• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, Juni 11, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang): “Mata Pena Para Guru”

25 November 2024
in Sastra
Reading Time: 5min read
Views: 638
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina “Mata Pena Para Guru”. (Foto : Starcom Indonesia’s Artwork No. 282 by AI)

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang): “Mata Pena Para Guru”

/1/

Mata Pena Para Guru

Lihat Juga

Cerpen Ilhamdi Sulaiman; “Anak-anak Uwo Kardi”

Cerpen Ilhamdi Sulaiman; “Anak-anak Uwo Kardi”

10 Juni 2026
30
Novel Horor Penulis Muda Faaiz “Jejak Dari Yang Tak Terlihat” Mulai Jadi Perbincangan

Novel Horor Penulis Muda Faaiz “Jejak Dari Yang Tak Terlihat” Mulai Jadi Perbincangan

24 Mei 2026
26
Selamat Jalan Maestro Tari

Selamat Jalan Maestro Tari

12 Februari 2026
70

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku yang sedang menulis di sana,
Di ujung pena yang engkau genggam erat,
Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman.

Kata-katamu mengalir seperti sungai kecil,
Menghantarkan kami menuju lautan pengetahuan.

Pena itu bukan sekadar alat,
Ia adalah pedang dalam peperanganmu melawan kebodohan,
Menebas duri ketidakpahaman yang melilit pikiran kami.

Kertas-kertas lusuh menjadi medan pertempuran,
Dan tinta hitam adalah darah perjuanganmu.

Aku melihat tanganmu gemetar,
Bukan oleh usia,
Tapi oleh beratnya mimpi yang engkau taruh pada kami,
Yang sering kali lupa bahwa langkah kami adalah jejakmu.

Engkau terus menulis, meski malam datang tanpa bintang,
Dan harimu hanya dihias bayangan lelah.

Namun engkau tidak pernah menyerah,
Karena engkau tahu, semua kalimat hasil torehkan,
Menjadi obor kecil yang kami bawa,
Menerangi jalan yang akan kami tapaki.

Jakarta, 2004

/2/

Derap di Ruang Sunyi

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku yang penuh wibawa dan positifnya aura,
Di ruang sunyi ini, hanya suaramu yang menembus udara,
Lembut, tapi tegas seperti angin di pagi hari.

Langkah kakimu bagaikan denyut waktu,
Menghitung setiap detik pelajaran yang engkau berikan.

Engkau bergerak di antara meja-meja kami,
Seperti matahari yang menyentuh setiap sudut bumi,
Menghangatkan kami yang beku oleh ketidaktahuan.

Papan tulis bagaikan cerminan dirimu,
Kosong di awal, penuh dengan kehidupan di akhir.

Setiap garis putih dari kapur bagaikan keringatmu,
Yang engkau habiskan untuk membentuk kami,
Seperti pemahat yang tak pernah menyerah pada batu keras.

Aku melihat peluh di dahimu,
Cermin dari perjuangan yang tak terlihat, tapi sangat dekat.

Jakarta, 2004

/3/

Jendela di Langit

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku dimanapun dirimu berada,
Engkau bagaikan jendela yang terbuka di cakrawala,
Menyuguhkan pemandangan pengetahuan yang tak pernah kulihat.
Dari sana, aku menyaksikan awan konsep dan ide baru,
Menggantung rendah, siap untuk kuambil.

Engkau bagaikan langit,
Yang tidak pernah marah meski sering kali kami lupa,
Bahwa langit biru itu adalah hadiah dari kesabaranmu.
Hujanmu turun, membawa hikmah,
Namun kami sering kali lupa membuka pintu hati.

Ketika kami bertanya, “Mengapa engkau terus memberi?”
Engkau hanya tersenyum,
Seperti pohon besar yang tak pernah lelah memberikan buahnya,
Meski akarnya terkoyak oleh angin zaman.

Dan ketika aku akhirnya mengerti,
Aku sadar, setiap pertumbuhan kami adalah doa yang kau panjatkan,
dan ilmu yag engkau wariskan.

Jakarta, 2004

/4/

Pelita yang Tak Padam

Oleh: Leni Marlina

Wahai guru yang kami banggakan,
Di tengah badai kebingungan,
Engkau berdiri seperti pelita kecil,
Menerangi jalan yang sering kali terlalu gelap untuk kami lihat.

Api itu redup sesekali,
Namun tak pernah padam,
Karena engkau tahu, di balik setiap kegelapan,
Ada mata yang mencari cahaya.

Aku melihat lelah di wajahmu,
Seperti bulan yang terus bersinar meski malam semakin pekat.

Engkau terus bertahan,
Membakar dirimu perlahan demi kami.

Setiap pelajaran yang engkau ajarkan,
Menjadi percikan kecil yang menyalakan obor kami.

Dan meskipun kami sering lupa akan nyala itu,
Engkau tidak pernah berhenti,
Karena dirimu percaya, suatu hari nanti kami akan menjadi bintang,
Menyinari langit yang pernah engkau temani.

Jakarta, 2004

/5/

Di Balik Papan Hitam

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku, masih ingatkah engkau ketika melangkah di lorong-lorong sekolah?
Lalu masuk kelas melihat kami dengan tatapan awal yang kosong?

Papan hitam di depan kami bagaikan kanvas kosong,
Dan engkau adalah sang pelukisnya.
Dengan kapur putih yang sederhana,
Engkau menciptakan dunia baru untuk kami jelajahi.

Setiap garis yang kau tarik,
menjadi sungai pengetahuan yang mengalir ke hati kami.

Namun kami tahu, di balik gambarmu di papan tulis itu,
Ada malam panjang yang engkau korbankan,
Dan mimpi yang engkau gantungkan pada tali rapuh harapan kami.

Kapur itu terkikis,
Seperti waktu yang engkau habiskan untuk kami.
Namun engkau tidak pernah mengeluh,
Karena engkau percaya,
Semua goresan di papan tulis hitam itu, adalah awal dari lukisan besar kami di masa depan.

Jakarta, 2004

/6/

Tanah yang Tak Pernah Lelah

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku yang hampir tak pernah mengenal lelah,
Engkau bagaikan tanah yang menerima setiap langkah kami,
Yang memberi pijakan meski sering kali terluka.

Kami menanam mimpi kami di dadamu,
Dan engkau menyiraminya dengan air kesabaran,
Membiarkan kami tumbuh tanpa menuntut balasan.

Tanah itu tidak pernah mengeluh,
Meski sering kali diinjak tanpa rasa syukur.
Aku melihatmu, guruku,
Menerima setiap beban kami dengan senyuman kecil,
Seolah mengatakan,
“Kalian adalah alasan aku tetap bertahan.”

Jakarta, 2004

/7/

Hujan dalam Kelas

Oleh: Leni Marlina

Wahai guru yang berjuang untuk mencerdaskan,
Setiap kata yang engkau ucapkan bagaikan hujan,
Turun perlahan, membasahi kami yang kering akan pengetahuan.

Namun kami sering kali lupa membuka payung,
Membiarkan tetesan itu berlalu begitu saja.

Engkau terus berbicara,
Seperti awan yang tak pernah habis menurunkan hujan.

Dan ketika kami akhirnya mendengarkan,
Kami merasa hidup lebih dari sekadar bernapas.

Jakarta, 2004

/8/

Kompas dalam Kabut

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku yang berjiwa lapang dan berpengetahuan luas,
Engkau bagaikan kompas di tengah kabut ketidaktahuan kami,
Menunjukkan arah meski sering kali kami ragu.

Meski badai mencoba memutar jarum itu,
Engkau tetap setia,
Mengarahkan kami pada tujuan yang sebenarnya.

Semua arahanmu menjadi doa yang engkau bisikkan,
Berharap kami menemukan jalan yang benar.

Dan meskipun sering kali kami tersesat,
Engkau tetap menunggu, memberikan petunjuk kembali ke jalan yang benar.

Jakarta, 2004.

/9/

Api yang Menghangatkan

Oleh: Leni Marlina

Guruku yang aku syukuri,
Engkau bagaikan api kecil di sudut kelas,
Menghangatkan kami yang kerap menggigil ketakutan.

Api itu membakar perlahan,
Namun cukup untuk memberi kami keberanian.

Engkau tahu, di balik nyalamu itu ada hidupmu yang kau korbankan.

Namun engkau tidak pernah meminta apa pun,
Hanya ingin kami tumbuh dalam cahaya yang engkau beri.

Jakarta, 2004

/10/

Matahari di Balik Awan

Oleh: Leni Marlina

Wahai guruku yang selalu memotivasi dan menginspirasi,
Kadang engkau tersembunyi di balik awan keraguan,
Namun cahayamu selalu menembus,
Memberi kami alasan untuk terus melangkah.

Engkau bagaikan matahari yang tak pernah meminta balasan,
Hanya ingin kami tumbuh di bawah sinarmu.

Dan meski sering kali kami lupa bersyukur,
Kau tetap ada,
Mengiringi setiap langkah kami dengan doa tanpa suara.

Jakarta, 2004

Catatan

Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2004. Sebagian puisi di kumpulan puisi di atas, ditulis sepulang penulis bersama 50 finalis mahasiswa berprestasi nasional, dari kegiatan mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di halaman istana negara Republik Indonesia.

Sebagian puisi lainnya ditulis usai penulis menerima penghargaan sebagai Terbaik Pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (MAWAPRES) atas nama Universitas Negeri Padang tahun 2004 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

Kumpulan puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Saat ini, Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association.

Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.

 

Leni Marlina, Dosen FBS UNP. (Foto : Ist)
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kembali Aktif Bertugas, Bupati Agam AWR Pimpin Upacara Hari Guru Nasional

Next Post

Bahrum Rajo Sampono, Sosok Dibalik Bandara BIM

BeritaTerkait

Cerpen Ilhamdi Sulaiman; “Anak-anak Uwo Kardi”
Sastra

Cerpen Ilhamdi Sulaiman; “Anak-anak Uwo Kardi”

10 Juni 2026
30
Novel Horor Penulis Muda Faaiz “Jejak Dari Yang Tak Terlihat” Mulai Jadi Perbincangan
Sastra

Novel Horor Penulis Muda Faaiz “Jejak Dari Yang Tak Terlihat” Mulai Jadi Perbincangan

24 Mei 2026
26
Selamat Jalan Maestro Tari
Sastra

Selamat Jalan Maestro Tari

12 Februari 2026
70
Puisi Era Nurza: “Saat Terang Dipaksa Pergi”
Sastra

Puisi Era Nurza: “Saat Terang Dipaksa Pergi”

27 Januari 2026
67
Puisi Era Nurza: “Jejak Sukses Berlanjut”
Sastra

Puisi Era Nurza: “Jejak Sukses Berlanjut”

21 Januari 2026
49
Puisi Era Nurza: “Suara Siswa di Bangku Belakang”
Sastra

Puisi Era Nurza: “Suara Siswa di Bangku Belakang”

20 Januari 2026
82
Next Post
Bahrum Rajo Sampono, Sosok Dibalik Bandara BIM

Bahrum Rajo Sampono, Sosok Dibalik Bandara BIM

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,554)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,471)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,746)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,451)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,879)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,370)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,821)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,634)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,130)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,224)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
175
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
359
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
503
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
240
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
120
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
159
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
136
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
197
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
131

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In