
Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang): “Menghitung Langkah Rindu”
/1/
Menghitung Langkah Rindu
Oleh: Leni Marlina
ketika kau merindukan negeri asalmu,
kau hitung langkah rindu di jalan yang mengguratkan arang,
tapi jejakmu bukanlah bayangan.
ia adalah serbuk rindu
yang menempel di setiap sudut malam.
langit kota meminjam warna dari beton,
tidak seperti langit kampungmu,
yang meneteskan biru ke punggung sawah.
di sini, lampu-lampu bergetar
seperti doa yang lupa ayatnya.
kau berjalan,
membawa rindu yang tidak berbentuk,
seperti daun yang melayang tanpa musim.
Canberra, Australia, 2012
/2/
Senandung dari Tanah Jauh
Oleh: Leni Marlina
kau rindu senandung pagi di kampungmu,
di sini kau mendengar suara angin,
bukan angin yang bersiul,
tapi angin yang menyeret langkahmu
ke tanah di mana padi merunduk dalam diam.
apa kabar langit jingga di balik gunung?
masihkah burung-burung menyulam garisnya?
di sini, langit terlalu berkilauan,
seperti cermin retak
yang memantulkan kota yang asing.
kau ingin pulang,
tapi langkahmu tersesat
di jalan yang tidak lagi berbau tanah.
Canberra, Australia, 2012
/3/
Dialog dengan Rumah Lama
Oleh: Leni Marlina
rumah itu,
terlukis dalam debu dan daun-daun kering,
membuka pintunya dalam mimpimu.
“kau masih di sini,” katanya,
meski hanya sebagai bayangan
yang menempel di dinding yang retak.
dinding-dindingnya berbicara:
mereka mengingat tawa kecilmu
yang mengisi celah-celah waktu.
tapi sekarang,
kau berdiri di depan jendela yang dingin,
mencari sisa kehangatan
dalam kaca yang menolak memantulkanmu.
Canberra, Australia, 2012
/4/
Sepi di Dalam Koper
Oleh: Leni Marlina
pada sepotong senja yang merindu,
kau membuka koper itu,
dan rindu keluar seperti debu
yang telah lama terkunci.
baju-baju di dalamnya
masih membawa harum kampung,
tapi aromanya pudar,
tersedot oleh mesin kota.
di setiap lipatan kain,
terselip cerita yang kau lupa.
tanganmu gemetar,
bukan karena dingin,
tapi karena takut kehilangan
jejak pulang yang tersisa.
Canberra, Australia, 2012
/5/
Hujan yang Tak Pernah Pulang
Oleh: Leni Marlina
Ketika kau membayangkan kampung yang nun jauh di sana,
di sini, hujan jatuh seperti kerikil,
meninggalkan suara tajam di atas atap logam.
tidak seperti hujan di kampungmu,
yang turun lembut,
membisikkan doa ke daun-daun kelapa.
kau mencoba mengingat—
bunyi gemercik di sela-sela tanah merah,
bau lumpur yang menyatu dengan udara.
Tapi di sini,
hujan hanya mengingatkanmu
pada jarak yang semakin jauh.
Canberra, Australia, 2012
/6/
Surat untuk Ladang
Oleh: Leni Marlina
Ketika kau teringat ladangmu yang luas,
kau tulia di atas kertas yang lusuh,
huruf-hurufmu seperti akar yang tumbuh
di tanah yang gersang.
“masihkah kau hijau?” tanyamu pada ladang,
tempat langkah kecilmu berlari.
di luar, angin kota berhembus kering,
membawa debu yang menempel di kulit.
tapi suratmu tidak sampai ke ladang,
karena ladang hanya mengenal suara hujan
dan aroma pagi yang kau tinggalkan.
Canberra, Australia, 2012
/7/
Tawa yang Tertinggal di Pintu
Oleh: Leni Marlina
pintu itu tidak lagi terbuka untukmu.
engselnya berkarat,
seperti kenangan yang menunggu terlalu lama.
di balik pintu itu,
kau pernah mendengar tawa ibu,
tawa yang hangat seperti bara di tungku.
sekarang, tawa itu seperti bayangan
yang bergulung dalam kabut,
menjauh setiap kali kau mendekat.
Canberra, Australia, 2012
/8/
Malam di Kampung
Oleh: Leni Marlina
kau bermimpi tentang kampung halaman,
tapi dalam mimpimu,
jalan-jalan berubah menjadi aliran sungai,
dan rumah-rumah tenggelam di dalamnya.
apa ini kampungmu?
atau hanya kenangan yang salah membaca peta?
langitnya terlalu gelap,
tidak ada bulan yang menggantung di atas sawah.
kau mencari arah,
tapi setiap langkah membawamu lebih dalam
ke kampung yang hanya hidup di mimpimu.
Canberra, Australia, 2012
/9/
Di Antara Buku dan Doa
Oleh: Leni Marlina
Di sudut kamar,
kau dikelilingi buku-buku yang bisu.
Kau membaca kata demi kata,
tapi tidak ada yang membawamu pulang.
Doa yang kau bisikkan setiap malam,
mengalir seperti sungai kecil,
mengikis kerikil di hatimu.
Tapi sungai itu tidak pernah sampai
ke tanah di mana pohon-pohon pisang
masih menunggu namamu.
Canberra, Australia, 2012
/10/
Cahaya di Balik Tirai
Kau menarik tirai,
mencari cahaya yang seperti di kampungmu.
Di sini, lampu-lampu bersinar terlalu terang,
seperti mata yang tidak pernah berkedip.
Di kampungmu,
cahaya datang dari lentera kecil,
menyala pelan di meja makan.
Kau menutup tirai,
bukan karena takut pada terang,
tapi karena ingin mengingat gelap yang hangat
di bawah atap tua itu.
Canberra, Australia, 2012
Catatan
Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis mengikuti International ACLAR International Conference on Children’s Literature di Canberra dan saat menjalani program master of Writing and Literature di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia.
Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Saat ini, Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association.
Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): 1. https://shorturl.at/2eTSB; 2. https://shorturl.at/tHjRI; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.
























