
Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang): “Mata Pena Para Guru”
/1/
Mata Pena Para Guru
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku yang sedang menulis di sana,
Di ujung pena yang engkau genggam erat,
Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman.
Kata-katamu mengalir seperti sungai kecil,
Menghantarkan kami menuju lautan pengetahuan.
Pena itu bukan sekadar alat,
Ia adalah pedang dalam peperanganmu melawan kebodohan,
Menebas duri ketidakpahaman yang melilit pikiran kami.
Kertas-kertas lusuh menjadi medan pertempuran,
Dan tinta hitam adalah darah perjuanganmu.
Aku melihat tanganmu gemetar,
Bukan oleh usia,
Tapi oleh beratnya mimpi yang engkau taruh pada kami,
Yang sering kali lupa bahwa langkah kami adalah jejakmu.
Engkau terus menulis, meski malam datang tanpa bintang,
Dan harimu hanya dihias bayangan lelah.
Namun engkau tidak pernah menyerah,
Karena engkau tahu, semua kalimat hasil torehkan,
Menjadi obor kecil yang kami bawa,
Menerangi jalan yang akan kami tapaki.
Jakarta, 2004
/2/
Derap di Ruang Sunyi
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku yang penuh wibawa dan positifnya aura,
Di ruang sunyi ini, hanya suaramu yang menembus udara,
Lembut, tapi tegas seperti angin di pagi hari.
Langkah kakimu bagaikan denyut waktu,
Menghitung setiap detik pelajaran yang engkau berikan.
Engkau bergerak di antara meja-meja kami,
Seperti matahari yang menyentuh setiap sudut bumi,
Menghangatkan kami yang beku oleh ketidaktahuan.
Papan tulis bagaikan cerminan dirimu,
Kosong di awal, penuh dengan kehidupan di akhir.
Setiap garis putih dari kapur bagaikan keringatmu,
Yang engkau habiskan untuk membentuk kami,
Seperti pemahat yang tak pernah menyerah pada batu keras.
Aku melihat peluh di dahimu,
Cermin dari perjuangan yang tak terlihat, tapi sangat dekat.
Jakarta, 2004
/3/
Jendela di Langit
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku dimanapun dirimu berada,
Engkau bagaikan jendela yang terbuka di cakrawala,
Menyuguhkan pemandangan pengetahuan yang tak pernah kulihat.
Dari sana, aku menyaksikan awan konsep dan ide baru,
Menggantung rendah, siap untuk kuambil.
Engkau bagaikan langit,
Yang tidak pernah marah meski sering kali kami lupa,
Bahwa langit biru itu adalah hadiah dari kesabaranmu.
Hujanmu turun, membawa hikmah,
Namun kami sering kali lupa membuka pintu hati.
Ketika kami bertanya, “Mengapa engkau terus memberi?”
Engkau hanya tersenyum,
Seperti pohon besar yang tak pernah lelah memberikan buahnya,
Meski akarnya terkoyak oleh angin zaman.
Dan ketika aku akhirnya mengerti,
Aku sadar, setiap pertumbuhan kami adalah doa yang kau panjatkan,
dan ilmu yag engkau wariskan.
Jakarta, 2004
/4/
Pelita yang Tak Padam
Oleh: Leni Marlina
Wahai guru yang kami banggakan,
Di tengah badai kebingungan,
Engkau berdiri seperti pelita kecil,
Menerangi jalan yang sering kali terlalu gelap untuk kami lihat.
Api itu redup sesekali,
Namun tak pernah padam,
Karena engkau tahu, di balik setiap kegelapan,
Ada mata yang mencari cahaya.
Aku melihat lelah di wajahmu,
Seperti bulan yang terus bersinar meski malam semakin pekat.
Engkau terus bertahan,
Membakar dirimu perlahan demi kami.
Setiap pelajaran yang engkau ajarkan,
Menjadi percikan kecil yang menyalakan obor kami.
Dan meskipun kami sering lupa akan nyala itu,
Engkau tidak pernah berhenti,
Karena dirimu percaya, suatu hari nanti kami akan menjadi bintang,
Menyinari langit yang pernah engkau temani.
Jakarta, 2004
/5/
Di Balik Papan Hitam
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku, masih ingatkah engkau ketika melangkah di lorong-lorong sekolah?
Lalu masuk kelas melihat kami dengan tatapan awal yang kosong?
Papan hitam di depan kami bagaikan kanvas kosong,
Dan engkau adalah sang pelukisnya.
Dengan kapur putih yang sederhana,
Engkau menciptakan dunia baru untuk kami jelajahi.
Setiap garis yang kau tarik,
menjadi sungai pengetahuan yang mengalir ke hati kami.
Namun kami tahu, di balik gambarmu di papan tulis itu,
Ada malam panjang yang engkau korbankan,
Dan mimpi yang engkau gantungkan pada tali rapuh harapan kami.
Kapur itu terkikis,
Seperti waktu yang engkau habiskan untuk kami.
Namun engkau tidak pernah mengeluh,
Karena engkau percaya,
Semua goresan di papan tulis hitam itu, adalah awal dari lukisan besar kami di masa depan.
Jakarta, 2004
/6/
Tanah yang Tak Pernah Lelah
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku yang hampir tak pernah mengenal lelah,
Engkau bagaikan tanah yang menerima setiap langkah kami,
Yang memberi pijakan meski sering kali terluka.
Kami menanam mimpi kami di dadamu,
Dan engkau menyiraminya dengan air kesabaran,
Membiarkan kami tumbuh tanpa menuntut balasan.
Tanah itu tidak pernah mengeluh,
Meski sering kali diinjak tanpa rasa syukur.
Aku melihatmu, guruku,
Menerima setiap beban kami dengan senyuman kecil,
Seolah mengatakan,
“Kalian adalah alasan aku tetap bertahan.”
Jakarta, 2004
/7/
Hujan dalam Kelas
Oleh: Leni Marlina
Wahai guru yang berjuang untuk mencerdaskan,
Setiap kata yang engkau ucapkan bagaikan hujan,
Turun perlahan, membasahi kami yang kering akan pengetahuan.
Namun kami sering kali lupa membuka payung,
Membiarkan tetesan itu berlalu begitu saja.
Engkau terus berbicara,
Seperti awan yang tak pernah habis menurunkan hujan.
Dan ketika kami akhirnya mendengarkan,
Kami merasa hidup lebih dari sekadar bernapas.
Jakarta, 2004
/8/
Kompas dalam Kabut
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku yang berjiwa lapang dan berpengetahuan luas,
Engkau bagaikan kompas di tengah kabut ketidaktahuan kami,
Menunjukkan arah meski sering kali kami ragu.
Meski badai mencoba memutar jarum itu,
Engkau tetap setia,
Mengarahkan kami pada tujuan yang sebenarnya.
Semua arahanmu menjadi doa yang engkau bisikkan,
Berharap kami menemukan jalan yang benar.
Dan meskipun sering kali kami tersesat,
Engkau tetap menunggu, memberikan petunjuk kembali ke jalan yang benar.
Jakarta, 2004.
/9/
Api yang Menghangatkan
Oleh: Leni Marlina
Guruku yang aku syukuri,
Engkau bagaikan api kecil di sudut kelas,
Menghangatkan kami yang kerap menggigil ketakutan.
Api itu membakar perlahan,
Namun cukup untuk memberi kami keberanian.
Engkau tahu, di balik nyalamu itu ada hidupmu yang kau korbankan.
Namun engkau tidak pernah meminta apa pun,
Hanya ingin kami tumbuh dalam cahaya yang engkau beri.
Jakarta, 2004
/10/
Matahari di Balik Awan
Oleh: Leni Marlina
Wahai guruku yang selalu memotivasi dan menginspirasi,
Kadang engkau tersembunyi di balik awan keraguan,
Namun cahayamu selalu menembus,
Memberi kami alasan untuk terus melangkah.
Engkau bagaikan matahari yang tak pernah meminta balasan,
Hanya ingin kami tumbuh di bawah sinarmu.
Dan meski sering kali kami lupa bersyukur,
Kau tetap ada,
Mengiringi setiap langkah kami dengan doa tanpa suara.
Jakarta, 2004
Catatan
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2004. Sebagian puisi di kumpulan puisi di atas, ditulis sepulang penulis bersama 50 finalis mahasiswa berprestasi nasional, dari kegiatan mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di halaman istana negara Republik Indonesia.
Sebagian puisi lainnya ditulis usai penulis menerima penghargaan sebagai Terbaik Pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (MAWAPRES) atas nama Universitas Negeri Padang tahun 2004 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.
Kumpulan puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Saat ini, Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association.
Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.
























