon-pohon ide,
karena engkau menulis bukan hanya dengan pena,
melainkan dengan hati, yang tidak pernah lelah untuk berbagi cerita dan karya.
Selamat Ulang Tahun, Prof. Harris Efendi Thahar
Padang, Sumbar,
4 Januari 2025
Catatan
Leni Marlina selain menjadi anggota aktif Komunitas Penulis Satu Pena Sumbar, ia juga anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Ia mengabdi sebagai dosen Departemen Bahasa Inggris FBS Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006.
Selain itu ia juga sudah mendirikan komunitas digital, sastra, digital sebagai berikut:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. Dll
























